Monthly Archives: April 2009

[Sahabat Peduli] Life Skill Camp 2009

Assalamualaikum, sekedar menyampaikan amanah 

Pondok Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman, Parung – Bogor, Jawa Barat.

18 – 20 JULI 2009 

Lebih 40% penduduk Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan dengan beragam faktor penyebabnya, mulai dari keterbatasan akses, rendahnya pendidikan, budaya dan cara hidup, hingga yang terbaru disebabkan oleh politik. Kemiskinan pun berdampak pada banyak sektor dari kehidupan seseorang, kesempatan mengenyam pendidikan lebih tinggi hanyalah satu akibat yang ditimbulkan. 

Permasalahan yang seakan tak kunjung selesai di negeri ini adalah kemiskinan, rendahnya pendidikan, hingga keterbatasan akses dan kesempatan untuk menciptakan perubahan hidup. Permasalahan ini seperti siklus yang terus berputar-putar di tempat yang sama, mengkerangkeng orang-orang yang sama hingga keturunannya. Yang dibutuhkan mereka adalah kekuatan untuk memutus rantai siklus tersebut agar bisa keluar dari keterpurukan, agar tak selamanya berlindung di balik ketidakmampuan atas nama kaum dhuafa dan segera mengubah diri menjadi orang-orang yang tak rela menengadahkan tangan. 

Life Skill Camp (LSC), sebuah program yang digagas Yayasan Sahabat Peduli (SP) untuk membantu anak-anak dengan keterbatasan kesempatan itu agar memiliki mental pemimpin, sikap disiplin dan keinginan kuat untuk mengubah jalur hidupnya ke arah yang lebih baik. Dalam program ini, para peserta yang diambil dari anak-anak yatim, anak jalanan dan kaum dhuafa akan diberikan pelatihan secara singkat tentang kepemimpinan dan kewirausahaan untuk membuka cakrawala baru bagi mereka agar melihat dunia wirausaha sebagai satu alternatif terbaik bagi masa depan mereka. 

Program yang dikemas dalam setting camp ground di alam terbuka untuk melanjutkan tradisi hidup sederhana dan disiplin, bermental kuat serta memiliki visi untuk sebanyak-banyaknya menciptakan peluang bagi dirinya sendiri, acara ini akan menghadirkan para pembicara sesuai kepakarannya dalam kepemimpinan, kewirausahaan dan keterampilan khusus yang bakal menjadi alternatif pilihan setiap peserta untuk berkarya. 

Maka, kami Yayasan Sahabat Peduli (SP), mengajak siapapun untuk bersama-sama memberikan kesempatan terbaik bagi saudara-saudara kita untuk memiliki kekuatan memutus rantai kemiskinannya, agar mampu mengubah jalur hidupnya menjadi lebih baik untuk dirinya dan generasi berikutnya. 

Life Skill Camp (LSC) Angkatan I tahun 2009 ini akan digelar pada tanggal 18 – 20 Juli 2009 bertempat di Pondok Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman. Jl. Nurul Iman, desa Waru Jaya, Parung, Bogor, Jawa Barat. Target peserta dari angkatan I ini adalah 350 peserta dengan kualifikasi anak usia sekolah SMA atau 17 – 19 tahun dari Jabodetabek. Sahabat Peduli menargetkan sepanjang 2009 bisa menyelenggarakan LSC sampai angkatan ke III dengan target 1.000 peserta. 

Tentu saja, tanpa kerja sama dan sinergi yang baik dari segenap mitra, relawan dan stakeholder strategis program mulia ini akan sulit terwujud. Untuk informasi lebih lanjut, silahkan menghubungi program manager LSC, Farida Lukitaning

****

Yayasan Sahabat Peduli merupakan suatu wadah legalitas yang berawal dari kumpulan para relawan yang tergabung di komunitas Relawan Pelangi. 

Visi : Berbagi Peduli Untuk Generasi Mandiri. 

Sekretariat : Jl. Swakarya Bawah no. 23 RT 04/03, 
Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan

Akta Notaris : No. 25, tanggal 19 Februari 2009

Penanggungjawab : Bayu Gawtama (0852 1906 8581)

Email : info@sahabatpeduli.org
sahabat.peduli@yahoo.co.id
Web : http://www.sahabatpeduli.org

Untuk info lebih lanjut, silahkan bergabung dengan milis Relawan Pelangi

Milis: http://groups.yahoo.com/group/relawan_pelangi/

Rekening Bank: 

Bank Syariah Mandiri a/c 004 016 800 4 atas nama Yayasan Sahabat Peduli

“Sebagian orang hanya bisa menunggu kesempatan, sebagian lagi bisa menciptakan kesempatan, namun sebagian kecil saja yang mau memberi kesempatan” (Gaw)

Iklan

[Kisah dan Hikmah} Nenek yang lumpuh

Alkisah, ada seorang anak perempuan kelas 2 SMA yang selalu bertugas merawat neneknya yang lumpuh.  Sang nenek hanya bisa tinggal di tempat tidurnya. Anak perempuan itulah yang selalu merawat si nenek, memandikannya, membersihkan tubuhnya, memberinya makan dan minum dan sebagainya.  
Lama-kelamaan si anak merasa jenuh.  Dia protes kepada ibunya, “Ibu, kenapa harus selalu saya yang merawat nenek, kenapa bukan Ibu, ayah atau kakak?”. Ibunya hanya bisa menjawab “Nak, merawat nenekmu itu pahalanya besar, tabah dan sabar ya”.  Biasanya setelah itu, si anak kembali mendapatkan semangat untuk merawat neneknya.  
Namun, lama kelamaan nasihat tersebut tidak mempan lagi.  Walaupun tidak diucapakan, si anak seakan-akan ingin mengetahui mengapa dialah yang paling harus repot merawat neneknya, bukan anggota keluarga yang lain.  
Ibunya akhirnya menyadari bahwa tidak ada lagi gunanya menyembunyikan kebenaran dari anaknya.  Dia meneguhkan ahtinya dan bercerita “Nak, pada saat engkau berumur 6 bulan, rumah kita kebakaran.  Saat itu Ibu, ayah dan nenek berusaha menyelamatkanmu dan kakakmu.  Ibu berusaha menggendongmu dan ayah membawa kakakmu.  Namun, karena panik, yang ibu bawa bukan dirimu tetapi guling kecil.  Saat berada di luar, kami baru sadar bahwa engkau masih ada di lantai 2.”  
“Saat itulah tanpa dapat dicegah lagi, nenek masuk lagi ke dalam rumah, lalu naik ke lantai dua.  Karena tangga sudah terbakar habis, nenek tidak punya pilihan lain kecuali lompat dari balkon lantai dua sambil menggendongmu.  Yah, nenek lompat dari balkon karena ingin menyelamatkanmu.  Sejak saat itulah nenek lumpuh dan tidak bisa berjalan seperti sekarang ini.” lanjut sang ibu. 
Si anak menangis dan menyesal telah bertanya hal tersebut pada ibunya, sungguh dia tiada menyangka bahwa kelumpuhan neneknya adalah karena menyelamtakannya.  Sejak saat itulah, walaupun waktunya banyak tersita karena merawat si nenek, anak tersbut tiada menyesal.  Dia tahu bahwa dia bisa hidup seperti sekarang ini karena jasa besar sang nenek.  Seorang nenek yang mengorbankan kehidupannya demi cucunya.     
Sahabat sekalian, 
Terkadang kita enggan melakukan sesuatu karena paradigma kita tentang hal itu salah.  Terkadang kita tiada menyangka apa yang ada di sebalik hal-hal tersebut.  Perubahan paradigma yang dialami si anak dalam cerita di atas, bukan tidak mungkin pernah atau akan kita alami.  Hidup ini memang penuh kejutan, sebagai bukti betapa sedikitnya pengetahuan kita dibandingkan ilmu yang dimiliki Allah SWT.
Perlu kita ingat, bahwa paradigma adalah peta dan bukan teritori/daerah yang sebenarnya.  Sikap kita seringkali ditentukan karena paradigma yang salah terhadap suatu hal atau seseorang.  
Apabila paradigma kita tentang suatu hal, seperti keadaan atau pekerjaan, baik maka tentu kita akan melaksanakan hal, pekerjaan atau tugas itu dengan sebaik-baiknya.  Dengan jujur, serius, tekun, disiplin dan penuh integritas.  
Semoga bermanfaat
Sumber: Radio Dakta, disampaikan oleh Bapak Bagus Hernowo, Pesantren Entrepreneur Indonesia. 

[Kisah dan Hikmah] Berbincang santai dengan Setan

Aku menunggu, sambil duduk di atas sofa.  

Petir menyambar, hujan deras menyirami bumi. Aku merasa bagai dalam kisah-kisah horor victoria kuno. Yah, bisa dibilang saat ini adalah kisah horor, benar-benar horor.  

Aku memang menunggu seseorang, seseorang yang sebenarnya enggan untuk kutemui. dia adalah Setan. Namun, karena dia berjanji untuk memperbincangkan beberapa hal yang penting padaku, aku besedia menerimanya di rumahku. 

setelah cukup lama menunggu, sampai bosan sih sebenarnya, aku mendengar ketukan di pintu. Aku bergegas bangkit untuk menyambut tamuku itu.  

Di luar rumah, berdirilah seseorang yang ditutupi jubah berkerudung berwarna hitam. Kerudung itu menutupi wajahnya, menambah kesan angker dan misterius.  

“Eh, lo mau gw masuk atau biarin gw keujanan di sini” katanya ketus. 

Elo setan ya? masuk deh, gw udah sampai ngantuk nungguin lo” kataku tak kalah ketus.  

“Ha ha ha, gw kan datangnya menjelang tengah malam. Ngapain juga lo nunggu gw dari sore” ejek setan.  

Aku dan SEtan masuk ke rumah. Setan melihat-lihat keadaan rumahku dengan angkuh. “Jadi lu tinggal di sini?” tanya Setan mengejek. “Iya, emang kenapa? Lu bukannya udah tahu” kataku kesal.  

“Huh,dasar manusia, diajak basi-basi malah marah” jawab Setan.  

“Hebat juga koleksi buku lo” kata Setan seakan tak peduli pada kekesalanku. “iya, lo suka baca juga?”. “Hua ha ha ha ha” tawa setan semakin keras, “gak ada waktu gw. Lo kan tahu sendiri gw mesti ngajak manusia sebanyak2nya ke Neraka” 

“Btw, yang udah lo amalin berapa nih isi buku-buku?” tanya Setan. Aku hanya terdiam, pikiranku menerawang pada kehidupanku yang penuh kesia-sian, tidak seperti yang tertulis dalam buku-buku tersebut. “Bagoooooooooooooooooooos!!!!!” ejek Setan, “pantesan banyak teman-teman gw yang bilang bahwa mereka makan gaji buta selama ini. jadi buku-buku ini buat koleksi doang ya?????????”. Aku terdiam, tak kuasa aku mengiyakan, walau kenyataanya memang seperti itu.

Sambil menahan kesal dan jengkel, aku mendesah “katanya bincang santai, koq gw jadi jengkel gini sih??”.

“Lagian siapa suruh ngundang Setan” kata setan tertawa mengejekku.

Dia membuka jubahnya dan tampaklah tampangnya yang seram itu.  

“Ini wujud asli lo” tanyaku kemudian. “Ya enggaklah, buat apa sih lo tahu wujud asli gw? Gak ada gunanya deh” ejek Setan. 

Kami berdua akhirnya duduk di ruang tamu. Dia lalu duduk sambil menaikkan kaki ke atas meja. Gak sopan. Ya iyalah, namanya juga Setan.  

“Gimana kabar lo, tan?” kataku membuka pembicaraan.  

“Enak aja tan-tan, emangnya gw ketan” kata Setan jengkel. Dalam hati, aku mengumpat “Rasain :D”.  

“IYa deh, lu mau gw panggil apa?” kataku lagi. “panggil aja Setan. gak usah tahu lu nama asli gw, ntar gw diincar intel-intelnya Iblis lagi, gw udah melanggar peraturan tahu. Peraturan Iblis” kata Setan ketus sambil melotot, serem juga ya. Rupanya dia juga tidak terlalu menyukai atasannya itu, mirip dengan dunia manusia.  

“Lo mau minum apa?” tanyaku. “Gak usah, gw kan bukan bangsa manusia” kata Setan.  

“Ya udah, gw minum sendiri ya” kataku cuek. “Minum apa lo” tanya si makhluk terkutuk itu. “Kopi, lumayan buat iseng” kataku lagi.

“enak gak?” tanya Setan. “Ya enaklah, ngapain juga kalo gak enak gw minum” sahutku.  

“Itu dia sebabnya, enak. Rasanya enak. Bukankah kenikmatan di dunia bisa disimpulkan dalam satu kata, SENSASI. Inilah yang dicari oleh banyak orang di dunia ini, SENSASI. Yah, itu aja. 

“Seseorang dari Bangsa lo kan pernah bilang, kalau gw gak salah ada bukunya dalam koleksi buku lo. kata-katanya gini:

Sebetulnya bukan engkau, yang menarik perhatianku tetapi
sensasi, yang kuperoleh dengan mencintai engkau.

Pengakuan yang jujur kalau menurut gw.

Belum lagi tentang kebanggaan diri. Itu lebih asyik lagi buat bangsa kami. Kalau orang sudah diperbudak kebanggaan, susah deh jadi orang bener. Mulai dari skala tinggi kaya Firaun sampai Hitler sampai sekala kecil kaya orang-orang yang sekedar punya sedikit kelebihan lalu petantang petenteng kesana kemari. 

Ingat kan kutipan yang ini? Pasti ingat lah, lu kan suka baca. Baca doangs

In reality, there is, perhaps, no one of our natural passions so hard to subdue as pride. Disguise it, struggle with it, beat it down, stifle it, mortify it as much as one pleases, it is still alive, and will every now and then peep out and show itself; you will see it, perhaps, often in this history; for, even if I could conceive that I had compleatly overcome it, I should probably be proud of my humility.
[Thus far written at Passy, 1741] “

 

Kata Setan sok filosof.  

“Iya gw tahu, itu kan kata-kata Benjamin Franklin.  Itu kan kalau makanan dan minuman, kebanggaan dan lain-lain, kalau cinta gimana” tanyaku lagi.  

“Lo tahu, bohong itu yang namanya cinta pada pandangan pertama. Tergila-gila pada pandangan pertama, itu memang iya. Heh, percaya deh sama gw, itu cuma sensasi belaka. Gw udah banyak pengalaman menggoda yang lagi jatuh cinta. Lagipula gw tahu persis, gak ada sejarahnya cowok naksir cuma satu cewek. Iya kan???” kata setan lagi sambil menatapku dengan tajam. Seakan-akan ada pancaran api yang keluar dari matanya.  

Sensasi yang membuat lo kecanduan, bisa jadi lebih mengerikan daripada kecanduan rokok atau obat terlarang.” lanjutnya lagi. 

“Masak sih bisa lebih mengerikan daripada kecanduan obat terlatang” tanyaku heran.  

“Yah, naif banget nih anak. Lu kira penyebab kecanduan itu apa? Bukankah orang yang kecanduan rokok, narkoba dan sebagainya hakikatnya ingin melarikan dari sensasi yang tidak menyenangkan. Sehingga, sensasi tadi tertutupi oleh rasa atau sensasi bahan yang dimasukkan ke dalam tubuh orang tersebut. Gak harus bahan-bahan beracun, berbahaya dan terlarang sih. Makanan enak juga bisa gitu. kalau lo udah makan melebihi porsi normal lu, berarti jiwa elo yang sesungguhnya lu beri makan.” Kata setan serius.

“Memberi makan jiwa?” tanyaku heran. “Maksud gw, mengalihkan perhatian jiwa elu dari rasa sakit, bisa karena patah hati atau karena konflik, itu ke makan. Akhirnya, jiwa lo tetap kelaparan, ringkih dan tubuh lo jadi kekenyangan dan sakit-sakitan” kata setan.  

“Ok, selama ini lu cuma mengejar sensasi kan, sensasi pujian, sensasi kesenangan semata. Apa yang lu udah perbuat perbuat demi masa depan lo, kuliah lo, kerjaan lo dsb, dll. Terusin deh situ sendiri.” Lanjut setan.  
   
Sekali lagi, aku hanya bisa terdiam. Hanya terdiam. Aku merasa kata-kata Setan itu bagai tamparan keras di pipiku. 

“Kalau udah gitu, terus lo dapat penghargaan dong dari Iblis? Tanyaku lagi, ingin tahu.  

“ya belum lah, masih jauh. Kalau gw udah bisa bikin lo berbuat nekat, kaya menculik atau memperkosa cewek yang lo pengenin, apalagi sampai mati, baru deh gw dapat” jawab Setan seraya berdiri dan menekankan jari telunjuknya yang berkuku panjang itu ke dadaku. “Singkatnya penghargaan dari Iblis itu gw atau setan yang lain bisa dapat kalau dia menyebabkan seseorang melakukan dosa yang akibatnya gak bisa atau sulit sekali dikembalikan seperti semula. Biasanya sih dosa-dosa besar, seperti membunuh atau berzina. Orang kalau udah mati dibunuh kan gak bisa diidupin lagi. Orang yang sudah berzina, sulit sekali memperbaiki nama baiknya. Vonis sosial dari masyarakat, yaitu hancurnya nama baik, sudah cukup berat bagi mereka, sehingga ada yang sampai bunuh diri. Mati juga kan ujungnya. Mati dalam keadaan yang buruk, sangat buruk”.
Mata setan melotot saat mengucapkan kata-kata itu sambil menggerakkan tangannya melintasi tenggorokannya. Suatu ancaman yang serius, sangat serius.  

“Gila lo, kayaknya gak mungkin deh lo dapat penghargaan gara-gara gw” kataku menyanggah.  

“Oh ya?? Dalam sejarah manusia, bukankah pembunuhan pertama yang dilakukan kedua anak Nabi Adam adalah karena cinta kepada lawan jenisnya?? Apa sih di dunia ini yang tidak mungkin. Coba lo lihat lewat penemuan bangsa lo yang luar biasa itu, yang namanya internet, lo cari deh tentang pembunuhan. Dapat berapa banyak????” Setan seakan-akan menertawai kebodohanku.  

“Bagaimana dengan balas dendam” tanyaku lagi. Setan tersenyum licik “itu gw paling suka” katanya lagi.  

Coba aja sekarang, misalnya ada orang yang nyakitin elo, terus dengan kemampuan lo sekarang lo mau balas dendam, mau pake apa? Bagi gw gak penting, yang penting ada korbannya, ada yang mati. Orang yang nyakitin elu emang mungkin gak kenapa-napa, tetapi kan minimal elo mati su’ul khotimah dan bisa jadi ada orang-orang lain yang juga jadi korban. Seandainya ada, apa gak lu pikirin bahwa mereka itu adalah ayah, ibu, anak, saudara, teman atau apapun dari banyak orang di luar sana. Lalu bisa aja ada yang mau balas dendam lagi lalu dia juga membabi buta kaya elu. Korbannya gak tepat sasaran. Terus menerus begitu kaya ledakan atau reaksi berantai. Coba lu bayangin, benar-benar kami ini kaum setan makan gaji buta, kami tinggal ongkang-ongkang kaki melihat kalian pada saling bunuh. Gitu maksudnya.” Jelas Setan.  

“Apalagi kalau dalam rangka balas dendam, orang tersebut sampai minta bantuan dari dunia kami, tambah asyik tuh. Emang sih, kami-kami ini akan sedikit lebih sibuk. Maklum, kami kan harus manggil jin-jin yang punya spesialisasi di bidang itu. Tetapi gak apa-apa deh, memang itu kan profesi dan hobby kami?” tambah Setan lebih lanjut.  

Mau tidak mau rasa ngeri menjalari seluruh tubuhku. Siapakah di dunia ini yang tidak punya rasa dendam. Bukankah semua manusia sedikit banyak pernah disakiti. Bagaimana jika ada setan yang mendapat penghargaan langsung dari Iblis Laknatullah gara-gara ada anak manusia yang tidak bisa mengendalikan hawa nafsunya??? Bukankah setan adalah musuh kita yang nyata, tetapi kita masih mengikuti jalannya, bahkan mungkin membuatnya mendapat Iblis Award, penghargaan tertinggi di dunia setan. SEbesar apa dosa yang harus ditanggung orang itu di akhirat nanti? pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk dalam benakku dan dalam hatiku. Entah bakal dapat kujawab atau tidak.

“Gw mau tanya, setan bisa tobat gak sih?” tanyaku pada si makhluk terkutuk itu. “Bisa aja kalau dia mau. Setan jin kan sama aja dengan setan manusia kayak elu” jawab setan, gaya mengejeknya tidak juga hilang dari tadi. “Jin itu makhluk merdeka, sama dengan manusia. dia bisa jadi makhluk yang taat, bisa juga maxiat. bisa tunduk bisa juga ingkar. Kalau dia benar-benar tobat dan istiqomah dalam ketaatan, tentu aja dia pantas masuk surga. Kalau enggak, ya lu tahu sendiri.”  

“Lu gak takut masuk neraka?” tanyaku lagi. “elu sendiri gimana?” Setan balas bertanya. Aku terdiam, sesungguhnya aku takut sekali dibakar di sana selama-lamanya. Namun, seraya bercermin dari perbuatan dan kelakuanku selama ini, sungguh aku seakan tiada sedikitpun rasa takut pada hukuman abadi itu, bahkan seakan menganggapnya tidak ada. Setan tidak perlu menjawab pertanyaan terakhirku itu.

Aku mengantarkan Setan sampai ke depan pintu. Setan pun beranjak pergi dan menghilang. Dia pergi entah ke mana, masa bodo, aku tak merasa ingin tahu.  

Catatan: cerita ini 100 persen fiksi

Inspirasi:

Film:

Millenium the series, Episode ke berapa lupa

Bedazzled

Van Helsing

Buku: cerita-cerita Horor zaman Victoria, terutama,

The Strange case of DR Jekyll and Mr. Hyde

Frankenstein

The Masquarade of Red Death

Tulisan2 seperti: 

Tulisan mas Gaw tentang Iblis

Upacara pemakaman sang Kura-kura dalam DOA SANG KATAK 1, Anthony de Mello SJ, Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1996

ditambah pengalaman pribadi dengan diri sendiri

Semoga bermanfaat 

[Kisah dan Hikmah] Petani dan Kuda

Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang petani yang hidup sederhana.  Sang petani terkenal sebagai orang yang suka menolong orang lain.  
Walaupun tidak memiliko banyak harta benda, dia memiliki seorang anak lelaki yang tampan dan patuh.  Anak ini sangat berbakti pada orang tuanya.  Petani ini juga memiliki seekor kuda yang sangat bagus.  Kuda sang petani terkenal di seluruh negeri, tidak hanya di desanya.
Pada suatu hari, kuda petani ini hilang.  Rupanya, si kuda berhasil menendang pintu kandang yang sudah lapuk karena panas dan hujan hingga hancur berantakan.  Para tetangga, terutama mereka yang sudah pernah merasakan pertolongan dan kebaikan budi sang petani, berdatangan ke rumah beliau.  Mereka menyatakan perasaan turut bersedih atas kehilangan yang dialami sang petani.  namun, yang aneh sang petani justru tenang-tenang saja.  Dia berkata “saudara2 jangan sdih, belum tentu hal ini merupakan kemalangan bagi saya.  kita lihat saja nanti apa hikmah di balik semua ini”.  para tetangga sang petani pun pulang dengan gelengan kepala keheranan.  
Beberapa waktu kemudian, si kuda kembali ke rumah sang petani.  Si kuda tidak sendiri, namun dia juga membawa beberapa kuda liar dari jenis yang serupa ke rumah sang petani.  Para tetanggapun terheran-heran.  Mereka berkata “beruntung sekali sang petani, memang orang baik seringkali mendapat rezeki yang tidak terduga-duga”.  
Namun, jawaban sang petani kembali membuat para tetangga terheran-heran.  Sang petani malah berkata “jangan senang dulu saudara-saudara, kita tidak tahu apakah kedatang kuda-kuda liar ini merupakan kebaikan bagi saya atau bukan.  Kita lihat saja nanti, semoga semua ini baik adanya”.   
Beberapa hari kemudian, anak lelaki sang petani mencoba menaiki salah satu kuda liar tersebut.   Entah karena kurang berhati-hati atau si kuda yang memang belum cukup jinak, anak itu terjatuh dengan keras.  Walaupun nyawanya masih bisa diselamatkan, si anak menderita patah kaki yang parah.  Dia menjadi cacat seumur hidup dan harus menggunakan tongkat.  Para penduduk desa berdatangan ke rumah sang petani.  Mereka ingin menghibur keluarga petani yang sedang berduka itu. Tetapi apa jawab sang petani? Dia kembali berkata “saudara2 jangan sedih, belum tentu hal ini merupakan kemalangan bagi saya.  kita lihat saja nanti apa hikmah di balik semua ini”.  para tetangga tentu saja  hanya bisa geleng-geleng kepala keheranan.  
 
Waktu berlalu tanpa terasa.  Pada suatu hari, utusan dari kerajaan datang ke desa tersebut.  Mereka membawa pesan bahwa kerajaan itu dalam keadaan bahaya dan para pemuda diminta mendaftarkan diri sbagai prajurit perang. 
 Para penduduk harus merelakan anak-anak muda mereka berperang di garis depan, kecuali tentu saja si petani yang anaknya sekarang cacat itu.  
Setelah peperangan mereda, para penduduk desa itu berusaha mencari kabar putra-putra mereka.  Duka cita yang mendalam tidak dapat terhindarkan saat mereka mengetahui bahwa para pemuda dari desa mereka semuanya gugur di medan laga.  
Sehingga di desa itu, hanya tersisa satu pemuda cacat, anak dari sang petani.  
Memang terkadang, banyak diantara kita mengalami kesulitan mengambil hikmah dari kejadian-kejadian yang terjadi pada diri kita, baik yang buruk atau yang baik.  Kita hanya melihat bentuk luar dari kejadian itu, bukan esensi atau hikmah di baliknya.  Ada baiknya kita simak pesan Harun Yahya berikut ini
Unhappy, overly emotional and pessimistic people cannot appreciate the beauty and blessing of this world.  Though they may surrounded by countless examples of this beauty, they see only negative aspect of things, and become even more depressed.  However, God, in His mercy and compassion, created these blessings for the sake of human beings.  A believer keeps this idea at the forefront of his mind, and is grateful to God for His Blessings.

Harun Yahya, Romanticism: A Weapon of Satan, page 114-115
(diterjemahkan dan diterbitkan oleh Dzikra dengan Judul: Ancaman di balik Romantisisme)
Sebuah nasihat bagi diri sendiri, semoga bermanfaat untuk siapapun yang membaca 

[Sahabat] Persahabatan di atas Matras

Assalamualaikum, sudah lama tidak posting di Multiply nih, sekalian mau mengejar deadline menulis tentang sahabat, infonya di sini.

Zainal Alim Murtadho namanya, saya mengenalnya sejak kelas 5 SD. Saat itu saya baru saja pindah ke SD Negeri Menteng 03 pagi dari sekolah dasar saya yang pertama yaitu SD Kepodang yang terletak dekat masjid Agung sunda Kelapa. Kami cepat sekali akrab satu sama lain, mungkin karena kami punya minat dan hobby yang sama. Maklum namanya juga anak cowok, ya gak jauh-jauh deh dari Video Games.

Sejak masih jaman Sega Master System yang warnanya merah hitam itu, yang gambarnya masih sederhana banget, sampai yang mulai rada canggih seperti SEGA Genesis/Mega Drive atau Playstation. Permainan favorit kami ya itu, yang bertema tentang perkelahian, baik yang bekerja sama atau satu lawan satu. atau bermain dengan action figures GI Joe yang ternyat sama-sama merupakan mainan favorit kami. Setiap kali saya atau dia punya yang baru, .

Mungkin karena pengaruh permainan games atau film-film action yang beredar saat itu (yang ngetop taqhun 90-an kalau gak salah Van Damme ya)

Namun, momen-momen paling berkesan adalah saat kita sama-sama mengikuti olah raga beladiri Aikido. Waktu itu sekitar pertengahan dekade 90-an, kami semua sudah lulus SMA.

“Kenapa lo mau ikut Aikido, gara-gara nonton Steven Seagal ya?” tanya Mody, panggilan akrab saya pada dia. “enggak sih, kebetulan gw lihat di satu buku, ada orang bisa ngebanting orang lain dgn cuma megang tangan lawannya, gimana tuh” kata saya. Saat itu kami langsung praktek semampu kami di rumahnya, lumayan capek juga sih, kan saya belum siap mental tuk dibanting-banting, he he he.

tempat latihan waktu itu kami berada di suatu gedung departemen pemerintahan di daerah Lapangan Banteng. Sebleum berlatih, kami harus bekerja sama mengangkat matras yang lumayan banyak, tergantung pada jumlah peserta yang akan berlatih saat itu. Latihan dimulai dengan pemanasan, lalu peragaan teknik sejenak oleh pelatih. Lalu kami berpasangan melakukan teknik yang diperagakan itu, selama beberapa saat. Setelah itu, kami kembali ke tempat semula, sambil sebelumnya memberi penghormtan ala orang jepang kepada pasangan kami.

Lalu, setelah teknik yang lain diperagakan, kami berganti pasangan dan melakukan teknik yang lain tersebut. demikian berulang-ulang.

Terkadang latihan menjadi seru saat diadakan Jiyu Waza, alias sparing bebas. satu orang diserbu secara bergantian oleh para peserta yang lain. Tidak ada waktu untuk berpikir, hanya bisa bereaksi dan mengantisipasi serangan lawan secepat mungkin.

walaupun resminya kami mengikuti bela diri Aikido, namun di saat-saat matras yang sudah digelar belum digulung kembali, kami seringkali menjajal teknik-teknik beladiri yang lain. Terutama kalau para pelatih sedang tidak hadir, he he he.

Pada saat itu, Ultimate Fighting Championship (UFC) dan sejenisnya memang sedang booming di seluruh dunia. para penggemar bela diri tidak henti-hentinya memperbincangkan pertarungan gila-gilaan yang nyaris tanpa aturan tersebut. hampir segala cara bertarung dihalalkan, termasuk bergumul di matras/lantai, yang bahasa kerennya Grappling.

Saat masih ada matras yang tersisa, tentu merupakan suatu godaan besar untuk berguling-guling diatasnya sambil meniru para petarung UFC bergumul.

Pada suatu saat, saat sedang bergumul, saya mencoba menjebak dia dari posisi Guard (di bawah) sambil berusaha menyarangkan choke/cekikan, armbar atau apapun yang bisa saya lakukan untuk membuatnya menyerah. Namun karena posisi Guard saya sangat lemah, dia justru dengan mudah meng-counter dan membalikkan keadaan dengan teknik favorit para pegulat Smackdown, Scorpion Death Lock. tidak ada lagi pilihan, kecuali menepuk matras dengan keras tanda menyerah.

Namun, kemenangan dan kekalsahan tentu saja silih berganti datangnya. Suatu saat saya berhasil membanting dia ke matras dengan bantingan asal-asalan ala Judo. Saat di matras, saya berhasil membuatnya menyerah dengan teknik kuncian tangan/armbar. Namun, karena memang dari dasarnya belum terlatih grappling, maka yang dikunci malah pergelangan tangan lawan, dengan teknik yang lazim digunakan dalam Aikido.

Begitulah Grappling, pada saat lawan berada dalam posisi yang lebih superior atau bahkan sudah berhasil melakukan teknik submission (membuat lawan menyerah seperti kuncian atau cekikan) maka tidak ada lagi pilihan kecuali mengakui kekalahan.

Memaksakan diri untuk terus bertarung pada posisi seperti itu lebih merupakan kebodohan daripada keberanian

Grappling dan seni bela diri lainnya sesungguhnya mengajarkan kita untuk berjuang sampai batas kemampuan kita, sampai titik darah penghabisan. Namun, pada akhirnya, jika yang datang adalah kekalahan, maka saat itulah kebesaran jiwa kita dan kelapangan dada kita diuji, mampukah kita mengakui kekalahan kita sambil mengambil hikmah dan pelajaran sebanyak-banyaknya sebagai bekal kita menuju masa depan.

Sayang sekali, kenangan pergumulan di atas matras itu sulit untuk diulang kembali, mungkin karena kesibukan dan memang sudah lama gak ketemu.

Kepinginnya sih, nanti kalau film GI Joe: Rise of COBRA udah main, bisa nonton bareng sekalian mengenang masa lalu. Pingin tahu kalau film kartun jadi orang kaya apa