Monthly Archives: Agustus 2009

[Renungan Cinta] Memaafkan dengan Cinta

Sahabat,
Jika kita hanya ingin bersahabat dengan orang-orang yang tidak pernah melakukan kesalahan, niscaya kita tidak akan pernah menemukan seorang sahabatpun.

Sungguh, sahabat-sahabat kita adalah manusia biasa. Mereka juga berproses menjadi untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari, sama seperti kita. Bisa jadi, dalam perjalanan hidup ini, mereka mengecewakan kita. Mereka mungkin tidak seperti yang kita harapkan. Mereka adalah manusia-manusia yang juga terbuat dari tanah lempung sama dengan kita. Sungguh, manusia bukanlah malaikat-malaikat bersayap nan suci dan bersih dari segala kesalahan.

Bukankah para Nabi juga pernah melakukan kesalahan? Nabi Adam melanggar larangan Allah SWT untuk mendekati, apalagi menyentuh dan memakan, buah Khuldi. Nabi Adam lalu bertaubat mengakui kesalahannya, seraya mengakui dengan tulus bahwa dia telah berbuat zalim. Nabi Yunus meninggalkan tanggung jawab beliau berdakwah di Kota Ninive sehingga beliau dihukum dengan cara ditelan paus raksasa.

Sahabat,
Mungkin diantara kita ada yang bertanya, betapa enaknya mereka yang sudah melakukan kesalahan dimaafkan begitu saja. Sepintas memang begitu, namun sesungguhnya memaafkan itu adalah demi kebaikan diri kita sendiri.

Setidaknya ada 3 alasan memaafkan:

1. Ke-ikhsan-an Allah SWT:

kita ingin agar Allah SWT berbuat ikhsan pada kita, bukan sekedar adil. Ikhsan dalam bahasa Arab adalah kebaikan yang paling tinggi, yaitu berbuat baik kepada orang-orang yang sesungguhnya tidak pantas kita beri kebaikan, seperti orang yang zalim pada kita.

Jika keadilanNya ditegakkan, habislah kita semua masuk ke dalam Neraka, tidak ada diantara kita yang bakal bisa masuk surga. Bukan tidak mungkin, adanya orang-orang yang zalim pada kita itulah peluang kita berbuat baik bahkan pada mereka, agar Allah SWT berkenan memberi kepada kita balasan yang lebih baik daripada yang pantas kita dapat dengan amal sholeh kita selama ini.

2.Ketidaksempurnaan kita sendiri:

kita juga seringkali melakukan dosa dan kesalahan, kita perlu pengampunan. Jiwa manusia berkembang dari kanak-kanak menuju kedewasaan. dalam perjalanan itu, banyak kesalahan yang kita lakukan baik karena kelemahan manusiawi kita atau kurangnya kedewasaan karakter yang kita miliki. Steven Covey mendefinisikan kematangan sebagai keseimbangan antara keberanian dan tenggang rasa.

3. Demi kebaikan diri kita sendiri:

Bryan Tracy dalam buku Change your thinking change your life mengatakan bahwa suatu penjara memerlukan 2 macam orang, penghuni dan penjaga penjara. Apabila seseorang tidak memaafkan orang lain yang bersalah padanya, dia bagaikan penjaga penjara yang terpaksa menjaga tahanan yang seharusnya dia lepaskan sejak dulu. Sungguh sangat disayangkan, hidup yang hanya sekali dan sebentar ini disia-siakan hanya untuk hal seperti itu.

Tentu saja masih banyak alasan untuk tetap memaafkan mereka yang bersalah pada kita, namun ketiga alasan di atas cukup kiranya memotivasi kita untuk belajar memaafkan orang lain.

Sahabat,
Ujian persahabatan adalah menerima sahabat tersebut apa adanya, tidak menuntutnya untuk berubah. Inilah yang oleh Erich Fromm dalam The Art of Loving disebut sebagai Respect atau penghormatan, salah satu unsur terpenting dalam seni Mencintai. Meminta maaf dan memaafkan adalah bagian penting dari respect atau penghormatan tersebut.

Sahabat-sahabat kita bukanlah orang-orang yang sempurna, kita ada di dunia ini untuk menyayangi dan memberkahi mereka dengan cinta yang sempurna, cinta yang lebih banyak memberi dan memahami, cinta yang tidak menuntut balasan apa-apa. Cinta seperti ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah mampu berada dalam Modus Menjadi atau Being Mode, yaitu mereka yang mengidentifikasi diri dari apa yang mereka lakukan, bukan apa yang mereka miliki. Mode ini bertentangan dengan Having Mode, yaitu orang-orang yang mengidentifikasi diri dengan apa-apa yang mereka miliki. Lagipula, bagi kita orang-orang beragama, sudah jelas dalam keyakinan kita bahwa segala seuatu adalah milik Allah SWT, kita sesungguhnya tidak punya apa-apa dan tidak pernah pula memiliki apapun juga. Kita hanya diberi amanah, tidak lebih dari itu.

Memang, ada kalanya orang yang kita mintakan maaf itu tidak mau memaafkan kita. Tentu saja kita tidak harus memohon sampai menyembah-menyembah dan mengeluarkan air mata darah. Namun, secara diam-diam kita dapat terus menerus meningkatkan kemuliaan karakter dan tingkat kompetensi kita. Kita tetap belajar dari kesalahan-kesalahan kita.

walaupun ada yang enggan memaafkan kita, namun dia juga berhak mendapatkan keberkahan dari keberadaan kita. Walaupun mungkin dia tidak mengetahuinya, walaupun dia tidak peduli pada kita.


Aku tahu aku yang bersalah
aku tahu engkau belum mau memaafkanku
namun aku tetap mengambil pelajaran dari semua ini
sungguh, jasamu sangat besar dalam perkembangan diriku
Engkau adalah orang yang diutus untuk memperbaiki diriku
Aku berjanji jika suatu saat kita bertemu lagi,
aku sudah menjadi orang yang lebih baik daripada diriku sekarang ini

Terima kasih, engkau tetap sahabatku

“Allah SWT will never answer any prayer started with “why ………” but He will answer any prayer started with “How ……….” and He will answer them, not through words, but miracles”

semoga bermanfaat,

Muhammad Nahar, SEFTer angkatan 49

Iklan

[Renungan Cinta] Seni Mencintai dan eksisntensi diri

Mudahnya bilang cinta,
hanya karena suka
tak terasa terlena,
banyak hati kecewa
mungkin kau perlu waktu
tanyakanlah hatimu
bila terasa hampa
saat tiada berjumpa
pastilah itu cinta

Rafika duri

Alkisah, seorang pemuda menemui seorang ustadz yang dikenal cukup bijak dalam memutuskan perkara dan berkata “Pak ustadz, saya sudah tidak lagi mencintai istri saya. Rasa cinta itu sudah tidak ada lagi”

sang Ustadz berkata “Cintailah istrimu”

sang pemuda berkata lagi “Pak Ustadz, rasa cinta itu sudah tidak ada”

sang ustadz berkata lagi “Cintailah istrimu”

sang pemuda berkata lagi, mulai kehilangan kesabaran “Pak Ustadz, rasa cinta itu sudah tidak ada”

Sang ustadz lantas berkata “Tidak masalah apakah rasa cinta itu masih ada atau tidak, cintailah istrimu. Nak, sesungguhnya cinta itu hakikatnya memberi, bukan menerima. dengan mencintai, maka rasa cinta itu cepat atau lambat akan tumbuh kembali. Jangan hanya menjadikan cinta itu hanya sebagai perasaan yang menuntut untuk dipuaskan tetapi jadikanlah cinta itu sebagai kekuatan untuk memberi dan memahami”

Sang pemuda pun menganggukkan kepala, mengerti apa yang dikatakan sang ustadz

Sahabat,

Sungguh, di dunia ini tidak ada kata terindah sekaligus paling menyakitkan selain cinta. Namun pernahkah kita berintrospeksi cinta macam apakah yang kita punya?

Sebelum membahas tentang cinta itu sendiri, kita perlu mengetahui bahwa ada tiga tingkatan eksistensi diri manusia, yaitu materi, energi dan jiwa.

1. pada eksistensi diri tingkat materi, manusia terus menerus mencari sensasi kenikmatan sesaat. dia merasa terpisah dari lingkungannya dan orang lain. terkdang terjadilah lingkaran setan yang menjebak manusia sehingga sulit meningkat dari eksistensi materi. sensasi yang dia rasakan tidak memuaskan dia dan menyebabkannya mencari sensasi baru yang lebih dahsyat lagi. Sensasi itu bisa berupa sensasi fisik seperti makanan atau minuman, atau psikologis seperti pujian atau perhatian orang lain dsb. Orang yang masih dalam eksistensi materi seringkali merasa bosan dengan sensasi yang sudah ada dan ingin lebih lagi dan lagi. Manusia tingkat materi cenderung mengidentifikasikan dirinya dengan apa saja yang dia miliki. dalam istilah Mas Jamil, orang-orang ini memiliki mentalitas To Have.

2. pada eksistensi diri tingkat energi, manusia mulai meningkat kepekaannya dan merasakan kesatuan dan keterpautan dengan semesta dan sesamanya. bahwa dia adalah bagian tak terpisahkan dari lautan energi yang meliputi alam semesta ini. jeritan sesamanya yang terbenam dalam penderitaan mulai dia rasakan seakan-akan dia sendirilah yang mengalami penderitaan itu. Sebaliknya, apabila ada sesamanya yang mengalami kegembiraan, dia turut bergembira seakan-akan dia sendirilah yang mengalami kegembiraan itu.

3. pada eksistensi diri tingkat jiwa, manusia mulai merasakan benar kekuasaan Allah SWT. Pada tahap eksistensi inilah manusia dapat dengan efektif membangun karakternya. Dia percaya bahwa dengan bantuanNya, dia akan lebih kuat daripada apapun juga di dunia ini. Namun, dalam menggapai impiannya, dia tidak egois dan hanya memikirkan diri sendiri. dia memastikan bahwa impiannya itu akan membawa manfaat bagi sebanyak mungkin manusia dan makhluk yang lain di dunia ini. Pada saat inilah seseorang biasanya mendapat atau merasakan panggilan jiwanya, mencari makna hidup sesungguhnya kata Victor Frankl. Misi hidup menurut Steven Covey dan Proposal Hidup menurut Bapak Jamil Azzaini. Mereka memiliki mentalitas yang berbeda dengan orang-orang yang ada di tingkat materi yaitu mentalitas To Be atau mentalitas menjadi. Mereka secara proaktif mampu menulis ulang naskah kehidupan mereka agar sesuai dengan prinsip-prinsip kehidupan. Mereka mampu untuk menjadi lebih pengertian, lebih tekun, lebih sabar, lebih bersyukur dan sebagainya.

Maka,

Jika seseorang mencintai pasangannya karena keelokan parasnya, maka sesungguhnya orang itu masih berada di tingkat eksistensi materi. Hawa nafsu masih mendominasi orang yang cintanya seperti ini. Sesungguhnya yang dia cari hanyalah sensasi, kenikmatan sesaat. Baik sensasi yang bersifat fisik atau psikologis.

Jika seseorang mencintai pasangannya selama tingkat energinya kondusif, yaitu saat orang itu merasa nyaman saat mengajak pasangannya berinteraksi, maka sesungguhnya dia berada di tingkat eksistensi energi

Jika seseorang mencintai pasangannya tanpa syarat, hanya ingin memberkahinya sebagai seseorang yang dititipkan oleh Allah SWT kepadanya maka sesungguhnya dia telah berada di tingkat eksistensi jiwa. Dia telah memiliki karakter yang agung yaitu karakter yang terbentuk karena kebiasaan-kebiasaan baik yang selaras dengan syariat dan sunnatullah atau hukum-hukum alam.

Cinta pada eksistensi jiwa inilah yang mendorong seseorang mencintai yang dia cintai tanpa syarat, walaupun parasnya biasa saja atau tingkat energinya sedang kurang kondusif. Cinta yang lebih banyak mendengarkan, memahami, menghargai dan memberi. Cinta yang menghasilkan tabungan emosi positif yang jumlahnya tak terkira.

Sahabat,

ketika kita menikmati kopi instant, tentunya yang kita nikmati dan kita sukai adalah isinya. Diseduh air panas dan diminum perlahan-lahan, hmmmmmmmm nikmaat. bungkus aluminium foil-nya tentu saja kita buang, bukankah jarang sekali ada orang yang suka mengoleksi bungkus kopi

namun, apakah kita mencintai orang yang kita cintai dengan cara yang sama? kita hanya menyukai aspek-aspek tertentu darinya, apakah fisik atau parasnya saja atau tingkat energinya semata. Tentu saja tidak, jika ya, maka kita sesungguhnya tidak mencintai orang tersebut tetapi hanya sekedar menyukainya. Itu pun tidak 100 persen, tetapi hanya sebagian saja yang sesuai dengan selera kita.

Manusia adalah makhluk mulia yang harus dihargai secara keseluruhan. Manusia memang terdiri dari berbagai unsur seperti materi/fisik, energi dan jiwa. Namun, keseluruhan unsur-unsur itu membentuk satu kesatuan utuh yang disebut manusia. Hal ini tent tidak menafikan adanya kekurangan dalam diri manusia.

Karena itulah, mencintai seorang manusia haruslah dengan integritas pribadi yang kukuh. Cinta yang terpatrikan integritas di dalamnya akan menjadi benteng yang kukuh dan rumah yang nyaman bagi jiwa orang yang dicintai. Cinta yang benar-benar bisa dipercaya, tidak akan memanipulasi atau berbohong.

Erich Fromm mengatakan bahwa Cinta bukanlah sentimen yang dapat dinikmati oleh orang-orang tanpa pandang kedewasaan dan kematangan emosi. Fromm menyebut cinta seperti ini sebagai cinta produktif. Cinta yang oleh sang pencinta lebih difokuskan pada aktifitas, lebih memberi dan memahami secara proaktif. Memberi di sini tidak selalu dimaknai dengan materi, namun lebih kepada hal-hal yang bersifat energi atau spiritual seperti perhatian, pertolongan, dan menyediakan diri untuk dijadikan sandaran saat diperlukan.

Aktifitas dan pemberian itu didorong oleh adanya rasa kepedulian dari sang pencinta pada yang dicintainya. Kepedulian yang menimbulkan rasa tanggung jawab atau responsibility. Orang yang mencintai dengan cinta yang sejati tentu akan merespon dengan baik terhdap kebutuhan siapa saja yang dia cintai.

Namun, rasa tanggung jawab tersebut harus diimbangi dengan rasa hormat. Rasa hormat di sini adalah mencintai dengan membiarkannya tetap menjadi dirinya. Respon sang pencinta terhadap kebutuhan kekasihnya adalah respon yang tulus tanpa ada kepentingan terselubung di dalamnya. Respon yang tidak terdistorsi oleh keinginan atau ketakutan sang pencinta. “Aku mencintaimu sebagaimana engkau adanya, bukan sebagaimana yang aku inginkan”, demikian ki
ra-kira isi kepala dan hati mereka.

Rasa hormat seperti di atas hanya bisa didapatkan apabila sang pencinta adalah orang yang merdeka, yang telah mencapai kemerdekaan sepenuhnya. Private Victory dalam istilah Steven Covey.

Rasa hormat itu sendiri hanya bisa didapatkan apabila sang pencinta memiliki ilmu pengetahuan yang memadai, baik tentang cinta itu sendiri ataupun orang yang dicintai. Pengetahuan seperti ini, selain diperoleh dengan belajar melalui berbagai sarana seperti buku, internet dan sebagainya, juga bisa diperoleh dengna komunikasi yang jujur, efektif dan saling terbuka penuh kepercayaan. Keterbukaan seperti itu tentu menimbulkan kerentanan, dan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki keimanan yang kukuh.

Karena itulah Erich Fromm mengatakan bahwa cinta adalah aksi dari orang-orang yang memiliki keimanan yang kukuh dalam dirinya. Orang-orang yang imannya lemah, maka Cintanya juga lemah.

Love means to commit oneself without guarantee, to give oneself completely in the hope that our love will produce love in the loved person. Love is an act of faith, and whoever is of little faith is also of little love.
– Erich Fromm

Cinta seperti ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah mampu berada dalam Modus Menjadi atau Being Mode, yaitu mereka yang mengidentifikasi diri dari apa yang mereka lakukan, bukan apa yang mereka miliki. Mode ini bertentangan dengan Having Mode, yaitu orang-orang yang mengidentifikasi diri dengan apa-apa yang mereka miliki. Lagipula, bagi kita orang-orang beragama, sudah jelas dalam keyakinan kita bahwa segala seuatu adalah milik Allah SWT, kita sesungguhnya tidak punya apa-apa dan tidak pernah pula memiliki apapun juga. Kita hanya diberi amanah.

Maka, jelaslah kini bagi kita bahwa yang namanya cinta tidaklah identik dengan sekedar suka. Cinta adalah seni, yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang terlatih di dalam melaksanakan seni tersebut.

Sahabat,
Cinta bukanlah perkara remeh, mudah atau main-main. Cinta adalah Seni Maha Agung yang tidak semua orang bisa melakukannya. Orang harus belajar dan berlatih, bahkan kadang harus berjuang untuk mencintai dan mendapatkan cinta pada akhirnya.

Namun demikian, tidak pernah ada kata terlambat dalam belajar Seni mencintai. selama kita masih dianugerahi dan diamanahi kehidupan, maka saat itulah kita terus menerus belajar Seni mencintai, sehingga cinta yang indah itu akan menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan kita.

Cinta tanpa seni mencintai bagai kapal rapuh yang penuh kebocoran berlayar di lautan, setiap saat bisa kandas atau tenggelam. Cinta dengan seni mencintai bagai Bahtera Nabi Nuh yang tidak akan pernah tenggelam walaupun badai dahsyat menggulung lautan yang sedang dilayari.

Semoga bermanfaat

[SEFT] Praktek terapi SEFT di acara Life Skill Camp 1 – 2009

Cinta yang kuberi
sepenuh hatiku,
entah apa yang kuterima,
aku tak peduli,
aku tak peduli,
aku tak peduli

Ebiet G. Ade – Apakah ada bedanya

Sebagai salah satu panitia acara LSC kemarin, saya termasuk orang yang dapat banyak berkah. Saya mendapat banyak kesempatan untuk memperaktekkan teknik SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) yang saya pelajari beberapa waktu yang lalu. Para peserta dan sesama panitia banyak yang mengalami gangguan kesehatan yang biasa terjadi saat terselenggaranya acara yang cukup padat, seperti kelelahan, capek, pusing, mual atau sakit perut dan sebagainya. Aktifitas SEFTing tersebut saya lakukan di mushalla, barak para peserta dan tempat-tempat lain yang memungkinkan. Alhamdulillah, hasilnya lumaya buat pemula, ada penurunan rasa sakit walau belum hilang 100 persen

Yang menarik, ada rekan panitia yang sesudah pusingnya diterapi malah keliyengan kaya orang baru bangun tidur. Saya sendiri sempat bingung mau ngapain.

Untung saya segera ingat cerita seorang ibu polwan yang phobia duren. saat dia keliyengan hampir pingsan, Mas Faiz langusng menyuruhnya berdiri. Langsung rekan itu saya minta berdiri pelan-pelan. Alhamdulillah hal-hal yang tidak diinginkan tidak terjadi

benar kata Mas Faiz, little bit learning is dangerous

Dalam training SEFT, masalah ini dibahas dalam bagian “Handling the excessive intensity“.

Memang saya akui bahwa terapi SEFT yang saya lakukan masih kurang efektif dan menemui banyak kendala. Namun, itu semua adalah pelajaran agar bisa membuat “Art of delivery” dari terapi SEFT yang saya lakukan makin baik. saya juga mendapat kesempatan untuk mempelajari hal-hal yang membuat terapi SEFT menjadi kurang efektif.

Hal-hal tersebut antara lain:

1. Ada unsur unsur yang kurang terpenuhi baik dari unsur energy psychology atau spiritual

Unsur-unsur spiritual dalam SEFT antara lain:

A. Yakin: Yakin bukan pada terapis atau SEFT atau diri sendiri, namun pada kekuasaan Allah SWT yang Maha Menyembuhkan.

B. Khusuk: Konsentrasi, memusatkan perhatian pada rasa sakit. Energi tubuh manusia mengikuti jalan pikiran, jika pikiran diarahkan ke arah rasa sakit, ke sanalah energi mengalir.

C. ikhlas: menerima bahwa sakit itu adalah ketentuan Allah dan membiarkan yang lalu biarlah berlalu

D. pasrah: membiarkan apa yang akan terjadi, sembuh atau tidak kepadaNya.

E. syukur: dari satu hal yang tidak beres atau tidak sesuai keinginan kita, ada 10000000000000000001 bahkan lebih nikmat dari Allah SWT yang terkadang bahkan tidak kita sadari.

sedangkan unsur energy psychology yang perlu dipenuhi antara lain:

A. teknik yang benar dan tepat.

B. ketepatan akar masalah dalam set-up. sering kali, apa yang dirasakan bukanlah akar permasalahan yang sebenarnya tetapi merupakan gejala semata. Akar masalah seringkali merupakan masalah-masalah emosi.

2. Kurangnya kerja sama dengan terapis SEFT, baik dalam memenuhi unsur-unsur spiritual atau energy psychology: Untuk memaksimalkan efek terapi SEFT, terapis dan klien perlu bekerja sama. Keduanya perlu “men-spiritual-kan” dirinya semaksimal mungkin. Bila klien kurang “spiritual” maka terapis harus memaksimalkan sisi EFT atau sisi energy psychology agar terapi tetap memiliki efek yang diharapkan, termasuk mencari akar masalah yang sebenarnya. Apalagi jika klien merasa apatis sehingga enggan bersama terapis untuk mengucapkan repetitive power words “Ya Allah, saya ikhlas, saya pasrah” pada saat di-tapping.

3. Background klien, terutama para peserta yang berasal dari lingkungan menengah ke bawah. Erich Fromm menyebut masyarakat seperti ini sebagai receptive society, masyarakat yang lebih suka berharap dari luar, terutama dalam hal materi. Agama seringkali hanya berkisar pada masalah ritual semata dan bukan pada sisi spiritualitas. ditambah lagi mereka lebih percaya pada obat-obatan daripada energy therapy.

4. Adanya godaan dari pihak terapis untuk menggunakan SEFT untuk sarana mendongkrak Ego. seorang SEFTer bukanlah malaikat yang bersih dan suci. dia juga manusia biasa yang memiliki keinginan untuk dihargai. Namun, sudah selayaknya seorang SEFTer selalu berusaha kembali “men-spiritual-kan” dirinya agar efektifitas terapi yang dilakukan selalu meningkat.

Saya percaya SEFT adalah salah satu media yang efektif untuk membagi cinta pada sesama manusia. Erich Fromm mengatakan “Jika aku berkata aku mencintaimu, maka sesungguhnya aku mencintaimu dalam diri semua manusia, dalam diri semua yang hidup dan dalam diriku sendiri”. Fromm menyebut cinta seperti ini dengan istilah Brotherly Love. Bahwa sesungguhnya kekasihmu berada dalam diri setiap manusia dan engkau akan selalu bisa berbuat baik dan memberi kepada kekasihmu melalui diri setiap orang. Kekasihmu mungkin tidak mengetahui kebaikan-kebaikanmu dengan sesama manusia, mungkin dia tidak akan pernah tahu. Namun, pancaran energi kebaikan itu cepat atau lambat akan mencapainya, mengetuk lembut pintu hatinya dan bukan tidak mungkin keajaiban demi keajaiban akan terjadi. Keajaiban yang tidak dapat dijelaskan dengan logika atau kata-kata.

Semoga bermanfaat

Inspired by: SEFT, Erich Fromm – The Art of Loving dan The Sane Society,

Posting sambil dengerin Ebiet G. Ade – Apakah ada bedanya

Apakah ada bedanya hanya diam menunggu
dengan memburu bayang-bayang? Sama-sama kosong
Kucoba tuang ke dalam kanvas
dengan garis dan warna-warni yang aku rindui
Apakah ada bedanya bila mata terpejam?
Fikiran jauh mengembara, menembus batas langit
Cintamu telah membakar jiwaku
Harum aroma tubuhmu menyumbat kepala dan fikiranku
Di bumi yang berputar pasti ada gejolak
Ikuti saja iramanya, isi dengan rasa
Di menara langit halilintar bersabung
Aku merasa tak terlindung, terbakar kegetiran
Cinta yang kuberi sepenuh hatiku
Entah yang kuterima aku tak peduli,
aku tak peduli, aku tak peduli
Apakah ada bedanya ketika kita bertemu
dengan saat kita berpisah? Sama-sama nikmat
Tinggal bagaimana kita menghayati
di belahan jiwa yang mana kita sembunyikan
dada yang terluka, duka yang tersayat, rasa yang terluka

Klinik Quantum Touch Indonesia

Terapi Pengobatan Alternatif Quantum Touch

Pelita Dzatiyah

IQRA, Membuka Cakrawala Membangun Peradaban

Zen Flash

The journey of a 1000 miles begins with a single step

Love Books A Lot Indonesia

Read A Lot, Share A Lot.

Iyut Syfa

Your Coffeemate | A Little Wanderer

Yanuardi Syukur

Dimanapun Kamu Ditanam, Berkembanglah!

Bimosaurus

I'm My Own Enemy..

Firsty Chrysant

The Blue Chrysant Park ~ 파란 크리산 공원

Rek ayo Rek

Evia Koos

duaBadai

The alter ego of Disgiovery.com

E.L.O.K.46

Cogito Ergo Sum

faziazen

a Journal of MomPreneur

SR For SalmanRafan

cintai takdirmu~

Rumah Mbakje

mengeja kata membaca makna

Fathia's little cave

I sail the world through the words.

misbakhuddinmuhammad

Just another WordPress.com site

lijiun

Smile Always

Inilah Dunia Mita

menikmati detik demi detik hidup nie, karena terlalu indah jika hidup nie terlewatkan begitu saja

Merangkai Inspirasi

Bulu pena akan membawamu terbang, dengan kata-kata yang kau tulis seperti halnya bulu menerbangkan burung menuju langit. (Leonardo Da Vinci)

Sarah's World

Come, sit down here, and please enjoy my treats.

F I T T O Reflexology

100% Pijat Keluarga Sehat TERPERCAYA

Terapi Yumeiho Original Jepang

Dahsyatnya Terapi Yumeiho Untuk Mengatasi Sakit Tulang Pinggul

INSPIRASI DANU

sebuah ruang untuk saling berbagi inspirasi dan motivasi

Nataya Rizani

Memberi itu Menambah Rezeki

santipanon

Flowers are yellow, some are orange, and others are vermillion, serenepeacefulcalm

Blog Tausiyah275

Mari Berlomba-lomba Bermanfaat Bagi Orang Lain :-)

Sofistika Carevy

Another Carevy Karya

Berbagi itu Indah

Kesehatan dan pendidikan untuk kaum dhuafa dan yatim piatu

Keluarga Kecil Zawawi

Luthfi - Cindy - Aisyah

~Cruising through my Life~

journey since 1989...

hujantanpapetir

"Menulis adalah proses mengonversi perjalanan menjadi pengalaman."

Blog Prita

Campuran kenangan, buah pikir, dan hari-hari

mybeautterfly

My metamorphosis in heading back to Allah...

The hary.j.mansur Blog

My Life Documentation

Me and My Life

a dreamer, writer wanna be, and general practitioner

DUST

LEARN IN THE DESERT

Febriyan Lukito

sharing, caring and enriching life

Pray for Nasywa

Blog dukungan untuk kesembuhan Nasywa

Arip Yeuh!

Harimau berburu, burung terbang, dan protagonis kita ini terus menggerutu

Membaca Rindu

sebab menulis adalah kata kerja

waiting room

: dari senyap ruang tunggu, tempat aku menemukan-Mu

ANOTHER DAY

THE FICTION STORY

SAVING MY MEMORIES

another home of my mind

fluoresensi

Keinginan itu pasti terwujud, entah 1 tahun, 2 tahun hingga puluhan tahun kemudian. Bersabarlah #cumanmasalahwaktu

re-mark-a-blog

A Remarkable Blog by Justisia Nita

Majelis Ta'lim Basaudan

Tempat belajar Ilmu Agama Islam & Bahasa Arab

dewidyazhary

a silly-couple yarn