Monthly Archives: Desember 2009

[Sosial] Infotainment, pelacur dan pembunuh

Infotainment kembali naik daun, setelah seorang selebritis memaki-maki wartawan dan menyebut infotainment lebih rendah dari pembunuh dan pelacur. Memang, dalam keadaan emosi, orang bisa saja mengungkapkan perasaanya dengan berbagai cara. Mulai dari menyebutkan seluruh isi kebun binatang sampai yang lebih mengerikan lagi. Polemik dan konflik antara artis/seleb dan infotainment sudah bukan barang baru di negeri ini.

Si artis menyebut tayangan infotainment lebih rendah daripada pelacur atau pembunuh. Menarik untuk disimak, apa benar sih infotainment itu derajatnya sama atau bahkan lebih hina daripada pelacur dan pembunuh. Pelacur adalah orang-orang yang mencari uang dengan melacurkan diri. Dia menyediakan dirinya sendiri sebagai fasilitas pemuas hawa nafsu sexual lawan (atau mungkin sesama) jenisnya. Sedangkan pembunuh adalah orang yang membunuh orang lain.

Kalau definisinya seperti itu, semua orang juga sudah tahu

Namun apakah infotainment seperti itu, melacurkan diri dan membunuh?

Sebagian orang, terutama penggemar tayang tersebut, akan protes. Mereka akan mengatkaan bahwa Infotainment adalah karya jurnalistik juga. Namun, yang lain banyak yang mengecam dan mengatakan bahwa Infotainment tidak lebih dari sampah.

Salah satu tujuan orang melacurkan diri dan membunuh adalah untuk mendapatkan “easy money” atau mendapatkan uang banyak dengan cara yang mudah, enak dan tanpa kerja keras. Membunuh pun ada yang tujuannya seperti itu, walaupun tentu membunuh lebih sulit daripada melacur. Apalagi bagi seorang pembunuh profesional atau pembunuh bayaran. Hal itu sudah jadi makanan sehari-hari bagi sang pembunuh. Infotainment, walaupun tidak membunuh orang secara langsung, juga bisa berpotensi mematikan potensi manusia. Berapa banyak orang yang waktunya tersita untuk nonton infotainment, padahal dia bisa bekerja, belajar atau melakukan kegiatan-kegiatan bermanfaat lainnya.

Ekses negatif lain dari infotainment adalah orang-orang jadi ngiler, ngelihat gaya hidup glamor para selebritis. kadang gak sadar tuh seleb pada kaya ya juga gara-gara masyarakat itu sendiri yang haus hiburan dan doyan sensasi. Maklum, masih tingkat eksistensi diri materi. Jadi demennya hal-hal material aja. Berbicara tentang pelacuran, saya pernah membaca review di internet dari Novel berjudul Kupu Kupu Pelangi. Suatu novel yang menggambarkan realita pahit pada masyarakat kita.

“Cerita dalam novel ini adalah fiktif, namun apa yang terjadi di dalamnya merupakan bagian dari masyarakat kita. Meskipun terdengar janggal, beberapa daerah di Jawa Barat dan Jawa Tengah telah menjadi daerah pemasok ABG (Anak Baru Gede) untuk dijadikan pelacur…. Kenyataan yang paling menyesakkan adalah bahwa para orang tua banyak yang tega ‘menjual’ anak perempuannya. Gadis-gadis suci itu dianggap sebagai aset paling berharga bagi keluarga mereka…,” demikian penulis bertutur pada halaman Prolog.

Bukan tidak mungkin, dengan adanya infotainment yang gila-gilaan seperti sekarang ini, pelacuran dan pembunuhan seperti itu akan makin meluas dan menggila. Makin banyak orang yang tergiur mendapatkan uang dengan cara-cara yang mudah dan menyimpang, tanpa peduli konsekwensi jangka panjangnya. Namun, itulah manusia kapitalis, di belakang dikejar ketakutan kemiskinan, di depan tergiur melihat keuntungan yang melimpah apapun konsekwensi dan resikonya. Keadaan itu dimanfaat kembali oleh media-media kapitalis tersebut dengan menggelar berbagai tayangan-tayangan kriminal.

Manusia-manusia pengelola media kapitalis itu di dunia saja sudah dilanda kehidupan yang sempit. Mereka mungkin bukan tidak punya uang dan harta, bahkan melimpah. Namun, keberkahan bukan tidak mungkin jauh dari hidup mereka. Sehingga, rasa dahaga akan sensasi liar itu tak kunjung terpuaskan.

Saya bukan fans artis tersebut, saya juga bukan membela artis itu. saya hanya pemerhati Masalah-masalah sosial. Namun sepertinya kali ini dia berkata benar. Kebenaran tentang kebobrokan tayangan -tayangan infotainment, dan sebagian besar tayangan televisi sekarang ini. Kebenaran yang secara kebetulan terungkap lewat ucapan-ucapan si seleb itu. Atau, jika kita menganggap bahwa tidak ada sesuatu pun yang merupakan kebetulan, ….. adakah yang mengatur semua kejadian itu? Wallahualam

Namun, yang sebenar-benarnya hina adalah media kapitalis dan kapitalisasi media itu sendiri. Media yang hanya peduli pada keuntungan yang sebesar-besarnya, tanpa peduli dampak jangka panjang dari keuntungan itu sendiri. Yang bersumber dari peradaban masa kini yang memanjakan mereka yang punya duit dan menindas dengan kejam mereka yang miskin. Peradaban yang oleh Erich Fromm disebut dengan bahsa yang sangat sarkatis dan mengerikan. “Eksperimental Society” atau masyarakat percobaan, di mana seluruh penghuninya tidak lebih dari kelinci-kelinci percobaan. Tanpa sadar dan tidak berdaya untuk melawan.

Perababan yang memuja materi seperti bangsa-bangsa kuno penyembah berhala memuja berhala-berhala yang mereka buat sendiri. Bagaikan bani Israil yang menari berputar-putar memuja patung anak sapi emas hasil tempaan mereka sendiri atas bujukan Samiri. Erich Fromm mengatakan “I have it” tends to become “it has me”, berhala-berhala itu menjadikan mereka yang memujanya sebagai kepunyaannya. Padahal, mereka hanya benda mati yang tidak bisa berbuat apa-apa.

Allah SWT mengingatkan kita dalam Surat Thaha ayat 124 – 127

124. Tetapi, barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka dia akan menderita hidup sempit, kemudian Kami bangkitkan mereka pada hari kiamat dalam keadaan buta.

125. Nanti tentu dia akan berkata: “Ya Tuhanku! Mengapa Engkau bangkitkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulunya aku melihat?”.

126. Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, lalu engkau melupakannya. Begitu pula di hari ini, engkaupun dilupakan pula.

127. Demikianlah balasan Kami terhadap orang-orang yang melampaui batas dan tidak mempercayai keterangan-keterangan Tuhannya. Sesungguhnya siksaan hari akhirat itu lebih keras dan lebih kekal.

Suka tidak suka, itulah realita yang ada pada masyarakat kita. Semoga kita tidak termsuk orang-orang yang mendapat kehidupan nan sempit dan tidak berkah itu.

Iklan

[Transkrip] Macam-macam Bunuh Diri

1. Bunuh Diri secara fisik: BD fisik bisa langsung seperti menjatuhkan diri dari gedung yang tinggi, minum racun yang keras atau menggunakan senjata. Namun, ada juga bunuh diri fisik yang pelan-pelan. Memakan maknana yang tidak sehat, apalagi dalam jumlah banyak dan terus menerus. Tidak menjaga kesehatan, enggan berolah raga dll

2. Bunuh Diri Mental: Bunuh Diri seperti ini adalah mengkhianati janji pada diri sendiri. berjanji berhenti merokok, tetapi diingkari. Berjanji bangung lebih pagi, dingkari dsb. Maka cepat atau lambat, secara mental/bawah sadar ktia sulit untuk percaya pada diri sendiri. Belajar terlalu banyak hal dalam satu saat juga merupakan bunuh diri mental. Terlalu perfeksionis dalam segala juga bisa merupakan bunuh diri mental.

3. Bunuh Diri Sosial: Tidak menjaga kepercayaan pada orang lain. Apabila ada orang yang terus menerus mengingkari janji, tidak memegang amanah dan kepercayaan. Rekening bank emosional (istilah Covey) makin terkuras habis. Lama-kelamaan orang sulit mempercayai orang seperti itu. Bunuh diri seperti ini bisa juga disebut bunuh diri profesional.

4. Bunuh Diri Finansial: Orang yang lebih besar pengeluarannya daripada pendapatannya adalah orang yang sesungguhnya sedang bunuh diri.

5. Hal-hal lain yang menyebabkan bunuh diri, seperti patah hati, putus cinta, kecewa dan sebagainya. Hal ini terutama disebabkan keterikatan kita pada hal-hal material dan keinginan yang terlalu besar untuk memiliki sesuatu/seseorang (cenderung pada Mentalitas To Have, bukan mentalitas To Be)

Penyebab utama bunuh diri adalah ego kita sendiri. Ego cenderung pada kenikmatan sesaat dan tidak peduli penderitaan jangka panjang. makan enak tidak peduli kesehatan, malas berolah raga, enggan menjaga amanah, semua asalnya dari ego.

Bunuh diri hakikatnya adalah akumulasi perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran negatif. Martin Seligman, peneliti mahzab Positive Psichology menyebut hal ini sebagai learned helplessness atau ketidakberdayaan yang dipelajari (tanpa sadar).

Agar terhindar dari bunuh diri jenis apapun kita perlu:

1. Memperkuat mental dengan:

Komitmen pada diri sendiri dan memenuhi komitmen-komitmen itu secara bertahap. Komitmen itu harus meliputi tiga hal yaitu:

belajar – berlatih – berjuang

Kita juga harus melatih Free will (kehendak bebas) kita dengan menanyakan pada diri sendir:

Hal benar apa yang harus saya lakukan sekarang?

Komitmen yang kuat dan free will yang terlatih akan memperbesar wadah diri kita. Wadah yang tadinya hanya sekecil gelas, menjadi sebesar ember, danau dan akhirnya seperti lautan.

Rumus Tekad yang kuat = Keinginan x kesiapan belajar x kesiapan menghadapi masalah

2. Namun, untuk menjaga diri kita agar tidak terjerumus dalam bunuh diri, kita juga perlu dukungan orang lain. Keluarga, suami/istri, teman dan sahabat semua bisa menjadi dukungan bagi kita. Lingkungan yang baik juga kita perlukan untuk terhindar dari bunuh diri. Karena itu, kita jadikan pekerjaan kita sebagai berkah dan manfaat sebesar-besarnya bagi sesama. Jangan sampai tujuan akhir hidup dan pekerjaan kita hanya untuk diri kita sendiri.

3. Dan pada akhirnya, hanya kepada Allah SWT kita menyembah dan meminta pertolongan, termasuk agar terhindar dari bunuh diri jenis apapun.

Semoga bermanfaat

Sumber: Mutiara Pagi, The Power of Life di radio Trijaya FM

Narasumber: Pak Supardi Lee

[Transkrip] Energi untuk berubah

1. Miliki khayalan dan keinginan yang tinggi. Kita perlu mengkhayalkan dan percaya bahwa suatu saat nanti kita bisa mencapai apa yang kita khayalkan itu. Anak-anak kecil berkhayal tanpa beban, berkhayal setinggi-tingginya. Berkhayallah sambil relaks.

2. Bercita-cita. Cita cita adalah khayalan yang diberi tenggat waktu. Saya akan mendapatkan ……… sekian tahun lagi, saya akan menjadi ……… sekian tahun lagi dst.

Khayalan dan rencana kita harus kita tuliskan dalam buku agar dapat terus kita ingat dan terus memotivasi kita. Kalau hanya sekedar angan, tentu kurang efektif.

3. Rencana dan tindakan: untuk mencapai cita-cita tersebut, kita perlu menyusun rencana. Rencana lebih detail daripada cita-cita, rencana di-break down menjadi langkah-langkah yang spesifik. Misal:

– Buku apa yang perlu saya baca dan pelajari
– Pekerjaan apa yang harus saya lakukan
– Langkah-langkah apa yang harus saya ambil
– siapa orang-orang hebat yang harus saya temui
– dan sebagainya

Namun, dalam membuat rencana, jangan sampai kita terjebak pada perfeksionisme. Jangan sampai kita tidak bertindak gara-gara berusaha membuat rencana yang sempurna.

Rencanakan tindakan kita dan bertindaklah sesuai rencana.

4. Doa dan harapan: Apabila kita sudah bertindak sesuai rencana namun belum berhasil, kita jangan putus asa. Kita tidak boleh berhenti berdoa berharap pada Allah SWT. Bukan tidak mungkin Dia sedang mempersiapkan yang lebih baik bagi kita.

Namun, harapan dan doa tentu bukan alasan bagi kita untuk tidak bertindak. Banyak orang gagal bukan karen kurang pengetahuan tetapi kurang tindakan.

Semoga bermanfaat

Sumber: Mutiara Pagi – The Power of Life

Narasumber: Mbak Niek

[Kepedulian Sosial] Masih ada jutaan “ibu Prita Mulyasari” di luar sana


Fenomena pengumpulan koin untuk ibu Mulyasari saat ini mendominasi jagat pemberitaan media di negeri kita. Baik media cetak atau elektronik. Baik media konvensional atau internet.

Ibu Prita mulyasari, yang didenda habis2an oleh RS Omni, mendapat dukungan berupa pengumpulan koin oleh masyarakat. Kenal atau tidak kenal, banyak orang mengumpulkan uang receh alias koin untuk membantu. Membantu ibu Prita dengan koin-koin yang kelihatannya kecil dan remeh. Namun, dalam waktu yang relatif singkat, koin-koin itu mencapai jumlah yang fantastis. Total berat koin-koin yang terkumpul itu mencapai Enam Ton menurut situs kantor berita Antara.

Sungguh, begitu banyak pelajaran dan hikmah yang bisa dipetik dari peristiwa ini. Bahkan mungkin lebih banyak daripada jumlah nominal koin-koin itu sendiri.

1. Sesuatu yang kecil, apabila dikumpulkan dengan tekun dan massive akan menjadi besar. Sedikit demi sedikit, lama lama menjadi bukit, demikian kata pepatah. Koin-koin tersebut telah menjadi bukti, bila ditumpuk pasti akan jadi bukit yang sebenarnya. Secara nominal, kekuatan sebuah koin sangat lemah. sebuah koin 500 rupiah hanya bisa untuk membeli 3 butir permen di warung-warung rokok.
Namun, bila dikumpulkan dengan sungguh-sungguh, jumlah nominal ratusan juta bisa tercapai. Jumlah yang lebih dari cukup untuk membayar denda Ibu Prita.

2. Koin-koin itu bisa jadi simbol kekuatan yang timbul apabila yang lemah bersatu. Kebersamaan adalah hal yang penting bagi kita, apapun profesi atau kegiatan yang kita lakukan. Kekuatan sesungguhnya hanya ada pada persatuan yang sinergis. Kita sendirian boleh saja lemah, bagaikan sebutir koin. Namun, saat kita bersatu padu, banyak sekali hal yang bisa kita lakukan. Sebagaimana koin-koin kecil bernominal rendah bisa menolong Ibu Prita.

3. Koin-koin itu bisa menjadi bukti bahwa kita semua bisa membantu sesama. Kita tidak perlu menunggu sampai kaya raya baru membantu orang lain. Apalagi masih ada ribuan bahkan jutaan “Ibu Prita” di luar sana. Orang-orang yang terzalimi baik oleh institusi kapitalis atau sistem sosial hasil peradaban yang zalim. Orang-orang yang hidupnya terlilit kemiskinan ekstrem. Contohnya seperti dalam kisah-kisah yang pernah saya tulis, antara lain: Almarhumah Ibu Marhumah di desa Jagabita ibu yang meninggal sebelum dapat bantuan dari baksos komunitas MP Indonesia di sana, Pak tua pemungut sampah dan
Tukang Rabuk. Mereka hanya sedikit dari jutaan orang yang memerlukan dukungan dan bantuan agar bisa keluar dari lilitan kemiskinan.

4. Koin-koin itu juga bukti bahwa uang receh sesungguhnya punya kekuatan besar. Muhammad Yunus, pemenang Nobel Perdamaian tahun 2006, mengatakan bahwa kemiskinan sebenarnya bukan karena kemalasan orang-orang miskin. Tetapi lebih merupakan kezaliman dari sistem sosial yang “membonsai” potensi masyarakat miskin tersebut. Dengan uang yang nominalnya kecil tetapi cukup, orang-orang miskin bisa bangkit dan menata kehidupannya lebih baik.

“Untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia, kita tidak perlu mengemis utang kepada IMF atau memerlukan bantuan dari asing. Jika 10% orang terkaya di Indonesia rela memberikan 20% penghasilannya (bukan harta atau asetnya) maka tidak ada lagi orang miskin di Indonesia pada tahun itu.” (H.S. Dillon, Kompas, 17 Oktober 2006)

Kata-kata H.S. Dillon di atas dikutip dari artikel berikut ini.

Kasus Prita mungkin sudah berakhir dengan dicabutnya gugatan terhadap beliau oleh RS Omni. Namun, kita semua masih punya kewajiban untuk membantu sesama. Kewajiban yang tidak akan berakhir selama masih ada hayat di kandung badan dan masih merajalelanya kemiskinan. Baik di negeri tercinta ini atau di mana pun.

Insya Allah kita semua bisa melakukan hal tersebut. kalau tidak, malu dong sama koin ….

Semoga bermanfaat

by Muhammad Nahar

http://kopiradix.multiply.com/
http://naharseft49.multiply.com/
http://perenungancinta.blogspot.com/

Gambar-gambar dari Wikipedia

[Creative Non Fiction] Pak tua penjual rabuk

Sore itu, jalanan masih basah oleh hujan yang sebelumnya turun. Udara sore itu terasa segar, karena air hujan mencuci bersih debu-debu yang ada di jalanan.

Bapak itu datang lagi. Dengan wajahnya yang letih dan kuyu, tertimpa beban kehidupan yang berat dan kemiskinan yang melilit. Kaosnya terlihat kotor dan celana jins robek yang dikenakannya terlihat kusam. Dia adalah tukang rabuk langganan kami, yang menjual pupuk yang terbuat dari kotoran kuda. Sebenarnya kami tidak terlalu membutuhkan dagangan si bapak. Namun, karena perasaan ingin menolong, maka kami pun membeli rabuk tersebut.

Kami pun membagi makanan ala kadarnya yang kami punyai kepada bapak itu. Makanan yang sama yang kami makan sehari-hari. Saat dia sedang makan, aku sempatkan bertanya sedikit padanya. “Pak, tinggal di mana?” tanyaku. “Tinggal di Kuningan, belakang Perbanas. Saya tinggal di warteg, dikasih tempat” dia lalu menunjukkan padaku kira-kira ukuran luas tempat yang diberkikan padanya. Tidak terlalu luas, mungkin hanya cukup untuk sekedar merebahkan punggungnya yang letih tertimpa beban kehidupan yang amat sarat. “Yah, kata yang punya warteg, kalau mau makan ya makan aja. Paling berapa sih makan?” kata si bapak, menjelaskan padaku kebaikan pemilik warteg yang menampungnya. Aku terdiam, aku tidak tahu berapa banyak penghasilan seorang pemilik warteg, namun kesediaan si pemilik berbagi dengan bapak itu bagiku sungguh mengagumkan. Si bapak sudah sekitar tujuh bulan tinggal di sana, sebelum itu dia tinggal di emperan-emperan rumah atau toko. Dia juga pernah tinggal di tempat yang seperti kandang kambing.

Bapak itu juga menjelaskan pada mulanya si pemilik warteg tidak percaya bahwa tempat tinggalnya seperti kandang kambing. Si pemilik warteg baru percaya setelah melihat tempat itu dengan mata kepala sendiri. Karena itulah, si pemilik warteg mengajak si bapak tinggal di wartegnya. Sekedar diberi tempat untuk merebahkan diri. Pak penjual rabuk itupun tahu pula membalas budi, terkadang dia membantu mencuci piring di warteg tersebut.

“Keluarga di mana pak?” tanyaku lagi. “Di Tangerang” jawab si bapak. “Sering pulang kampung?” tanyaku lebih lanjut. “Seminggu sekali, kalau ada uang” jelas si bapak.

Mengenai pengahasilannya, si bapak bilang kalau musim hujan, biasanya rabuk yang dihasilkan kurang bagus. Lembab dan berbau. Namun, bila matahari bersinar cerah dan cuaca panas, rabuknya kering dan bagus. Bapak itu sendiri tidak punya banyak langganan. selain di tempat kami, dia terkadang menjual rabuk di kawasan Setiabudi, Kuningan. Namun, di Setiabudi terkadang terjadi persaingan tidak sehat. Dia seringkali tersingkir oleh kawan-kawannya yang lain, sesama penjual rabuk. Yah, suatu dunia yang keras dan kejam. Yang seringkali menindas yang lemah dan menguatkan yang kuat.

“Yah, kalau sudah rezeki sih ada aja” kata bapak itu pasrah. Kepasrahan memang salah satu ciri orang-orang miskin di negeri ini. Terkadang kepasrahan itu merupakan satu-satunya penghibur hati dari pahit getir kemiskinan yang seakan mencengkram sampai ke tulang sumsum. Seakan-akan membenarkan thesis Erich Fromm dalam bukunya, The Sane Society. Erich Fromm menyebut masyarakat miskin seperti bapak itu dengan sebutan Receptive Society. Masyarakat yang lebih banyak pasrah pada kehidupan, lebih suka menunggu bantuan.

Kepasrahan pada kadar tertentu adalah sesuatu yang baik. Manusia, apabila sudah maksimal usahanya, harus memasrahkan hasil usaha tersebut pada Allah SWT. Kepasrahan tingkat tersebut bisa disebut tawakkal. Namun, pada kadar yang terlalu banyak, tentu bisa berefek melemahkan semangat hidup. Pada tingkat yang sudah sangat parah, kepasrahan bisa saja diartikan sebagai apatisme atau fatalisme. Tidak lagi mau melakukan apa-apa.

Tidak berapa lama kemudian, si bapak tua itupun pamit untuk kembali ke tempat tinggalnya. Tempat tinggal yang tidak banyak memberikan apa-apa. Selain tempat untuk sekedar merebahkan diri, untuk sejenak beristirahat. Untuk kemudian kembali bergelut dengan dunia yang penuh penderitaan, kepedihan dan kegetiran. Dunia yang berada dalam cengkeraman kejam yang bernama KEMISKINAN.

Saat melihat bapak itu pergi, terngiang lagi di telingaku, suatu lagu yang sering kali kudengar waktu menjadi seorang bocah kecil yang sering mengenakan celana pendek biru. Ya, waktu itu aku masih di SMP. Lagu itu sudah sering aku dengar, namun baru sekarang aku tahu maknanya. Semenjak aku sering kali mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan komunitas-komunitas kerelawanan ……………..

Kota adalah rimba
belantara buas
Dari yang terbuas…

Setiap jengkal lorong
dan pecik darah
Darah dari iri…
darah dari benci
Bahkan darah dari sesuatu
yang tak pasti…

Kota adalah rimba belantara
liar dari yang terliar…
Setiap detik lidah-lidah liar
rakus menjulur lapar…

Tangis bayi adalah lolong
srigala…di bawah bulan…
Lengking tinggi merobek
batu-batu tebing keras dan kejam

Bernafas diantara sikut
licik dan garang
Bergerak diantara ganasnya
selaksa karat…

Kota adalah hutan belantara akal
Kuat dan berakar…menjurai
Di depan mata…siap menjerat
di depan mata…siap menjerat leher kita

(Kota by Iwan Fals)

[Renungan Cinta] Kepada Kekasihku

kepada kekasihku,

kepada kekasihku,
yang saat ini jauh dari diriku
apalagi hatiku
kupersembahkan kata-kata ini
kata-kata sederhana
yang mungkin tiada cukup menggambarkan apa itu cinta
dan segala keindahannya

kekasihku,

sungguh aku terpesona saat pertama melihatmu
namamu langsung terukir di hatiku
tanpa bisa aku hapuskan
walau telah kucoba
dengan berbagai cara yang ku tahu dan ku bisa

kekasihku,

sungguh aku adalah manusia
yang tiada pantas mendampingimu
atau untuk sekedar mengagumimu
terlalu banyak kekurangan dan kelemahan
yang ada pada diriku

Kekasihku,

entah apa kau rasakan
apa yang aku rasakan saat ini
betapa aku sangat merindukanmu
atau sekedar sekilas melihat senyummu
agar dapat terpuaskan dahaga
yang bagaikan terik mentari
yang membakar padang pasir tandus nan membara

Kekasihku,

apakah harapan ini akan menjadi kenyataan
atau hanya impian di atas impian

aku tak tahu, mungkin ku tak kan pernah tahu
sampai kapanpun

[Psikologi Sosial] Membunuh itu mudah

Yah, kata-kata di atas adalah judul sebuah novel tulisan Agatha Christy. Yang jelas, tulisan ini bukan untuk memotivasi kita untuk saling bunuh. Namun, kita perlu ingat akan tabiat manusia itu sendiri.

Entah berapa ratus juta tahun yang lalu Allah SWT akan menciptakan manusia dan menempatkan makhluk tersebut sebagai khalifah di bumi. Para malaikat, yang biasanya patuh tunduk 100 persen, tiba-tiba protes. Mengapa Engkau menciptakan makhluk yang akan menumpahkan darah sesamanya? demikian tanya mereka.

Allah SWT mengatakan pada para malaikat tersebut “Aku lebih mengetahui daripada kalian”

kisah tersebut bisa dibaca selengkapnya di dalam Al Qur’an Surat Al Baqarah (2): ayat 30 – 34

Saya bukan ahli tafsir, pengetahuan saya tentang Al Quran dan tafsirnya sangat terbatas. Namun, bagi saya bagian yang paling menarik dari ayat di atas adalah mengapa para malaikat mengatakan bahwa manusia akan membunuh dan menumpahkan darah sesamanya. bukan merampas harta sesamanya atau jenis-jenis kejahatan yang lain. Pembunuhan, ya pembunuhan.

Pembunuhan bisa dibilang merupakan puncak kezaliman seorang manusia atas sesamanya. Pembunuhan adalah kejahatan yang paling kejam. Apabila harta seseorang dicuri atau haknya dirampas, setidaknya dia masih hidup. Mungkin dia bisa mencari harta lagi atau memperjuangkan haknya kembali. Namun, apabila dia sudah terbunuh atau dibunuh? Tidak ada jalan untuk kembali ke dunia ini, kecuali Allah SWT menghendaki. Terputus sudah hubungan dengan dunia fana ini, pupus sudah kesempatan beramal sholeh. Tidak lagi bisa menebar manfaaat bagi sesama manusia dan menjadi rahmat bagi semesta alam. Mungkin para malaikat pada waktu itu berpikir, jika membunuh sesama manusia saja bisa dilakukan, apalagi kejahatan-kejahatan yang lain.

Anton Medan suatu saat pernah diwawancarai oleh suatu TV Swasta dalam acara talkshow tengah malam. Beliau dengan tegas mengatakan bahwa semua orang bisa membunuh. Presenter yang memandu acara keheranan dan bertanya “bener nih pak?”. “Iya’ jawab Anton Medan dengan lebih tegas.

Saat saya mengikuti Baksos SEFT dan Yayasan Hurin’in di daerah Bongkaran, Jatibunder, Tanah Abang, seorang sahabat yang juga SEFTer menceritakan pengalamannya. Dia men-tapping seorang bapak yang sakit pinggang. Cerita punya cerita, akhirnya si bapak bercerita bahwa dia sudah siap membunuh anaknya dan demikian pula sebaliknya. Anak dan bapak, darah daging sendiri, sudah pasang kuda-kuda. siap untuk saling membunuh. Daerah Bongkaran memang tempat yang sangat mengerikan. Keluarga-keluarga hidup dalam petak-petak kecil yang sumpek dan sempit. Terkadang, ada suami yang membawa perempuan lain ke rumah petaknya dan main gila di sana. Terbayang betapa sakitnya perasaan si istri. Adik dan kakak saling berhubungan sexual sudah biasa di sana. Maklum, daerah itu merupakan tempat lokalisasi pelacuran. Saat mendengar kisah adik kakak yang saling berhubungan sex, saya teringat kembali sebuah hadits Rasul. saya sendir kurang tahu persis haditsnya, namun matan atau isi hadits tersebut menyatakan bahwa anak laki dan perempuan, pada usia tertentu, harus dipisahkan kamarnya. Walaupun adik kakak. Namun, di sana bagaimana mungkin mau dipisah. Wong satu keluarga saja harus tinggal di petak-petak kecil nan sumpek. Sudah tidak perlu lagi dibayangkan, betapa tidak nyaman interaksi sosial antar warga di sana. Segala macam kejahatan bisa terjadi, termasuk pembunuhan.

Jika memang semua orang, tanpa kecuali bisa membunuh, maka benarkah membunuh itu mudah? tergantung siapa yang melakukan. sesuatu menjadi mudah karena dilakukan berulang-ulang. Seseorang memiliki keahlian untuk melakukan sesuatu karena belajar dan berlatih. Perasaan takut dan jijik melihat darah dan organ-organ dalam tubuh manusia adalah “default setting” pada fitrah diri manusia. Namun, bagi orang-orang yang sudah berulang kali melihat hal-hal tersebut, mereka tidak lagi merasa takut atau jijik. Orang-orang seperti dokter ahli bedah atau petugas forensik tentu sudah terlatih melihat hal-hal tersbut.

Demikian juga dengan aktivitas yang namanya membunuh. pada awalnya mungkin, seorang calon pembunuh bayaran atau seseorang yang akan membunuh merasakan takut yang amat sangat. Keringat dingin bercucuran, jantung berdebar keras tak karuan. Namun, lama-kelamaan perasaan itu hilang. Berganti dengan tatapan tajam bak binatang buas saat mengincar calon korbannya. Tangan yang tadinya gemetar berkeringat lama kelamaan mantap memegang senjata. Aliran darahnya yang tadinya berdesir tanda ketakutan, kini mengalir normal seakan tidak terjadi apa-apa. Mungkin karena itulah, orang yang sudah terlatih dan terbiasa membunuh disebut pembunuh berdarah dingin. Sedingin aliran sungai di pegunungan.

Namun demikian, ada pula orang-orang yang tiba-tiba jadi pembunuh. Contoh paling nyata adalah para TKI yang pergi ke luar negeri. Sebenarnya, mereka di sana untuk mencari nafkah. Mereka adalah orang-orang lugu yang bahkan mungkin tidak pernah berkelahi, paling banter adu mulut. Namun, perlakuan tidak manusiawi dan kejam sebagian majikan menyebabkan mereka sampai nekat melakukan pembunuhan. Koran-koran dan berita-berita kriminal yang tayang tiap hari juga menyajikan kepada kita berita-berita yang sama. Hampir setiap hari kita saksikan seseorang membunuh atau dibunuh orang lain, bahkan terkadang karena sebab-sebab sepele. Seperti berebut lahan parkir, saling ejek, rebutan pacar dan sebagainya. Bila tidak mampu atau tidak berani membunuh padahal kekesalan sudah memuncak, bisa jadi mereka bunuh diri. Bunuh diri juga merupakan pembunuhan, dan dilarang keras dalam agama Islam, sebagaimana membunuh orang lain.

Perilaku anggota masyarakat sudah sedemikian rupa destruktif sehingga mudah terprovokasi. Kehidupan yang serba sulit, kemiskinan yang melilit dan perbedaan yang lebar antara si kaya dan si miskin menyebabkan banyak orang mengalami apa yang oleh Erich Fromm sebagai “Unlived Live”. Saya sendiri menerjemahkan “Unived Live” sebagai kehidupan yang kering dan kosong tanpa makna. Erich Fromm mengatakan bahwa “Unlived Live” ini adalah penyebab dari segala macam kecenderungan manusia untuk merusak (destructiveness is the outcome of unlived life). Dan kerusakan apa yang lebih besar daripada pembunuhan?

Semoga bermanfaat

[Creative Non Fiction] Pak Tua pemungut sampah

Sore itu jalan di kawasan Rasuna Said terlihat agak lengang. Hari libur membuat jalanan tidak terlalu dipadati kendaraan, tidak seperti hari-hari kerja.

Aku berjalan perlahan-lahan menyusuri jalan tersebut. Langkahku lesu tak bersemangat, dibebani oleh kantong yang hanya terisi sedikit uang. Yah, uang memang sudah jadi raja saat ini. Walaupun bukan segala-galanya, namun segala-galanya perlu uang saat ini. Inilah uniknya kantong, makin sedikit isinya …….. malah makin berat bebannya.

Tiba-tiba mataku bertatapan langsung dengan seorang bapak tua.

Di tangan kanannya ada sebatang kayu pendek yang dilengkapi besi yang melengkung. sementara di pundak kirinya, ia memanggul sebuah kantong sampah besar berwarna hitam. Hitam …… mungkin sehitam suasana hatinya.

Dia mendekatiku perlahan, dan kuulurkan uang ala kadarnya kepadanya. Dia lalu bercerita kepadaku, dengan suara yang tidak jelas dan terbata-bata. Kepedihan tak terkira tergambar di wajahnya.

“Tuan, …….. minta uang untuk berobat. kaki perlu diinjek (mungkin maksudnya disuntik) …. uang dari mana tuan?” katanya terbata-bata dibebani emosi yang bergejolak. Dia lalu memperlihatkan isi kantongnya. Penuh sampah hasil limbah peradaban moderen seperti gelas pelastik, botol, bungkus rokok dan sebagainya. Peradaban kapitalistik yang memanjakan segelintir mereka punya uang. Peradaban yang sama, yang menindas dengan kejam orang-orang tersingkirkan, termasuk si bapak yang kutemui saat itu.

Dia lalu memperlihatkan kepadaku kakinya yang dibalut kain. Terlihat kain itu tidak lagi steril, lebih mirip baju yang sudah lama tidak dicuci. “Kata dokter harus dibelek (dioperasi mungkin), ntar gak usah bayar, uang buat obat aja” ceritanya. “uang dari mana tuan ……..” katanya terisak, menyayat hati siapapun yang mendengarnya. Jika si pendengar masih punya hati yang hidup tentunya. Yang masih bisa berempati pada sesama manusia, apalagi mereka yang menderita.

Aku tak kuasa mendengar cerita itu. Kepedihan hatiku tidak bisa membantu si bapak mungkin tidak seberapa dibandingkan penderitaannya. Kembali kubuka tas kecilku, pemberian dari sebuah perusahaan pertambangan ternama pada acara Volunteer Gathering yang pernah kuhadiri. Kuambil lagi sejumlah kecil uang, yang kupunya, kepada si bapak. Wajah si bapak terlihat lebih baik, walaupun belum cerah. Dia lalu pergi degan tertatih-tatih, ditopang oleh kedua kakinya. Kaki yang sebelah sakit dan belum sembuh. Mungkin tidak akan pernah sembuh.

Kelelahan dan kelesuanku lenyap sudah. berganti penyesalan akan betapa lemahnya jiwa ini. Patah hati yang kualami sesunggunya tidaklah seberapa sakit dibandingkan penderitaan si bapak tua itu. Tetapi, mengapa begitu mudahnya aku terpukul oleh penolakan gadis yang kuharapkan jadi kekasihku itu? Sungguh suatu kekufuran akan nikmat yang luar biasa. Semoga Allah SWT masih berkenan mengampuni pengingkaranku tersebut.

Semoga si bapak diberi ketabahan, dan jikapun kematian datang menjemputnya, itu adalah tanda kasih sayang dari Allah SWT untuk beliau. Agar mendapat tempat yang layak di sisiNya.

Kemiskinan memang masih merupakan penyakit kronis yang melanda masyarakat negeri ini. Negeri yang begitu memanjakan mereka yang kaya raya dan menindas tanpa ampun orang-orang tak berduit. Seperti bapak tua yang kutemui sore itu.

Klinik Quantum Touch Indonesia

Terapi Pengobatan Alternatif Quantum Touch

Pelita Dzatiyah

IQRA, Membuka Cakrawala Membangun Peradaban

Zen Flash

The journey of a 1000 miles begins with a single step

Love Books A Lot Indonesia

Read A Lot, Share A Lot.

Iyut Syfa

Your Coffeemate | A Little Wanderer

Yanuardi Syukur

Dimanapun Kamu Ditanam, Berkembanglah!

Bimosaurus

I'm My Own Enemy..

Firsty Chrysant

The Blue Chrysant Park ~ 파란 크리산 공원

Rek ayo Rek

Evia Koos

duaBadai

The alter ego of Disgiovery.com

E.L.O.K.46

Cogito Ergo Sum

faziazen

a Journal of MomPreneur

SR For SalmanRafan

cintai takdirmu~

Rumah Mbakje

mengeja kata membaca makna

Fathia's little cave

I sail the world through the words.

misbakhuddinmuhammad

Just another WordPress.com site

lijiun

Smile Always

Inilah Dunia Mita

menikmati detik demi detik hidup nie, karena terlalu indah jika hidup nie terlewatkan begitu saja

Merangkai Inspirasi

Bulu pena akan membawamu terbang, dengan kata-kata yang kau tulis seperti halnya bulu menerbangkan burung menuju langit. (Leonardo Da Vinci)

Sarah's World

Come, sit down here, and please enjoy my treats.

F I T T O Reflexology

100% Pijat Keluarga Sehat TERPERCAYA

Terapi Yumeiho Original Jepang

Dahsyatnya Terapi Yumeiho Untuk Mengatasi Sakit Tulang Pinggul

INSPIRASI DANU

sebuah ruang untuk saling berbagi inspirasi dan motivasi

Nataya Rizani

Memberi itu Menambah Rezeki

santipanon

Flowers are yellow, some are orange, and others are vermillion, serenepeacefulcalm

Blog Tausiyah275

Mari Berlomba-lomba Bermanfaat Bagi Orang Lain :-)

Sofistika Carevy

Another Carevy Karya

Berbagi itu Indah

Kesehatan dan pendidikan untuk kaum dhuafa dan yatim piatu

Keluarga Kecil Zawawi

Luthfi - Cindy - Aisyah

~Cruising through my Life~

journey since 1989...

hujantanpapetir

"Menulis adalah proses mengonversi perjalanan menjadi pengalaman."

Blog Prita

Campuran kenangan, buah pikir, dan hari-hari

mybeautterfly

My metamorphosis in heading back to Allah...

The hary.j.mansur Blog

My Life Documentation

Me and My Life

a dreamer, writer wanna be, and general practitioner

DUST

LEARN IN THE DESERT

Febriyan Lukito

sharing, caring and enriching life

Pray for Nasywa

Blog dukungan untuk kesembuhan Nasywa

Arip Yeuh!

Harimau berburu, burung terbang, dan protagonis kita ini terus menggerutu

Membaca Rindu

sebab menulis adalah kata kerja

waiting room

: dari senyap ruang tunggu, tempat aku menemukan-Mu

ANOTHER DAY

THE FICTION STORY

SAVING MY MEMORIES

another home of my mind

fluoresensi

Keinginan itu pasti terwujud, entah 1 tahun, 2 tahun hingga puluhan tahun kemudian. Bersabarlah #cumanmasalahwaktu

re-mark-a-blog

A Remarkable Blog by Justisia Nita

Majelis Ta'lim Basaudan

Tempat belajar Ilmu Agama Islam & Bahasa Arab

dewidyazhary

a silly-couple yarn