Belajar Menulis di kala patah hati

“If I can say to somebody else, “I love you,” I must be able to say, “I love in you everybody, I love through you the world, I love in you also myself.”

Erich Fromm dalam The Art of Loving

Saya tertarik dengan masalah kemiskinan sudah sejak lama. Waktu masih sekolah, saya mengenal dan berteman dengan anak-anak orang kaya dan anak-anak orang miskin. Saat pulang sekolah, seorang teman sering mengajak saya pulang melewati kawasan kumuh di belakang sekolah. Saya mendapatkan pengalaman dan kesempatan melihat langsung keadan orang-orang yang miskin di sana. Sehingga, setelah mengenal Internet saya pun berpartipasi dalam berbagai kegiatan sosial. Kegiatan-kegiatan tersebut diselenggarakan beberapa komunitas berbasis pengguna internet, baik para bloggers ataupun para pengguna jejaring sosial, seperti Multiply Indonesia, Relawan Pelangi, Komunitas Lebah dan Yayasan Sahabat Peduli Generasi Mandiri. Dalam perjalanan tersebut, saya pun berkenalan dengan orang-orang dengan berbagai latar belakang namun sama-sama menyukai kegiatan sosial.

Sebagaimana manusia pada umumnya ketertarikan antar lawan jenis bisa saja terjadi. Bukankah ada syair lagu “mulanya biasa saja … akhirnya datang juga”? Namun, pertemuan saya dengan dia yang dicinta itu terjadi secara tiba-tiba. Saya sudah sangat tertarik pada orang itu saat pertama kali bertemu. Namun,seperti sudah bisa diduga, hasil yang saya terima adalah penolakan. Semenjak kejadian itu, saya sempat down secara mental dan emosional. Hari-hari saya diisi kemurungan hanya dengan persis seperti syair lagu “but like a fool I keep losing my place and I keep thinking something gonna change” dari lagu Sometimes Love ain’t enough-nya Patty Smith. Hanya harapan kosong akan perubahan yang tak kunjung datang. Saya pun saat itu berada di persimpangan jalan antara yang benar dan yang salah, antara menerima kenyataan dan memberontak sampai berbuat nekad.

Namun, entah kenapa semenjak saat itu saya malah termotivasi untuk belajar menulis lebih banyak tentang cinta. Saya pun lebih intens mendalami ajaran-ajaran Erich Fromm. Dalam ajaran-ajaran Fromm, saya temukan kombinasi yang menarik antara cinta antar pribadi dengan kondisi masyarakat. Cinta, menurut Fromm, adalah suatu seni yang agung dan indah yang memberi kekuatan pada sang pencinta untuk berbuat yang terbaik bagi yang dicintai tanpa mengharapkan balasan. Cinta bukan sekedar perasaan manja yang menuntut untuk terus menerus dipuaskan. Kata-kata sang filsuf pun banyak saya kutip dalam tulisan-tulisan saya tentang cinta. Tentu saya yang saya ambil adalah yang sesuai dengan keyakinan saya sebagai seorang muslim.

Akhirnya, saya menyadari bahwa patah hati bisa jadi adalah anugerah tersembunyi yang diberikan olehNya. Anugerah itu membuat hati kita yang telah mengeras dan membeku menjadi lembut dan peka pada tanda-tanda kekuasaanNya. Musim dingin tersebut adalah kesempatan bagi kita “berhibernasi” dan berkontemplasi dengan relaks sebagai bekal menghadapi kehidupan yang akan datang.

Bukan tidak mungkin, orang yang menyebabkan kita patah hati sehingga menderita, nelangsa dan sebagainya adalah “utusan”-Nya yang bertugas memaksa kita kembali ke jalan yang benar, jalan yang Dia kehendaki. setelah tugasnya selesai, biarlah sang “utusan” pergi meninggalkan kita, tidak perlu kita mengejarnya. Kita tinggal meneruskan perjalanan di jalan yang Dia kehendaki, di mana kebahagiaan yang dijanjikan untuk kita menanti jika kita sabar meniti jalan lurus tersebut. Diantara kepingan-kepingan hati yang berserakan itulah saya temukan butir-butir mutiara pencerahan yang membuat saya mampu menuangkan apa yang saya pikirankan dan rasakan dalam bentuk tulisan.

Selain pengalaman yang saya alami di atas, berbagai kiat menulis pun saya temukan di internet. Salah satu layanan pelatihan menulis yang saya ikuti adalah Newsletter Gratis Pintar Menulis dalam 9 Minggu. Di sana saya temukan Kiat menulis bebas, yaitu mencurahkan apa yang ada di hati dan kepala terlebih dahulu dan mengedit hasilnya belakangan. Belajar menulis memang perlu proses, tetapi bisa dijalani oleh siapapun yang berminat mempelajarinya. Motivasi untuk menulis saya semakin terpacu saat membaca buku Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat yang ditulis sahabat saya, Pak Jonru. Namun, karena keterbatasan keuangan, saya belum bisa mengikuti kelas-kelas yang berbayar di Sekolah-Menulis Online. Walaupun demikian, yang saya peroleh dari SMO Kelas Free Trial sudah sangat membantu dalam meningkatkan kemampuan saya menulis.

Saya pun semakin yakin bahwa dengan mengambil jalur pengabdian di bidang sosial dan kerelawan, pilihan saya tidaklah salah. Melalui pengabdian pada sesama, cinta itu pun akan mewujud dengan sendirinya. Erich Fromm mengatakan “Jika aku berkata aku mencintaimu, maka sesungguhnya aku mencintaimu dalam diri semua manusia, dalam diri semua yang hidup dan dalam diriku sendiri”. Bahwa sesungguhnya kekasihmu berada dalam diri setiap manusia dan engkau akan selalu bisa berbuat baik dan memberi kepada kekasihmu melalui diri setiap orang. Kekasihmu mungkin tidak mengetahui kebaikan-kebaikanmu dengan sesama manusia, mungkin dia tidak akan pernah tahu. Namun, pancaran energi kebaikan itu cepat atau lambat akan mencapainya, mengetuk lembut pintu hatinya dan bukan tidak mungkin keajaiban demi keajaiban akan terjadi. Keajaiban yang tidak dapat dijelaskan dengan logika atau kata-kata. Begitu banyak orang-orang yang menderita di negeri ini sehingga kita tidak akan pernah kekurangan kesempatan berbuat kebaikan.

Belajar menulis memang semata-mata melibatkan unsur intelektualitas. Bahkan Pak Hernowo pernah menulis buku yang berjudul Menulis dengan Emosi. Judul itu membuktikan bahwa emosi adalah unsur yang sangat ampuh dalam menuangkan ide dan gagasan dalam bentuk tulisan. Emosi adalah kekuatan terpendam dalam diri manusia yang bisa digunakan untuk hal-hal yang membangun atau merusak. Dalam adegan film Enter The Dragon, Bruce Lee menasihati seorang untuk menggunakan Emotional Content dan bukan kemarahan dalam berlatih.

Saya sendiri berharap para pembaca tulisan ini tidak sedang patah hati, namun jika ada yang mengalami maka akan lebih baik menggunakan momen tersebut untuk belajar menulis dan lihat saja hasilnya ….. Insya Allah.

Semoga bermanfaat

Tulisan ini diikutsertakan pada Program Beasiswa SMO 2010

Iklan

Posted on Oktober 17, 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 17 Komentar.

  1. πŸ™‚ patah hati itu ada seseorang yang bilang : Ayo, kerja…kerja…kerja…..dan lupalah saya ama perkara macam ntu πŸ˜€

  2. Ntar dulu, komentarnya diiringi lagu yang dimaksud Nahar, “Sometimes Love Just Ain’t Enough-nya Patty Smith sama Don Henly. Aku nggak percaya sama yang namanya cinta, hal basi yang ujung-ujungnya cuma jadi alat merusak, membunuh, juga menghapus keberagaman. Aku lebih suka kata yang apa adanya, tanpa banyak bicara tapi merepresentasikan apa-apa yang dirasa. Orang bicara cintaatas nama Tuhannyasambil menyiksa, membunuh berdasarkan keyakinan mereka Tentang menulis sendiri, entah aku yang kepedean atau merasa nggak terlalu susah, menulis itu sama seperti bicara, apa-apa yang kita rasa itu yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Pengalaman pernah di media cetak, nulis karena terpaksa, nulis karena bukan kemauan hati melainkan ancaman deadline, bikin aku berpikir menulis itu tak ubahnya seperti bicara. Orang bisa banyak bicara, harusnya juga bisa banyak menulis. Permasalahan bakal timbul pada bentuk, siapa yang tertarik sama tulisan kita? Menulis mudah, tapi saat tulisan itu dibaca orang, menarik atau tidaknya ini yang jadi penentu. Minjem omongannya Truman Capote (1924 – 1984), novelis, jurnalis, dramawan, cerpenis, penulis skenario asal Amerika, “to me, the greatest pleasure of writing is not what it’s about, but the inner music the words make”, menulis itu bukan pada apa yang ditulis, tapi seharusnya seperti irama musik atas kata-kata yang dituangkan itu. Tentang jodoh dan patah hati, he he he…Aku percaya kok, Tuhan udah nyiapin yang terbaik buat Nahar. Masalahnya ada pada kesiapan menerimanya. Minjem lagi omongan temenku (minjem omongan mulu bisanya!), “jodoh dan kesuksesan, akan datang pada jiwa-jiwa yang siap menerimanya”.

  3. mudah2an lolos dan dapat beasiswa nya ya mas.. tulisannya udah bagus bagus kok

  4. O iya lupa bilang juga, semoga menang, Nahar…

  5. πŸ™‚ semoga sukses Bang Nahar…aamiin

  6. Semoga dapat ya beasiswanya, tulisannya keren.

  7. dhaimasrani said: πŸ™‚ patah hati itu ada seseorang yang bilang : Ayo, kerja…kerja…kerja…..dan lupalah saya ama perkara macam ntu πŸ˜€

    betul, walaupun perlu proses dan kreatifitas

  8. luqmanhakim said: Ntar dulu, komentarnya diiringi lagu yang dimaksud Nahar, “Sometimes Love Just Ain’t Enough

    iya mas, masih harus banyak belajar nih, ternyata semua saling berhubungan sebagaimana yang dijelaskan mas Luqman di atas

  9. evanda2 said: mudah2an lolos dan dapat beasiswa nya ya mas.. tulisannya udah bagus bagus kok

    Amiin, terima kasih mbak

  10. luqmanhakim said: O iya lupa bilang juga, semoga menang, Nahar…

    sama-sama mas, terima kasih

  11. dhaimasrani said: πŸ™‚ semoga sukses Bang Nahar…aamiin

    Amiin, semoga mas

  12. niwanda said: Semoga dapat ya beasiswanya, tulisannya keren.

    Alhamdulillah, berkat belajar dari teman2 juga, terima kasih dukungannya mbak

  13. mantaaap…mudah2na dapat ya^_^

  14. happywithavis said: mantaaap…mudah2na dapat ya^_^

    Amiin, terima kasih doanya

  15. pernah baca juga kata2 mbah fromm ini^^ dalam sela: “Mencintai orang lain hanya akan menjadi sebuah kebajikan ketika keluar dari batin ini, tetapi ia menjadi sangat menjijikkan jika ia ungkapan dari ketidakmampuan untuk menjadi diri sendiri!” (buku the art of lovingnya buku yang sampai sekarang setia saya bawa ke mana-mana tiap kali saya berpindah tempat :p)luar biasa ya mas energi patah hati, mengantarkan mas nahar bisa menulis dengan indah. Berterimakasihlah pada dia yang mematahkan hatimu ;)saya tertarik mengomentari ttg ‘kepekaan sosial’ seusai ‘patah hati’. Jujur, itu benar adanya. Ketika cinta tulus kita merasa tercampakkan tak adil, kita tentu merasa hopeless banget. Kok bisa ya? cinta tulus kok berbalas kepedihan? itulah yg tersirat di kepala saat ‘patah hati’ dulu *curcol jadinya*. Tapiii pertanyaan itu hadir karena mgkn masih shock hingga hati pun masih tertutup. Seusai tenang, barulah hati dan mata terbuka. Cinta akan lebih indah dan tak egois ketika mewujud dengan menyeluruh. Itulah yang mengantarkan saya membagi cinta dan ilmu pada anak-anak di sekolah dhuafa di terminal depok. Saya memberi cinta dan mereka menerima serta membalas cinta saya dengan senang hati.Subhanallah, Allah beri saya pengalaman patah hati lalu menggantinya dng pengalamn luar biasa dng anak-anak manis itu serta insya Allah menyimpannya sebagai amalan yang tak akan putus sampai di alam kubur nanti (Semoga…insya Allah πŸ™‚ )meski terlmbat, saya ucapkan selamat ya mas untuk beasiswanya πŸ™‚

  16. pondokkata said: pernah baca juga kata2 mbah fromm ini^^ dalam sela: “Mencintai orang lain hanya akan menjadi sebuah kebajikan ketika keluar dari batin ini, tetapi ia menjadi sangat menjijikkan jika ia ungkapan dari ketidakmampuan untuk menjadi diri sendiri!” (buku the art of lovingnya buku yang sampai sekarang setia saya bawa ke mana-mana tiap kali saya berpindah tempat :p)luar biasa ya mas energi patah hati, mengantarkan mas nahar bisa menulis dengan indah. Berterimakasihlah pada dia yang mematahkan hatimu ;)saya tertarik mengomentari ttg ‘kepekaan sosial’ seusai ‘patah hati’. Jujur, itu benar adanya. Ketika cinta tulus kita merasa tercampakkan tak adil, kita tentu merasa hopeless banget. Kok bisa ya? cinta tulus kok berbalas kepedihan? itulah yg tersirat di kepala saat ‘patah hati’ dulu *curcol jadinya*. Tapiii pertanyaan itu hadir karena mgkn masih shock hingga hati pun masih tertutup. Seusai tenang, barulah hati dan mata terbuka. Cinta akan lebih indah dan tak egois ketika mewujud dengan menyeluruh. Itulah yang mengantarkan saya membagi cinta dan ilmu pada anak-anak di sekolah dhuafa di terminal depok. Saya memberi cinta dan mereka menerima serta membalas cinta saya dengan senang hati.Subhanallah, Allah beri saya pengalaman patah hati lalu menggantinya dng pengalamn luar biasa dng anak-anak manis itu serta insya Allah menyimpannya sebagai amalan yang tak akan putus sampai di alam kubur nanti (Semoga…insya Allah πŸ™‚ )meski terlmbat, saya ucapkan selamat ya mas untuk beasiswanya πŸ™‚

    Ternyata kita sama-sama penggemar mbah Fromm ya? energi dari peristiwa patah hati memang luar biasa, tergantugn pada kita bagaimana mengarahkannya. Insya Allah saya akan berterima kasih pada dia apabila hubungan kami sudah membaik. hati yang pernah patah memang bisa peka, karena lebih mampu berempati pada orang lain, semoga pengalaman mbak itu menjadi hikmah pelajaran di dunia dan amal sholeh bekal di akhiratsama2 mbak, terima kasih ucapan selamatnya, semoga mbak juga sukses dunia akhirat, amiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Klinik Quantum Touch Indonesia

Terapi Pengobatan Alternatif Quantum Touch

Pelita Dzatiyah

IQRA, Membuka Cakrawala Membangun Peradaban

Zen Flash

The journey of a 1000 miles begins with a single step

Love Books A Lot Indonesia

Read A Lot, Share A Lot.

Iyut Syfa

Your Coffeemate | A Little Wanderer

Yanuardi Syukur

Dimanapun Kamu Ditanam, Berkembanglah!

Bimosaurus

I'm My Own Enemy..

Firsty Chrysant

The Blue Chrysant Park ~ νŒŒλž€ 크리산 곡원

Rek ayo Rek

Evia Koos

duaBadai

The alter ego of Disgiovery.com

E.L.O.K.46

Cogito Ergo Sum

faziazen

a Journal of MomPreneur

SR For SalmanRafan

cintai takdirmu~

Rumah Mbakje

mengeja kata membaca makna

Fathia's little cave

I sail the world through the words.

misbakhuddinmuhammad

Just another WordPress.com site

lijiun

Smile Always

Inilah Dunia Mita

menikmati detik demi detik hidup nie, karena terlalu indah jika hidup nie terlewatkan begitu saja

Merangkai Inspirasi

Bulu pena akan membawamu terbang, dengan kata-kata yang kau tulis seperti halnya bulu menerbangkan burung menuju langit. (Leonardo Da Vinci)

Sarah's World

Come, sit down here, and please enjoy my treats.

F I T T O Reflexology

100% Pijat Keluarga Sehat TERPERCAYA

Terapi Yumeiho Original Jepang

Dahsyatnya Terapi Yumeiho Untuk Mengatasi Sakit Tulang Pinggul

INSPIRASI DANU

sebuah ruang untuk saling berbagi inspirasi dan motivasi

Nataya Rizani

Memberi itu Menambah Rezeki

santipanon

Flowers are yellow, some are orange, and others are vermillion, serenepeacefulcalm

Blog Tausiyah275

Mari Berlomba-lomba Bermanfaat Bagi Orang Lain :-)

Sofistika Carevy

Another Carevy Karya

Berbagi itu Indah

Kesehatan dan pendidikan untuk kaum dhuafa dan yatim piatu

Keluarga Kecil Zawawi

Luthfi - Cindy - Aisyah

~Cruising through my Life~

journey since 1989...

hujantanpapetir

"Menulis adalah proses mengonversi perjalanan menjadi pengalaman."

Blog Prita

Campuran kenangan, buah pikir, dan hari-hari

mybeautterfly

My metamorphosis in heading back to Allah...

The hary.j.mansur Blog

My Life Documentation

Me and My Life

a dreamer, writer wanna be, and general practitioner

DUST

LEARN IN THE DESERT

Febriyan Lukito

sharing, caring and enriching life

Pray for Nasywa

Blog dukungan untuk kesembuhan Nasywa

Arip Yeuh!

Harimau berburu, burung terbang, dan protagonis kita ini terus menggerutu

Membaca Rindu

sebab menulis adalah kata kerja

waiting room

: dari senyap ruang tunggu, tempat aku menemukan-Mu

ANOTHER DAY

THE FICTION STORY

SAVING MY MEMORIES

another home of my mind

fluoresensi

Keinginan itu pasti terwujud, entah 1 tahun, 2 tahun hingga puluhan tahun kemudian. Bersabarlah #cumanmasalahwaktu

re-mark-a-blog

A Remarkable Blog by Justisia Nita

Majelis Ta'lim Basaudan

Tempat belajar Ilmu Agama Islam & Bahasa Arab

dewidyazhary

a silly-couple yarn

%d blogger menyukai ini: