[30 Days MEME] Day 1 Your Favorite Songs

Yang namanya lagu identik dengan emosi, sama sama vibrasi energi kehidupan

Selera musik saya sendiri entah sudah berapa kali berubah

saat SD nge-fans sama God Bless, terutama Ahmad Albar, Ian Antono dkk. Sejak beli album God Bless 88, langsung suka habis sama lagu-lagunya seperti Rumah Kita, Kisah damai yang hilang dan sebagainya. Sebagian lagunya memang bertema kritik pada peperangan yang saat itu banyak melanda dunia, contohnya lagu yang berjudul Bla .. bla .. bla

Hantam kiri kanan persetan
Penting tahta bertabur intan
Lagu kematian lantang dan bergema
Karena senjata … karena bla..bal..bla..

Hantam kiri kanan persetan
Penting tahta bertabur intan
Lagu perdamaian hilang tak bergema
Karena Senjata, karena kuasa,
karena bla .. bla .. bla ..

Saat SMP beda lagi, saat itu karena gaul sama teman-teman yang dari kalangan menengah ke bawah jadi suka sama lagu2 Iwan Fals. Suara rakyat kecil dari gang-gang kumuh, terminal becek dan berbau, lokalisasi pelacuran terdengar bersama alunan lagu. Seakan membawa pesan dari kehidupan mereka yang serba susah dan terjepit oleh kemiskinan.

Setelah mendekati selesai SMP, selera musik malah berubah jadi ber-metal ria .. terutama Manowar dan Gun’s n Roses, lagi-lagi ketularan teman. Karena jauh sebelumnya sudah kenal Mitologi Nordic, maka kurang lebih tahu makna lagu2 Manowar. Setelah SMA beralih ke nasyid, waktu itu masih berupa foto kopian teks lyric nasyid, belum disimpan dalam bentuk kaset. Anehnya, setelah selesai SMA malah senang lagu-lagu lama .. sampai sekarang. Waktu itu radio favorit saya Delta FM, yang selalu menyayangkan lagu-lagu oldies…

Setelah jadi relawan di beberapa komunitas, lagu-lagu iwan Fals yang sempat jadi favorit waktu kecil terngiang lagi. Berikut beberapa potongannya:

Lelaki kecil usia belasan
Rokok ditangan depan kedai tuak
Disela gurau tiga temannya
Di atas koran asyik main domino

Di lokalisasi pinggiran kota
Yang nama dosa mungkin tak bicara
Neraka poster indah
kamar remang
Engkau lahir lelaki
kecil malang

Potongan lagu Gali Gongli di atas mengisahkan tragisnya anak yang lahir dari seorang pelacur di sebuah lokalisasi. Sejak lahir dan saat bertumbuh besar selalu disuguhi pemandangan aktifitas sehari-hari di lokalisasi tersebut. Sehingga seakan masa depan tak berpihak lagi padanya. Perjudian, rokok bahkan minuman keras sudah menjadi bagian dari kehidupan anak itu sehari-hari. Saat mendengar pemaparan mbak Sinta Yudisia saat melakukan penelitian untuk membuat Novel Existere di IBF beberapa waktu yang lalu, lagu itulah yang terngiang di pikiran saya.

Kau reguk habis semua doa doa
Dari surau depan rumah yang kau sewa
Tak terasa surya duduk di kepala
Azan subuh masih di telinga

Terdengar renyah tawa gadis sekolah
Menyibak tabir cerita lama
Didepan retaknya cermin yang telah usang
Menari dia seperti dahulu

Kisah seorang pelacur/WTS yang menyesali hidupnya. suara anak-anak sekolah mengingatkan dia akan masa lalunya hingga dia terbawa kenangan, namun apa daya semua telah berlalu.

Nak Berhentilah
Jangan Sekolah Bapakmu Sudah Tak Kerja
Nak Jangan Menangis
Memang Begini Keadaannya

Pangkalan Jatah Ditoko Toko dan Diparkiran
Sudah Bukan Milik Bapak Lagi

Nak Mari Berdoa
Agar Bapak Selamat Dari Penembakan
Berita Gencar
Disetiap Lembaran Koran
Tentang Dibunuhnya Para Bromocorah

Kalau yang di atas lagu tentang anak seorang bromocorah atau penjahat kelas berat. Saat masa jaya si bapak telah berlalu, si anak dan ibunya tidak tahu harus berbuat apa. entah besok lusa makan apa atau tinggal di mana. Reproduksi sosial pun terjadi, walau si ibu sudah berpesan agar si anak tidak ikut jejak si bapak .. namun apalah arti pesan itu dibandingkan lingkungan yang kejam dan keras serta desakan kebutuhan yang tidak kenal kompromi.

Pendek kata, lagu-lagu Bang Iwan sebagian besar berisi kritik sosial yagn bisa bikin merah membara telinga penguasa, apalagi yang zalim. Yang mungkin sama-sama kita kenal, dan sangat mengena pada kondisi sekarang adalah Wakil Rakyat:

Saudara dipilih bukan di lotere
Meski kami tak kenal siapa saudara
Kami tak sudi memilih para juara
Juara diam juara he eh juara hahaha

Untukmu yang duduk sambil diskusi
Untukmu yang biasa bersafari
Disana di gedung DPR

Dihati dan lidahmu kami berharap
Suara kami tolong dengar lalu sampaikan
Jangan ragu jangan takut karang menghadang
Bicaralah yang lantang jangan hanya diam

Wakil rakyat seharusnya merakyat
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat
Wakil rakyat bukan paduan suara
Hanya tahu nyanyian lagu “setuju”

Terkadang, makna satu lagu baru saya dapatkan setelah dewasa dan bergaul dengan para relawan kemanusiaan dari berbagai komunitas.

Kota Adalah Rimba
Belantara Buas
Dari Yang Terbuas
Setiap Jengkal Lorong
dan Pecik Darah
Darah Dari Iri
Darah Dari Benci
Bahkan Darah Dari Sesuatu
Yang Tak Pasti

Lagu diatas berkisah tentang kehidupan keras kaum miskin kota. Mereka seakan tak berdaya menghadapi kekejaman kemiskinan yang bagaikan serigala yang siap memangsa makanannya tanpa ampun.

Lagu-lagu bertema kritik sosial ternyata tidak saja ada di Indonesia. Saat saya menyaksikan film Innocent Voices, saya langsung suka dengan soundtrack film tersebut. Lagu yagn berkisah tentang orang-orang miskin yang terpaksa tinggal di rumah-rumah kardus yang sangat tidak layak ditinggali. Namun, mereka tidak punya pilihan sama sekali. Lagu itu langsugn jadi salah satu lagu favorit saya.

Qué triste se oye la lluvia en los techos de cartón
qué triste vive mi gente en las casas de cartón
Viene bajando el obrero casi arrastrando sus pasos
por el peso del sufrir,
mira que mucho ha sufrido, mira que pesa el sufrir
Arriba deja la mujer preñada
abajo está la ciudad y se pierde en su maraña
hoy es lo mismo que ayer, es un mundo sin mañana
Qué triste se oye la lluvia en los techos de cartón
qué triste vive mi gente en las casas de cartón
Niños color de mi tierra, con sus mismas cicatrices
millonarios de lombrices, y por eso
qué triste viven los niños en las casas de cartón
qué alegres viven los perros en casa del explotador
Usted no lo va a creer pero hay escuelas de perros
y les dan educación pa’ que no muerdan los diarios
pero el patrón hace años, muchos años
que está mordiendo al obrero
Qué triste se oye la lluvia en los techos de cartón
qué lejos pasa la esperanza en las casas de cartón

Fuente: musica.com

ditulis dalam rangka mengikuti 30 Days MEME, Day 1: Your favorit songs.

Semoga bermanfaat

Iklan

Posted on November 16, 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 6 Komentar.

  1. Lagu Iwan Fals bagus sekali, mengasah kepedulian sosial kita, sekaligus aspek religi kita. Lagu nasyid tend to be sung & created in a vacuum. These also apply to the so called film with “… Cinta..” such as KCB, created in a social vacuum

  2. agamfat said: Lagu Iwan Fals bagus sekali, mengasah kepedulian sosial kita, sekaligus aspek religi kita. Lagu nasyid tend to be sung & created in a vacuum. These also apply to the so called film with “… Cinta..” such as KCB, created in a social vacuum

    Yup, saya juga senang lagu2 itu, walaupun sampai sekarang masih suka nasyid. Maksud created in vacuum itu tidak membumi ya mas?

  3. lirik lirik lagu memang salah satu sarana paling menghibur untuk menuangkan kritik sosial..

  4. wayanlessy said: lirik lirik lagu memang salah satu sarana paling menghibur untuk menuangkan kritik sosial..

    iya mbak, sekaligus sebagai katarsis bagi emosi orang yang menderita

  5. Iya, Har. Lagu ala Nasyid itu sering vakum dalam ruang sosial. Ini juga yg sering dilakukan para pengelola buletin Jumat misalnya. Kebetulan di Yogya kemarin aku bertemu rekan lama jaman mahasiswa. Sekarang dia sibuk menghidupkan masjid depan rumahnya. Dia perlihatkan buletin Jumat yg dia editori dg lainnya. Buletin Jumat dia Jumat lalu berpesan soal pentingnya kurban dan lebih pentingnya lagi mengaplikasikan untuk solidaritas terhadap korban Merapi. Buletin lainnya berisi pesan ala Tif bahwa Merapi itu mungkin azab, dsb.Coba kita lihat lagu Rumah Kita. Pesannya adalah bersyukur kepada yg dipunyai, tak perlu bermewah-mewah dan korup. Sungguh nilai yg sangat bagus

  6. agamfat said: Iya, Har. Lagu ala Nasyid itu sering vakum dalam ruang sosial. Ini juga yg sering dilakukan para pengelola buletin Jumat misalnya. Kebetulan di Yogya kemarin aku bertemu rekan lama jaman mahasiswa. Sekarang dia sibuk menghidupkan masjid depan rumahnya. Dia perlihatkan buletin Jumat yg dia editori dg lainnya. Buletin Jumat dia Jumat lalu berpesan soal pentingnya kurban dan lebih pentingnya lagi mengaplikasikan untuk solidaritas terhadap korban Merapi. Buletin lainnya berisi pesan ala Tif bahwa Merapi itu mungkin azab, dsb.Coba kita lihat lagu Rumah Kita. Pesannya adalah bersyukur kepada yg dipunyai, tak perlu bermewah-mewah dan korup. Sungguh nilai yg sangat bagus

    Iya ya, lebih suka nasyid jaman 90 awal dulu penuh gelora perjuangan daripada yg sekarang walau bukan berarti tidak suka. Lagu Rumah Kita-nya God Bless memang OK mengajarkan kesederhanaan yang mulai hilang dari masyarakat kita sekarang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Klinik Quantum Touch Indonesia

Terapi Pengobatan Alternatif Quantum Touch

Pelita Dzatiyah

IQRA, Membuka Cakrawala Membangun Peradaban

Zen Flash

The journey of a 1000 miles begins with a single step

Love Books A Lot Indonesia

Read A Lot, Share A Lot.

Iyut Syfa

Your Coffeemate | A Little Wanderer

Yanuardi Syukur

Dimanapun Kamu Ditanam, Berkembanglah!

Bimosaurus

I'm My Own Enemy..

Firsty Chrysant

The Blue Chrysant Park ~ 파란 크리산 공원

Rek ayo Rek

Evia Koos

duaBadai

The alter ego of Disgiovery.com

E.L.O.K.46

Cogito Ergo Sum

faziazen

a Journal of MomPreneur

SR For SalmanRafan

cintai takdirmu~

Rumah Mbakje

mengeja kata membaca makna

Fathia's little cave

I sail the world through the words.

misbakhuddinmuhammad

Just another WordPress.com site

lijiun

Smile Always

Inilah Dunia Mita

menikmati detik demi detik hidup nie, karena terlalu indah jika hidup nie terlewatkan begitu saja

Merangkai Inspirasi

Bulu pena akan membawamu terbang, dengan kata-kata yang kau tulis seperti halnya bulu menerbangkan burung menuju langit. (Leonardo Da Vinci)

Sarah's World

Come, sit down here, and please enjoy my treats.

F I T T O Reflexology

100% Pijat Keluarga Sehat TERPERCAYA

Terapi Yumeiho Original Jepang

Dahsyatnya Terapi Yumeiho Untuk Mengatasi Sakit Tulang Pinggul

INSPIRASI DANU

sebuah ruang untuk saling berbagi inspirasi dan motivasi

Nataya Rizani

Memberi itu Menambah Rezeki

santipanon

Flowers are yellow, some are orange, and others are vermillion, serenepeacefulcalm

Blog Tausiyah275

Mari Berlomba-lomba Bermanfaat Bagi Orang Lain :-)

Sofistika Carevy

Another Carevy Karya

Berbagi itu Indah

Kesehatan dan pendidikan untuk kaum dhuafa dan yatim piatu

Keluarga Kecil Zawawi

Luthfi - Cindy - Aisyah

~Cruising through my Life~

journey since 1989...

hujantanpapetir

"Menulis adalah proses mengonversi perjalanan menjadi pengalaman."

Blog Prita

Campuran kenangan, buah pikir, dan hari-hari

mybeautterfly

My metamorphosis in heading back to Allah...

The hary.j.mansur Blog

My Life Documentation

Me and My Life

a dreamer, writer wanna be, and general practitioner

DUST

LEARN IN THE DESERT

Febriyan Lukito

sharing, caring and enriching life

Pray for Nasywa

Blog dukungan untuk kesembuhan Nasywa

Arip Blog

Harimau berburu, burung terbang, dan protagonis kita ini terus menggerutu

Membaca Rindu

sebab menulis adalah kata kerja

waiting room

: dari senyap ruang tunggu, tempat aku menemukan-Mu

ANOTHER DAY

THE FICTION STORY

SAVING MY MEMORIES

another home of my mind

fluoresensi

Keinginan itu pasti terwujud, entah 1 tahun, 2 tahun hingga puluhan tahun kemudian. Bersabarlah #cumanmasalahwaktu

re-mark-a-blog

A Remarkable Blog by Justisia Nita

Majelis Ta'lim Basaudan

Tempat belajar Ilmu Agama Islam & Bahasa Arab

dewidyazhary

a silly-couple yarn

%d blogger menyukai ini: