Demokrasi itu MAHAL, Jendral!!

Dalam sebuah talkshow di stasiun TV Swasta, salah satu narasumber menyatakan bahwa demokrasi itu sangat mahal. Kita bisa bayangkan betapa besar biaya yang dibutuhkan untuk melaksanakan kampanye seorang calon / kandidat yang hendak menduduki kursi kekuasaan, apakah itu legislatif, executive atau yang lainnya (jika ada). Apakah itu tingkat RT / RW, kabupaten, propinsi hingga negara. Entah berapa rim kertas habis hanya untuk mencetak poster dan pamflet berisi foto si calon beserta visi misinya serta hal-hal lain yang perlu disampaikan. Tidak cukup hanya di atas kertas, di TV dan radio pun iklan si calon juga muncul. Itu yang jujur saja sudah makan biaya yang luar biasa besarnya. Apalagi kalau sudah masuk ke wilayah abu-abu yang berpotensi melanggar ketetapan syariat seperti pembagian uang dan barang dengna tujuan meraih simpati, meningkatkan popularitas dan mempengaruhi rakyat untuk memberikan pilihan pada diri si calon.

Namun yang seringkali kita saksikan sesudah pemimpin baru terpilih atau incumbent berkuasa kembali, tidak banyak perubahan yang kita saksikan. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin, persis seperti lirik lagu.

Satu hal yang mugnkin dilupakan banyak orang adalah bahwa demokrasi memang hanya mementingkan kuantitas dan bukan kualitas. Di kertas suara yang sudah dicontreng atau dicoblos, kita tidak bisa menentukan seberapa tinggi tingkat pendidikan yabng memilih. Apakah dia adalah seorang profesor doktor dengan wawasan yang luas dan ilmu yang dalam atau orang sekelas hanya preman pasar yang gak tahu apa-apa soal politik negeri ini. Apakah dia seorang yang sudah lulus S3 alias doktor atau S3 yang satu lagi, yaitu SD – SMP – SMA. Apakah dia seorang dewasa yang bisa mengendalikan emosi atau ABG labil yang masih mudah dipengaruhi orang lain, apalagi tokoh2 idola yang lagi ngentrend macam girls band atau boys band itu. Masih banyak kemungkinan lain.

Sehingga, untuk memperkenalkan dan mempromosika partai atau calon yang diusung dan digadang-gadang, tim sukses harus menyesuaikan dengan bahasa yang dimengerti banyak orang. Talkshow di TV mungkin efektif buat yang melek politik dan ekonomi, tapi untuk rakyat miskin tentu dangdutan lebih bisa diterima. Urusan yang nyanyi dangdut berpakaian ketat, mengumbar aurat atau berdandan menor itu urusan lain. Apalagi untuk kalangan ABG labil, hadiah tiket gratis nonton boyband asal luar negeri tentu lebih disukai daripada diskusi tentang bagaimana si calon kalau udah kepilih nantinya.

Sedikit ilustrasi di atas tentu sudah cukup untuk memberi gambaran bagi kita betapa mahalnya harga sebuah sistem bernama Demokrasi. Lalu, darimana duit untuk meng-cover semua itu? Kurang tahu juga sih, mungkin dari KORUPSI atau dari pengusaha-pengusaha yang berkolusi dengan pihak-pihak berkuasa atau dengan para kandidat yang sudah punya persetujuan sebelumnya. Darimanapun asalanya, tetap saja tidak membuat harga yang harus dibayar untuk menjalankan demokrasi jadi murah. Dan yang jadi korbannya siapa lagi kalau bukan rakyat miskin, lagi lagi rakyat miskin.

Memang, apapun yang berasal dari peradaban Barat memang mahal. Tidak mengherankan jika negara dunia ketiga yang latah mengikuti Barat tertatih tatih bagai orang yang sudah terluka kakinya tapi dipaksa terus berlari. Rakyat makin lama makin miskin, hanya dibelai sesekali dengan BLT atau dihibur dengan pertunjukan monkey politic alias politik Topeng Monyet yang terus ditayangkan di TV.

Akhrinya, yang bisa saya ingat adalah tulisan dari guru saya, ustadz Ahmad SArwat Lc yang membandingkan antara pesta demokrasi dengan permainan anak-anak jaman dulu, yaitu hompimpa. Biar sajalah para calon yang bersaing itu saling berhompimpa dan yang menang biar saja memimpin. Toh kurang lebih sama saja kan, dipilih mayoritas rakyat yang gak kenal sama pemimpinnya sama dipilih dengan metode hompimpa tadi?

Semoga bermanfaat, mohon maaf untuk yang kurang berkenan

Iklan

Posted on April 27, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 5 Komentar.

  1. iya juga yah…. duit segitu mending buat bangun sarana dan prasarana…. memperbaiki sekolah misalnya… kalaupun nggak menang… kan sudah punya stock amal jariyah

  2. boros sekali, ya … he he he …

  3. @ Bang Rifki: seharusnya begitu bang@mas syamsul: begitulah@mas Hendra: iya mas, sayang sekali@apiek: itu apa ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Klinik Quantum Touch Indonesia

Terapi Pengobatan Alternatif Quantum Touch

Pelita Dzatiyah

IQRA, Membuka Cakrawala Membangun Peradaban

Zen Flash

The journey of a 1000 miles begins with a single step

Love Books A Lot Indonesia

Read A Lot, Share A Lot.

Iyut Syfa

Your Coffeemate | A Little Wanderer

Yanuardi Syukur

Dimanapun Kamu Ditanam, Berkembanglah!

Bimosaurus

I'm My Own Enemy..

Firsty Chrysant

The Blue Chrysant Park ~ 파란 크리산 공원

Rek ayo Rek

Evia Koos

duaBadai

The alter ego of Disgiovery.com

E.L.O.K.46

Cogito Ergo Sum

faziazen

a Journal of MomPreneur

SR For SalmanRafan

cintai takdirmu~

Rumah Mbakje

mengeja kata membaca makna

Fathia's little cave

I sail the world through the words.

misbakhuddinmuhammad

Just another WordPress.com site

lijiun

Smile Always

Inilah Dunia Mita

menikmati detik demi detik hidup nie, karena terlalu indah jika hidup nie terlewatkan begitu saja

Merangkai Inspirasi

Bulu pena akan membawamu terbang, dengan kata-kata yang kau tulis seperti halnya bulu menerbangkan burung menuju langit. (Leonardo Da Vinci)

Sarah's World

Come, sit down here, and please enjoy my treats.

F I T T O Reflexology

100% Pijat Keluarga Sehat TERPERCAYA

Terapi Yumeiho Original Jepang

Dahsyatnya Terapi Yumeiho Untuk Mengatasi Sakit Tulang Pinggul

INSPIRASI DANU

sebuah ruang untuk saling berbagi inspirasi dan motivasi

Nataya Rizani

Memberi itu Menambah Rezeki

santipanon

Flowers are yellow, some are orange, and others are vermillion, serenepeacefulcalm

Blog Tausiyah275

Mari Berlomba-lomba Bermanfaat Bagi Orang Lain :-)

Sofistika Carevy

Another Carevy Karya

Berbagi itu Indah

Kesehatan dan pendidikan untuk kaum dhuafa dan yatim piatu

Keluarga Kecil Zawawi

Luthfi - Cindy - Aisyah

~Cruising through my Life~

journey since 1989...

hujantanpapetir

"Menulis adalah proses mengonversi perjalanan menjadi pengalaman."

Blog Prita

Campuran kenangan, buah pikir, dan hari-hari

mybeautterfly

My metamorphosis in heading back to Allah...

The hary.j.mansur Blog

My Life Documentation

Me and My Life

a dreamer, writer wanna be, and general practitioner

DUST

LEARN IN THE DESERT

Febriyan Lukito

sharing, caring and enriching life

Pray for Nasywa

Blog dukungan untuk kesembuhan Nasywa

Arip Yeuh!

Harimau berburu, burung terbang, dan protagonis kita ini terus menggerutu

Membaca Rindu

sebab menulis adalah kata kerja

waiting room

: dari senyap ruang tunggu, tempat aku menemukan-Mu

ANOTHER DAY

THE FICTION STORY

SAVING MY MEMORIES

another home of my mind

fluoresensi

Keinginan itu pasti terwujud, entah 1 tahun, 2 tahun hingga puluhan tahun kemudian. Bersabarlah #cumanmasalahwaktu

re-mark-a-blog

A Remarkable Blog by Justisia Nita

Majelis Ta'lim Basaudan

Tempat belajar Ilmu Agama Islam & Bahasa Arab

dewidyazhary

a silly-couple yarn

%d blogger menyukai ini: