[Sosial] Bon Kosong dan Kerentanan Sosial

Sebut saja namanya Udin. Seorang pemuda yang hanya lulusan SMP ini beruntung mendapat pekerjaan sebagai seorang office boy di sebuah kantor. Salah satu tugas Udin adalah memfotokopi berkas-berkas dari kantor. Memang, selain gaji bulanan, Udin juga dapat uang makan dan tunjangan lainnya walau tidak terlalu besar. Namun, karena banyaknya dokumen yang harus difotocopy, Udin kadang terpaksa menggunakan uangnya sendiri terlebih dahulu untuk membayar biaya fotokopi untuk kemudian ditagihkan ke bagian keuangan di kantornya. Untuk bisa mendapat penggantian itu, Udin harus memberikan bukti berupa bon dari kios fotokopi langganan kantor. Namun, karena pengaruh lingkungan yang kurang baik dan kecanduannya akan rokok, Udin mulai berbuat curang. Saat melaksanakan tugasnya untuk memfotocopi dokumen-dokumen kantor, dia meminta pada operator dibuatkan bon kosong. Bon itu dia isi sendiri agar ada uang lebih yang bisa dia kantongi. Udin memang seorang sudah lama menjadi seorang perokok sehingga dengan uang mark-up itu dia bisa membeli rokok tanpa harus mengurangi gaji dan uang makan. Manipulasi tersebut berlangsung lancar dalam waktu cukup lama. Namun, seperti kata pepatah sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga, terjadilah sesuatu yang ada di luar perhitungan Udin. Ibu Ani, kepala bagian keuangan di kantor tersebut, menemukan sebuah bon kosong yang benar-benar kosong. Tidak ada sedikitpun angka yang tertera di sana. Karena curiga, Ibu Ani pun memanggil Udin dan menanyakan perihal bon kosong itu. Udin tidak bisa mengelak dan terpaksa mengakui perbuatannya. Udin pun dipecat dari pekerjaannya dan sampai sekarang dia masih menganggur. Ijazahnya yang hanya sampai SMP dan kredibiltasnya yang sudah tercoreng gara-gara markup bon kosong yang dilakukannya membuat Udin kesulitan mendapatkan pekerjaan baru.

Lain lagi dengan Raihan. Pemuda yang sudah lama menganggur itu suatu saat melihat pengumuman penerimaan pegawai di salah satu warnet yang menjadi langganannya. Raihan pun menemui pemilik warnet dan mengatakan ingin bekerja di sana. Setelah diwawancarai dan diuji kemampuannya mengoperasikan komputer, Raihan pun diterima di sana. Memang, mula-mula Raihan merasa enjoy bekerja di sana walaupun pekerjaannya tidak terlalu bergengsi. Yang penting kantongnya terisi uang lagi walau tidak terllau tebal. Namun sayang seribu sayang, setelah beberapa lama bekerja, Raihan mulai merasakan adanya sesuatu yagn tidak beres. BAnyak para pelanggan yang meminta dibuatkan bon kosong. Termasuk orang-orang yang bekarja di sebuah proyek Superblok yang sedang berlangsung di dekat warnet tempat Raihan bekerja. Raihan memang dapat memahami bahwa para pekerja tersebut mengganggap meminta dibuatkan bon kosong bukanlah kejahatan serius. Toh para pemilik modal di Mega Proyek Superblok itu masih punya banyak uang, begitu pikir mereka. Namun, yang paling menyiksa batin Raihan adalah rasa berdosa yang timbul setiap kali dia terpaksa melakukan hal buruk tersebut.

Sebagai seorang pemuda yang cukup memahami ajaran agamanya yaitu Islam, Raihan tahu bahwa memberikan kesaksian palsu, termasuk dalam bentuk bon kosong, adalah dosa besar. Tidak peduli apakah selisih antara jumlah uang yang tertera dalam bon tersebut dan jumlah sebenarnya sedikit atau banyak. Apakah selisihnya hanya 5000 rupiah atau 5 juta rupiah, keduanya sama-sama dosa besar. Memang, kadang Raihan berhasil menolak membuatkan bon kosong itu walaupun dengan perjuangan yang alot, namun terkadang dia gagal. Dengan berat hati, dia pun terpaksa menandatangani sebagian bon kosong tersebut, apalagi saat si klien sudah mengancam. Akhirnya, dengan berat hati Raihan pun menemui pemilik warnet dan mengundurkan diri dari pekerjaannya. Raihan pun kini terpaksa kembali mengisi hari harinya dengan perjuangan mencari pekerjaan yang sesuai.

Kedua ilustrasi di atas menunjukkan bahwa bangsa Indonesia ini masih budaya meremehkan hal-hal buruk yang dianggap kecil. Kita seringkali lupa bahwa bencana dan kerusakan besar selalu dimulai dari hal-hal yang kecil. Pak Ahyudin, presiden Aksi Cepat Tanggap, sebuah lembaga sosial yang biasa menangani bencana-bencana yang terjadi di Indonesia, mengatakan bahwa bencana sebesar apapun berawal dari kerentanan, baik kerentanan alam ataupun kerentanan sosial. Jika kerentanan-kerentanan itu dianggap remeh dan tidak segera diatasi, bencana dan kerusakan yang lebih besar akan menanti. Korupsi kecil-kecilan dengan modus bon kosong seperti pada beberapa ilustrasi di atas adalah contoh kerentanan sosial yang seringkali diremehkan. Kejahatan seperti itu pada akhirnya membawa bencana kepada si pelaku dan orang-orang yang dekat dengannya. Ada pula yang akhirnya dipecat dan ada pula yang mengundurkan diri karena tidak tahan menahan rasa sakit hati dan perasaan berdosa yang dalam. Banyak pula yang sampai terjerumus ke dalam dunia hitam kejahatan karena sudah terlalu sakit hati, frustasi dan putus asa.

Budaya korupsi memang sudah menjangkiti negeri ini sampai ke tingkat strata sosial terendah. Jika seorang office boy saja bisa melakukan korupsi dan manipulasi dengan modus bon kosong seperti pada kisah-kisah di atas, apalagi yang tingkatnya lebih tinggi. JIka seorang office boy bisa memanipulasi tagihan dengan segala cara, termasuk dengan bon kosong, maka seoerang pejabat tinggi bisa lebih leluasa lagi melakukan kejahatan seperti itu. Hanya dengan coretan tanda tangannya, proyek yang sebenarnya bermasalah atau diragukan urgensinya untuk kepentingan masyarakat bisa lolos dan dilaksanakan. Akibatnya, beban keuangan yang ditanggung negara makin berat, rakyat makin banyak yang miskin dan kerentanan sosial yang berpotensi menimbulkan bencana makin meluas. Sudah saatnya masyarakat bangkit dan melawan budaya korup, markup dan bon kosong seperti yang terjadi selama ini agar tidak menimbulkan bencana-bencana yang besar dan menimbulkan kerugian berat di kemudian hari.

Semoga bermanfaat

Referensi:

Tarbiyah Finansial, Dwi Swiknyo, Diva Press
Pemimpin Negeri Bencana

Iklan

Posted on Mei 23, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. Saya Urun Pengalaman PribadiSuatu hari saya nunut ngeprint dokumen milik komunitas istri saya di sebuah warnet. Cuma 1000, saya minta nota. Si penjaga warnet menanyakan : “diisi tidak mas?”Ini menunjukkan bahwa dia ternyata sudah terbiasa mendapatkan permintaan nota kosong.Jaman saya masih di kongsian lama, pernah ada satu tugas menjadi instruktur pelatihan di Jakarta. Client yang menjadi pasien adalah sebuah dinas di kalimantan. Pelatihan tersebut yang direncanakan banyak hari, ternyata hanya diisi dua hari. Lainnya adalah acara jalan-jalan. Sementara para client setelah jalan-jalan, pulang. Untuk SPJ mereka telah membuat nota hotel palsu, resto palsu, tiket pesawat palsu dll. MEreka sudah untung dari nota hotel yang beberapa hari dan beda kelas hotel, resto (jumlah makan dan kelas.. padahal mereka makan di burjo) dan pesawat (baik jdwal maupun kelas pesawat)..Teman saya yang punya bengkel lain lagi.. mereka harus sering melayani para sopir dinas yang mengambil keuntungan harian melalui “perbaikan” dan “service” mobil meski mobilnya baik baik saja, untuk mengejar nota..Semoga saja kita semua , negeri ini lekas sehat.. karena korupsi tidak hanya di puncak saja… takutnya adalah kita berteriak ada korupsi hanya karena kita tidak berkesempatan untuk itu

  2. sering sekali saya juga melihat orang melakukan hal seperti ini …-prihatin-

  3. @ mas Bimo: sampai separah itu ya mas kerusakan yang diakibatkan korupsi di negeri ini@bang Rifki dan mas Hendra: iya mas, menyedihkan sekali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Klinik Quantum Touch Indonesia

Terapi Pengobatan Alternatif Quantum Touch

Pelita Dzatiyah

IQRA, Membuka Cakrawala Membangun Peradaban

Zen Flash

The journey of a 1000 miles begins with a single step

Love Books A Lot Indonesia

Read A Lot, Share A Lot.

Iyut Syfa

Your Coffeemate | A Little Wanderer

Yanuardi Syukur

Dimanapun Kamu Ditanam, Berkembanglah!

Bimosaurus

I'm My Own Enemy..

Firsty Chrysant

The Blue Chrysant Park ~ 파란 크리산 공원

Rek ayo Rek

Evia Koos

duaBadai

The alter ego of Disgiovery.com

E.L.O.K.46

Cogito Ergo Sum

faziazen

a Journal of MomPreneur

SR For SalmanRafan

cintai takdirmu~

Rumah Mbakje

mengeja kata membaca makna

Fathia's little cave

I sail the world through the words.

misbakhuddinmuhammad

Just another WordPress.com site

lijiun

Smile Always

Inilah Dunia Mita

menikmati detik demi detik hidup nie, karena terlalu indah jika hidup nie terlewatkan begitu saja

Merangkai Inspirasi

Bulu pena akan membawamu terbang, dengan kata-kata yang kau tulis seperti halnya bulu menerbangkan burung menuju langit. (Leonardo Da Vinci)

Sarah's World

Come, sit down here, and please enjoy my treats.

F I T T O Reflexology

100% Pijat Keluarga Sehat TERPERCAYA

Terapi Yumeiho Original Jepang

Dahsyatnya Terapi Yumeiho Untuk Mengatasi Sakit Tulang Pinggul

INSPIRASI DANU

sebuah ruang untuk saling berbagi inspirasi dan motivasi

Nataya Rizani

Memberi itu Menambah Rezeki

santipanon

Flowers are yellow, some are orange, and others are vermillion, serenepeacefulcalm

Blog Tausiyah275

Mari Berlomba-lomba Bermanfaat Bagi Orang Lain :-)

Sofistika Carevy

Another Carevy Karya

Berbagi itu Indah

Kesehatan dan pendidikan untuk kaum dhuafa dan yatim piatu

Keluarga Kecil Zawawi

Luthfi - Cindy - Aisyah

~Cruising through my Life~

journey since 1989...

hujantanpapetir

"Menulis adalah proses mengonversi perjalanan menjadi pengalaman."

Blog Prita

Campuran kenangan, buah pikir, dan hari-hari

mybeautterfly

My metamorphosis in heading back to Allah...

The hary.j.mansur Blog

My Life Documentation

Me and My Life

a dreamer, writer wanna be, and general practitioner

DUST

LEARN IN THE DESERT

Febriyan Lukito

sharing, caring and enriching life

Pray for Nasywa

Blog dukungan untuk kesembuhan Nasywa

Arip Blog

Harimau berburu, burung terbang, dan protagonis kita ini terus menggerutu

Membaca Rindu

sebab menulis adalah kata kerja

waiting room

: dari senyap ruang tunggu, tempat aku menemukan-Mu

ANOTHER DAY

THE FICTION STORY

SAVING MY MEMORIES

another home of my mind

fluoresensi

Keinginan itu pasti terwujud, entah 1 tahun, 2 tahun hingga puluhan tahun kemudian. Bersabarlah #cumanmasalahwaktu

re-mark-a-blog

A Remarkable Blog by Justisia Nita

Majelis Ta'lim Basaudan

Tempat belajar Ilmu Agama Islam & Bahasa Arab

dewidyazhary

a silly-couple yarn

%d blogger menyukai ini: