[Sosial] Mas, uang rokoknya mana?

“Mas, uang rokoknya mana?” kata si pengirim kepada Syamsudin, si penerima paket. “Emangnya harus pakai uang rokok ya?” tanya Syamsudin dengan nada tinggi dan pandangan tajam ke arah si pengirim. “Ya, enggak sih, kalau ada boleh” kata si petugas pengirim salah tingkah. Syamsudin sendiri terlihat bimbang, di satu sisi dia tidak ingin melewatkan setiap kesempatan sedekah namun di sisi lain dia juga tidak ingin orang jadi pengemis yang suka meminta-minta, rokok lagi. Pemahaman agama Syamsudin memang cukup baik sehingga dia menganggap pemberian seperti itu tidak mendidik. Syamsudin pun hanya diam sambil terus memandangi si petugas pengirim. Petugas itu pun pergi dengan menahan kejengkelan dalam hatinya. Sambil memandangi si petugas yang hilang di belokan jalan, Syamsudin merasakan kesedihan dan kekecewaan yang dalam. Dia sedih dan kecewa terhadap mentalitas bangsanya yang seakan tidak pernah bisa berhenti dari segala macam kerusakan dan kemunafikan.

Selain bon kosong, uang rokok juga salah satu modus mencari tambahan uang yang sering dilakukan orang, terutama kalangan menengah ke bawah. Memang, ada perusahaan-perusahaan tertentu yang memperbolehkan para pegawainya menerima tips, uang rokok atau apapun namanya. Intinya, jika konsumen merasa puas dengan pelayanan yang diterima, mereka boleh saja memberi uang tips. Namun, tentu saja hal ini tidak untuk dipaksakan. Meminta tips, apalagi dengan memaksa, adalah sebuah perbuatan yang sangat buruk dinilai dari sisi etika dan profesionalisme. Dari sudut pandang agama Islam, hal itu bisa dianggap sebagai kezaliman. Konsumen yang tidak memberi uang tips memang bukan lantas berarti tidak puas atas pelayanan yang diberikan. Mungkin mereka tidak terbiasa melakukan hal tersebut atau ada sebab lain yang belum kita ketahui. Yang penting adalah mereka sudah membayar lunas kewajiban pembayaran mereka atas pelayanan yang diterima. Uang yang dibayar konsumen tersebut pada gilirannya akan menjadi gaji yang diterima para pegawai. Kebiasaan buruk tersebut juga sesungguhnya membahayakan mentalitas si pegawai sendiri. Dia akan terbiasa menganggap dirinya miskin dan serba kekurangan. Dia merasa bahwa dirinya harus senantiasa dikasihani, termasuk selalu diberi uang tambahan untuk membeli rokok. Uang tambahan itu sendiri sudah menjadi semacam candu yang tidak kalah berbahayanya dengan rokok bahkan narkotika. Kalau mentalitasnya sudah seperti ini, bagaimana mungkin manusia sepert itu akan bisa meraih kemajuan berarti di masa depan?

Meskipun tidak selalu, uang rokok memang seringkali digunakan untuk membeli rokok. Rokok memang sudah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Berdasarkan data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), sebagaiman dikutip dari detikHealth.com, Indonesia menempati urutan ketiga dengan konsumsi rokok terbanyak di dunia setelah China dan India karena pertumbuhan jumlah perokok generasi baru di Indonesia meningkat dengan cepat. YLKI, dalam beberapa situs pemberitaan online, menyatakan bahwa 70 persen perokok berasal dari kalangan keluarga miskin. Banyak diantara mereka yang lebih memilih menggunakan uangnya untuk membeli rokok daripada untuk memperbaiki gizi dan pendidikan keluarganya. Ada juga yang anaknya sampai tidak sekolah lagi. Ketika mereka ditanya kenapa tidak gunakan uang rokoknya untuk biaya sekolah si anak? banyak yang menjawab, “Lebih baik anak saya tidak sekolah dari pada saya berhenti merokok,”. Tidak mengherankan apabila uang rokok seakan menjadi semacam keharusan dalam berbagai urusan di negeri ini.

Uang rokok, uang tips, uang lelah atau apapun namanya adalah gambaran buram dari mentalitas hedonis dan materialistik dari bangsa Indonesia ini. Bangsa yang penduduknya lebih suka mengeluarkan uang untuk berfoya-foya menikmati hiburan semu hampa makna. Bangsa yang sebagian penduduknya rela mengorbankan etika bisnis dan profesionalisme demi memperoleh sedikit uang tambahan untuk memuaskan kecanduan rokoknya. Melepaskan diri dari mentalitas uang rokok ini memang tidak mudah. Perlu upaya keras, cerdas, ikhlas, sinergis, terstruktur dan sistematis dari semua pihak yang berkepentingan seperti masyarakat, para da’i dan ulama serta aparat pemerintah. Namun, kita bisa memulainya dari diri sendiri dan lingkungan terdekat kita. Sekecil apapun, Insya Allah harapan ke arah yang lebih baik akan selalu ada dengan izinNya yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Aamiin.

Semoga bermanfaat

dipersembahkan oleh distromuslim dot net

Banyak cara untuk menginspirasi banyak orang baik secara langsung atau tidak langsung. Salah satu cara mudah untuk menginspirasi orang lain berbagi adalah dengan mengenakan kaos yang berisi tulisan atau citra insiparatif seperi Kaos Sedekah. Kaos ini berisi kata-kata motivasi untuk bersedekah dan berbagi pada sesama dengan cara yang halus dan tidak menggurui. Baik juga untuk hadiah atau souvenir bagi yang dicintai dan dikasihi. Kaos ini dapat diperoleh di situs distromuslim dot net.

Iklan

Posted on Juni 10, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 20 Komentar.

  1. bambangpriantono said: *Baca dulu aaah*

    silakaan 😀

  2. hari gini masih minta uang rokok?keinget dulu waktu Papah jadi pengurus RT, ada tetangga baru yang minta formulis ktp..dan menyelipkan uang..langsung saja ditolakkebiasaan ini berawal dari mana ya?

  3. faziazen said: kebiasaan ini berawal dari mana ya?

    iya mbak, pernah juga saya alami sendiri. kurang tahu juga awalnya tapi yang jelas itu karena mentalitas bangsa kita yang sukanya minta-minta komisi melulu

  4. apa karena 350 tahun dijajah ya? jadi mentalnya seperti ini?

  5. faziazen said: apa karena 350 tahun dijajah ya? jadi mentalnya seperti ini?

    bisa jadi mbak, kaum pribumi memandang kaum penjajah sebagai bangsa yang kuat, kaya dan berkuasa. Mereka ingin mencicipi sedikit tetesan harta kaum penjajah dan lupa pada potensi dan kemampuan diri sendiri

  6. nek aku njaluk uang makan wae ya hahahaha

  7. anotherorion said: nek aku njaluk uang makan wae ya hahahaha

    sami mawon..

  8. kopiradix said: bisa jadi mbak, kaum pribumi memandang kaum penjajah sebagai bangsa yang kuat, kaya dan berkuasa. Mereka ingin mencicipi sedikit tetesan harta kaum penjajah dan lupa pada potensi dan kemampuan diri sendiri

    mental tempe?butuh berapa tahun ya biar berubah jadi mental baja?

  9. bad habit… tapi sdh mendarahdaging ya….susah banget tuch diberantas…serba salah…gak dikasih dikatain pelit, ngasih…sama saja ngedukung mereka yaaaa? huffttt …biar aja dikatain pelit ach…

  10. memprihatinkan memang …kadang, tanpa uang tips pekerjaan/pelayanan jadi asal-asalan …

  11. tip itu hak dari yang memberi lebih dahulu. Yang diberi jika tidak diberi tidak boleh menuntut.Hehehe, saya ngurus surat surat resmi aja dimintain tip 😀

  12. Bim, di kota yogya katanya ngurus ktp, dsb, benar2 gratis ya?

  13. nour1571 said: bad habit… tapi sdh mendarahdaging ya….susah banget tuch diberantas…serba salah…gak dikasih dikatain pelit, ngasih…sama saja ngedukung mereka yaaaa? huffttt …biar aja dikatain pelit ach…

    iya mbak, kadang kaya buah simalakama, maju kena mundur kena. Memang kita tidak bisa menyenangkan semua orang

  14. hwwibntato said: memprihatinkan memang …kadang, tanpa uang tips pekerjaan/pelayanan jadi asal-asalan …

    mentalitas komisi mas, sudah lama sejak jaman penjajahan dan orde baru. Harus dikikis perlahan lahan

  15. jadi inget… dulu pertama kali makan di restoran cepat saji…. diajak seh… begitu pergi ninggalin tips… tapi belakangan nggak pernah ngasih 🙂

  16. bimosaurus said: tip itu hak dari yang memberi lebih dahulu. Yang diberi jika tidak diberi tidak boleh menuntut.Hehehe, saya ngurus surat surat resmi aja dimintain tip 😀

    iya mas, seharusnya begitu memang, hanya saja kalau sudah mental ya berat jadinya

  17. jampang said: jadi inget… dulu pertama kali makan di restoran cepat saji…. diajak seh… begitu pergi ninggalin tips… tapi belakangan nggak pernah ngasih 🙂

    sebenarnya mending kasih sedekah bang, kalaupun kasih tips paling juga buat beli rokok. kasihan dia malah jadi sakit. Btw, kapan dong mampir ke tempat bang Rifki, mau coba bir pletoknya nih 😀

  18. agamfat said: Bim, di kota yogya katanya ngurus ktp, dsb, benar2 gratis ya?

    kalau saya belum pernah ngurus ktp di Jogja mas 😀

  19. secara pribadi saya juga tidak setuju.. nih… saya lebih suka kalo ada semisal perusahaan besar yang melayani pengantaran barang semisal elektronik, mebel, dll menegaskan karyawannya untuk tidak meminta tips.Ini hal yang ingin saya bahas dalam beberapa hari belakangan, jadi begitu nemu judul ini langsung buka..Saya ga mau jadi orang yang pelit dalam memberi tapi saya juga ga suka mental pengemis dipelihara.. Kalau memang sesorang mau memberikan tips atas kepuasan yang dia terima silahkan saja.. tapi jadi ga respect kalo yang bersangkutan menadah tangan meminta tips. Dan sebaiknya itu tidak dilegalkan oleh orang yang menggajinya.Salam kenal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Klinik Quantum Touch Indonesia

Terapi Pengobatan Alternatif Quantum Touch

Pelita Dzatiyah

IQRA, Membuka Cakrawala Membangun Peradaban

Zen Flash

The journey of a 1000 miles begins with a single step

Love Books A Lot Indonesia

Read A Lot, Share A Lot.

Iyut Syfa

Your Coffeemate

Yanuardi Syukur

Dimanapun Kamu Ditanam, Berkembanglah!

Bimosaurus

I'm My Own Enemy..

Firsty Chrysant

The Blue Chrysant Park ~ 파란 크리산 공원

Rek ayo Rek

Evia Koos

duaBadai

The alter ego of Disgiovery.com

E.L.O.K.46

Cogito Ergo Sum

faziazen

a Journal of MomPreneur

SR For SalmanRafan

cintai takdirmu~

Rumah Mbakje

mengeja kata membaca makna

Fathia's little cave

I sail the world through the words.

misbakhuddinmuhammad

Just another WordPress.com site

lijiun

Smile Always

Inilah Dunia Mita

menikmati detik demi detik hidup nie, karena terlalu indah jika hidup nie terlewatkan begitu saja

Merangkai Inspirasi

Bulu pena akan membawamu terbang, dengan kata-kata yang kau tulis seperti halnya bulu menerbangkan burung menuju langit. (Leonardo Da Vinci)

Sarah's World

Come, sit down here, and please enjoy my treats.

F I T T O Reflexology

100% Pijat Keluarga Sehat TERPERCAYA

Terapi Yumeiho Original Jepang

Dahsyatnya Terapi Yumeiho Untuk Mengatasi Sakit Tulang Pinggul

INSPIRASI DANU

sebuah ruang untuk saling berbagi inspirasi dan motivasi

Nataya Rizani

Memberi itu Menambah Rezeki

santipanon

Flowers are yellow, some are orange, and others are vermillion, serenepeacefulcalm

Blog Tausiyah275

Mari Berlomba-lomba Bermanfaat Bagi Orang Lain :-)

Sofistika Carevy

Another Carevy Karya

Berbagi itu Indah

Kesehatan dan pendidikan untuk kaum dhuafa dan yatim piatu

Keluarga Kecil Zawawi

Luthfi - Cindy - Aisyah

~Cruising through my Life~

journey since 1989...

hujantanpapetir

"Menulis adalah proses mengonversi perjalanan menjadi pengalaman."

Blog Prita

Campuran kenangan, buah pikir, dan hari-hari

mybeautterfly

My metamorphosis in heading back to Allah...

The hary.j.mansur Blog

My Life Documentation

Me and My Life

a dreamer, writer wanna be, and general practitioner

DUST

LEARN IN THE DESERT

Febriyan Lukito

sharing, caring and enriching life

Pray for Nasywa

Blog dukungan untuk kesembuhan Nasywa

Arip Blog

Aku berpikir dan berpikir dan mengada-ada!

waiting room

: dari senyap ruang tunggu, tempat aku menemukan-Mu

ANOTHER DAY

THE FICTION STORY

SAVING MY MEMORIES

another home of my mind

fluoresensi

Keinginan itu pasti terwujud, entah 1 tahun, 2 tahun hingga puluhan tahun kemudian. Bersabarlah #cumanmasalahwaktu

re-mark-a-blog

A Remarkable Blog by Justisia Nita

Majelis Ta'lim Basaudan

Tempat belajar Ilmu Agama Islam & Bahasa Arab

dewidyazhary

a silly-couple yarn

%d blogger menyukai ini: