Isu SARA yang malah jadi Bumerang

Note: ini tulisan lama yang saya buat saat pasangan Jokowi – Ahok memenangkan pilkada DKI putaran II, jadi mohon maaf jika tidak up to date. Semoga bermanfaat untuk pembacanya.

 

Pilkada DKI putaran kedua pun sudah selesai digelar. Hasil perhitungan cepat atau quick count menunjukkan bahwa psangan nomor 3, Joko Widodo dan Basuki Purnama alias Ahok berhasil memenangkan pertarugnan kali ini. Memang, hasil itu bukanlah hasil yang sebenarnya, yang nantinya akan dikeluarkan secara resmi oleh KPUD. Namun, jika hasil perhitungan cepat atau quick count sesuai dengan versi resminya, maka tidak diragukan lagi Jokowi dan Ahok akan memimpin ibukota ini lima tahun ke depan.

Saat-saat menjelang Pilkada putaran II tersebut memang marupakan saat-saat menengangkan. Pasangan Jokowi – Ahok berulang kali diserang oleh isu SARA oleh para pendukung pesaingnya. Di situs-situs jejaring sosial bisa kita temukan banyak posting tulisan dan berita serta gambar yang memojokkan kedua sosok yang sedang berlaga di Pilkada DKI ini. Mulai dari gambar Jokowi “menjamas” alias memandikan mobil Asemka dengan air kembang sampai anjuran memilih pemimpin seiman dan seagama. Di khutbah-khutbah Jumat di sebagian masjid, terutama yang para pengurusnya berlatar belakang muslim tradisional, tidak lupa khatib mengutip ayat-ayat yang melarang kaum muslimin memilih pemimpin orang non Islam. Dalam doa-doa yang diucapkan para kyai, ustadz dan mubaligh banyak pula yang meminta kepada Allah SWT agar dianugerahi pemimpin yang muslim. Namun pada akhirnya, dukungan yang begitu massif dan bertubi-tubi akhirnya kandas saat putaran II Pilkada DKI digelar. Perhitungan cepat atau quick count, yang selama ini terkenal cukup akurat, menunjukkan indikasi kemenangan Jokowi dan Ahok.

Para pemilih Jokowi dan Ahok bisa jadi adalah orang-orang yang sudah lelah dengan kepemimpinan Foke dan para pendahulunya. Foke yang saat Pilkada DKI Jakarta tahun 2007 lalu mengklaim diri sebagai ahlinya Jakarta ternyata kurang bisa memuaskan warga Jakarta, terutama mereka yang relatif terdidik. Selama memimpin Jakarta, banyak warga Jakarta yang kurang merasakan adanya perubahan signifikan dalam perbaikan dan pengelolaan ibukota ini. Andalan Foke dalam menghadapi banjir hanya BKT alias Banjir Kanal Timur yang tersendat-sendat penyelesaian pembangunannya. Kanal tersebut pernah mendapat kritikan dari pakar tata kota, pak Marco Wijajakusuma, yang mengatakan bahwa BKT hanya bisa menyelesaikan beberapa belas persen dari masalah banjir di Jakarta. Masalah macet tentu tidak usah ditanya. Selama pabrik kendaraan masih memproduksi mobil dan motor serta selama masih ada pembelinya jangan harap masalah macet akan teratasi. Kurangnya rasa aman dan kenyamanan saat naik kendaraan umum juga merupakan kendala lainnya dalam mengatasi kemacetan. Warga tidak merasakan adanya perbedaan antara naik kedaraan umum dengan naik mobil pribadi, sama sama kena macet. Belum lagi isu motor pemadam kebakaran yang masing-masing unitnya hampir seharga mobil sedan mewah. Isu motor pemadam itu sempat menghebohkan dunia maya, terutama di jejaring sosial. Sehingga, ketika ada berita Foke mengusulkan Giant Sea Wall untuk mengatasi banjir di Jakarta, banyak komentar sinis yang menganggap bahwa itu hanya akal-akalan untuk korupsi lebih banyak lagi. Ternyata himbauan dan ajakan dari para kyai, ustadz dan habaib tidak akan cukup mampu membuat umat memilih calon yang hanya karena seiman dan seagama namun minim kinerja.

Terpilihnya Jokowi dan Ahok bisa jadi merupakan semacam sanksi sosial dan moral yang dilakukan warga Jakrta terhadap Foke. Sudah bukan rahasia umum lagi, betapa muak dan marahnya warga Jakarta terhadap masalah-masalah yang setiap hari mereka hadapi dan tidak kunjung ada solusinya. Isu SARA yang sempat bergulir di masjid-masjid tertentu pun malah berbalik menghantam pasangan incumbent dan wakilnya. Mungkin para pemilih Jokowi – Ahok ada yang berpikir “Biarin aja gw pilih pemimpin yang lain, Tuhan juga tahu koq kualitas pemimpin yang agamanya Islam tapi selama ini gak becus”. Seakan-akan himbauan dan peringatan para kyai, ustadz dan habib yang meminta masyarakat memilih pemimpin muslim tidak digubris sama sekali oleh mereka. Semua itu merupakan bagian dari sunatullah yang tidak bisa dilawan oleh siapapun, betapapun besar kekuasaannya.

Semoga bermanfaat

Iklan

Posted on November 13, 2012, in Uncategorized and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 11 Komentar.

  1. Mungkin para pemilih Jokowi – Ahok ada yang berpikir “Biarin aja gw pilih pemimpin yang lain, Tuhan juga tahu koq kualitas pemimpin yang agamanya Islam tapi selama ini gak becus”.

    Pemikiran seperti itu lebih bijak.

    Untuk menengahinya sampai ada joke: “bagi umat Islam wajib nyoblos Jokowi, bagi umat non-muslim wajib nyoblos Ahok”.

    • begitulah mas, saat masih kampanye dulu, pas yang khutbah menganjurkan memilih pemimpin yang muslim, jamaah pada saling pandang dan bahasa tubuh mereka menyiratkan ketidaksetujuan pada si ulama yang sedang berkhutbah itu

      • Memang pemimpin yg ideal adalah yg satu akidah, namun dalam kondisi kehidupan bernegara demokrasi di dalam masyarakat yg majemuk & beragam ini, untuk mencapai kondisi ideal itu tentu akan banyak tantangannya.

        Dan seringnya ayat2 tentang “pemimpin” itu dipolitisir buat pemimpin korup yg muslim untuk melanggengkan kekuasaannya, banyak contohnya 🙂

        Hukum dilarangnya mengangkat orang2 non-muslim sbg pemimpin karena adanya illat, yaitu adanya kekhawatiran dampak negatif bagi agama dan umat Islam. Selama pemimpin non-muslim tsb diyakini mendatangkan keburukan atau kemudharatan, maka hukum memilihnya haram. Sebaliknya, bila keyakinan adanya bahaya itu tidak ada, maka hukumnya boleh.

        Dalam situasi dan kondisi Indonesia yg demokratis, tentu kekhawatiran seperti itu kurang beralasan, karena kekuasaan Pemerintah Daerah tidak mutlak dan tidak absolut. UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah telah mengatur apa saja yg menjadi tugas dan kewenangan serta kewajiban Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, serta apa saja yang tidak boleh dilakukan.

        Dalam pasal 28 Poin (a) menyebutkan: Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dilarang membuat keputusan yang secara khusus memberikan keuntungan bagi diri, anggota keluarga, kroni, golongan tertentu, atau kelompok politiknya yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, merugikan kepentingan umum, dan meresahkan sekelompok masyarakat, atau mendiskriminasikan warga negara dan/atau golongan masyarakat lain;

        Para pendahulu negeri ini sudah begitu cerdas mengatur hal ini dalam UU guna menyikapi munculnya kondisi buruk yang dipicu oleh masalah SARA.

        Dalam poin UU tsb jelas bahwa Kebijakan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah tidak bisa sewenang-wenang dan sesuka hatinya, namun harus didasarkan peraturan perundang-undangan. Jika ada Kepala Daerah atau Wakilnya (spt Ahok yg non-muslim itu) berani melanggar aturan, maka bersiap-siaplah untuk berurusan dgn aparat penegak hukum dan menghadapi demonstrasi rakyat. Kita semua akan melawannya.

        Kebijakan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah tidak bisa ditentukan sendiri secara otoriter. Setiap kebijakan yg diputuskan harus melalui musyawarah dg banyak pihak, dan dalam pelaksanaannya diawasi oleh rakyat dan wakil-wakilnya yg duduk di DPR, serta dikontrol oleh media baik itu koran, majalah, televisi, radio, dan juga LSM.

        Saya lebih memegang prinsip bahwa seorang pemimpin mesti mewarisi sifat-sifat Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wassalam, sehingga berlaku logika:

        a. Jika ada dua calon atau lebih calon pemimpin yang semuanya beragama Islam, siapa yg harus dipilih?

        Yang harus dipilih adalah salah satu dari mereka yg: paling shiddiq (jujur, tidak korupsi, tidak berbohong), paling fathonah (cerdas), paling tabliq (berkomunikasi, mampu menyampaikan ajaran yang benar), paling amanah (bisa dipercaya dan pro rakyat).

        b. Jika ada yang muslim dan ada yang non muslim, siapa yg harus dipilih?

        Yang harus dipilih adalah salah satu dari mereka yg: paling shiddiq (jujur, tidak korupsi, tidak berbohong), paling fathonah (cerdas), paling tabliq (berkomunikasi, mampu menyampaikan ajaran yang benar), paling amanah (bisa dipercaya dan pro rakyat).

        Daripada menghujat Ahok karena non-muslim, saya justru lebih banyak men-doakan beliau agar mendapatkan hidayah-Nya, karena beliau telah beritikad baik untuk memimpin dg mewariskan sifat-sifat Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam.

      • Betul mas Iwan, sudah saatnya kita hentikan hujat menghujat selama ini dan menggantinya dengan introspeksi yang jujur dan mendalam. 🙂

        Paling tidak Ahok sudah memberi contoh pada kita semua bahwa adalah mungkin bersikap tegas terhadap perilaku korup dan inefisien dari para birokrat kita.

        Sehingga, sudah selayaknya kaum muslimin meneladani ketegasan beliau agar tidak tertinggal lagi seperti dahulu

  2. bahasa lainnya: mau kucing hitam atau merah, yang penting biosa menangkap tikus. kucing foke sudah jelas hanya tidur kerjanya

  3. Kata Pak Iwan (soalnya gak bisa ‘reply dan quote’ hehe) : Hukum dilarangnya mengangkat orang2 non-muslim sbg pemimpin karena adanya illat, yaitu adanya kekhawatiran dampak negatif bagi agama dan umat Islam. Selama pemimpin non-muslim tsb diyakini mendatangkan keburukan atau kemudharatan, maka hukum memilihnya haram. Sebaliknya, bila keyakinan adanya bahaya itu tidak ada, maka hukumnya boleh.

    Emm jdi gitu ya Pak? Saya baru tahu hehe. Jadi suka sedih kalau melihat daerah yang dipimpin nonmuslim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Klinik Quantum Touch Indonesia

Terapi Pengobatan Alternatif Quantum Touch

Pelita Dzatiyah

IQRA, Membuka Cakrawala Membangun Peradaban

Zen Flash

The journey of a 1000 miles begins with a single step

Love Books A Lot Indonesia

Read A Lot, Share A Lot.

Iyut Syfa

Your Coffeemate | A Little Wanderer

Yanuardi Syukur

Dimanapun Kamu Ditanam, Berkembanglah!

Bimosaurus

I'm My Own Enemy..

Firsty Chrysant

The Blue Chrysant Park ~ 파란 크리산 공원

Rek ayo Rek

Evia Koos

duaBadai

The alter ego of Disgiovery.com

E.L.O.K.46

Cogito Ergo Sum

faziazen

a Journal of MomPreneur

SR For SalmanRafan

cintai takdirmu~

Rumah Mbakje

mengeja kata membaca makna

Fathia's little cave

I sail the world through the words.

misbakhuddinmuhammad

Just another WordPress.com site

lijiun

Smile Always

Inilah Dunia Mita

menikmati detik demi detik hidup nie, karena terlalu indah jika hidup nie terlewatkan begitu saja

Merangkai Inspirasi

Bulu pena akan membawamu terbang, dengan kata-kata yang kau tulis seperti halnya bulu menerbangkan burung menuju langit. (Leonardo Da Vinci)

Sarah's World

Come, sit down here, and please enjoy my treats.

F I T T O Reflexology

100% Pijat Keluarga Sehat TERPERCAYA

Terapi Yumeiho Original Jepang

Dahsyatnya Terapi Yumeiho Untuk Mengatasi Sakit Tulang Pinggul

INSPIRASI DANU

sebuah ruang untuk saling berbagi inspirasi dan motivasi

Nataya Rizani

Memberi itu Menambah Rezeki

santipanon

Flowers are yellow, some are orange, and others are vermillion, serenepeacefulcalm

Blog Tausiyah275

Mari Berlomba-lomba Bermanfaat Bagi Orang Lain :-)

Sofistika Carevy

Another Carevy Karya

Berbagi itu Indah

Kesehatan dan pendidikan untuk kaum dhuafa dan yatim piatu

Keluarga Kecil Zawawi

Luthfi - Cindy - Aisyah

~Cruising through my Life~

journey since 1989...

hujantanpapetir

"Menulis adalah proses mengonversi perjalanan menjadi pengalaman."

Blog Prita

Campuran kenangan, buah pikir, dan hari-hari

mybeautterfly

My metamorphosis in heading back to Allah...

The hary.j.mansur Blog

My Life Documentation

Me and My Life

a dreamer, writer wanna be, and general practitioner

DUST

LEARN IN THE DESERT

Febriyan Lukito

sharing, caring and enriching life

Pray for Nasywa

Blog dukungan untuk kesembuhan Nasywa

Arip Yeuh!

Harimau berburu, burung terbang, dan protagonis kita ini terus menggerutu

Membaca Rindu

sebab menulis adalah kata kerja

waiting room

: dari senyap ruang tunggu, tempat aku menemukan-Mu

ANOTHER DAY

THE FICTION STORY

SAVING MY MEMORIES

another home of my mind

fluoresensi

Keinginan itu pasti terwujud, entah 1 tahun, 2 tahun hingga puluhan tahun kemudian. Bersabarlah #cumanmasalahwaktu

re-mark-a-blog

A Remarkable Blog by Justisia Nita

Majelis Ta'lim Basaudan

Tempat belajar Ilmu Agama Islam & Bahasa Arab

dewidyazhary

a silly-couple yarn

%d blogger menyukai ini: