Monthly Archives: Februari 2013

Resiko Jadi Anak Pejabat

Resiko jadi anak pejabat memang dihujat di mana-mana, apalagi di jejaring sosial atau forum-forum di internet. Ketika ada berita seorang anak pejabat menabrak mobil lain dengan mobil mewahnya saat tahun baru yang lalu, langsung saja publik bereaksi keras. Mereka menuntut agar si anak pejabat dihukum seberat-beratnya karena menurut berita tabrakkan itu sudah sampai menimbulkan korban jiwa. Ketika ada berita seorang cucu pejabat tinggi lainnya mendapat perawatan istimewa di rumah sakit sementara ada anak yang sampai meninggal karena ditolak 10 rumah sakit, reaksi publik lebih keras lagi. Memang, berita tentang bayi yang meninggal itu sendiri masih simpang siur. Ada yang bilang bahwa si bayi memiliki kelainan yang tidak mampu diatasi rumah sakit-rumah sakit yang ada. Publik tetap saja membandingkan bayi yang ditolak itu dengan bayi lainnya yang merupakan cucu dari seorang pejabat tinggi negara. Dengan kata lain, anak dari seorang anak pejabat.

Steretype anak pejabat yang suka bermewah-mewah, arogan dan maunya menang sendiri memang sudah ada sejak lama. Tahun 1980 pernah ada film berjudul Perawan Desa. Film ini mengisahkan tentang Sum Kuning (Yatty Surachman) seorang gadis belia penjual telur yang cantik dari Godean, Yogyakarta. Pada tahun 1970 ia diperkosa oleh anak seorang tokoh masyarakat (dan diduga juga oleh beberapa teman anak itu) di kota Yogyakarta. Kasus ini merebak menjadi berita besar ketika pihak penegak hukum terkesan mengalami kesulitan untuk membongkar kasusnya hingga tuntas. Pertama-tama Sum Kuning disuap agar tidak melaporkan kasus ini kepada polisi. Belakangan tuduhan Sum Kuning dinyatakan sebagai dusta. Seorang pedagang bakso keliling dijadikan kambing hitam dan dipaksa mengaku sebagai pelakunya. Film ini sempat dilarang diputar saat pemerintahan Orde Baru berkuasa.

Memang, tidak ada orang yang meminta dilahirkan sebagai seorang anak pejabat. Di satu sisi, lahir sebagai anak pejabat memang bisa jadi anugerah tapi di sisi lain bisa jadi juga jadi musibah. Mau tidak mau suka tidak suka, tingkah laku seorang anak pejabat pasti bakal jadi sorotan publik. Apalagi di zaman pesatnya perkembangan teknologi informasi seperti sekarang ini. Salah bertingkah sedikit saja sudah harus siap-siap jadi sasaran bulan -bulanan dan caci maki. Apalagi di era serba bebas dan bablas yang kini sedang melanda Indonesia saat ini ditambah lagi dengan kecanggihan teknologi informasi yang seakan tak terbatas.

Namun demikian, sebenci apapun kita terhadap seseorang, bersikap adil seharusnya mesti dikedepankan. Anak pejabat memang bukan malaikat tapi juga bukan setan. Anak pejabat adalah manusia biasa yang bisa jadi orang baik atau orang jahat. Anak pejabat memang seringkali hidup dalam kemewahan dan gelimang harta benda. Jadi, bisa dipahami jika banyak diantara mereka yang kurang memiliki kepekaan sosial pada sesama manusia, terutama kepada mereka yang miskin. Walaupun tentu saja pemahaman itu bukan berarti pembenaran terhadap tingkah laku sebagian dari mereka yang suka berbuat seenaknya saja. Keadilan harus ditegakkan kepada siapapun yang bersalah walaupun tinggi kedudukannya atau berasal dari keluarga yang berkuasa.   

Dari ‘Aisyah ra. bahwasanya bangsa Quraisy dipusingkan oleh persoalan seorang wanita dari suku Makhzum yang mencuri, kemudian mereka bertanya : “Siapa lagi yang pantas diutus untuk memintakan keringanan (dsipensasi) masalah ini kepada Rasulullah saw.?” Akhirnya mereka berkata : “Siapa lagi yang pantas diutus kecuali Usamah bin Zaid yang kekasih Rasulullah saw itu.” Maka Usamah menyampaikan hal itu kepada beliau, kemudian Rasulullah saw. bersabda : ” Apakah pantas kamu memintakan dispensasi dalam salah satu dari hukum-hukum Allah yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala”. Setelah itu beliau berdiri dan berpidato : “Sesungguhnya kebinasaan orang-orang sebelum kalian adalah apabila ada orang terhormat diantara mereka mencuri, maka mereka membiarkan, dan apabila orang lemah diantara mereka itu mencuri, maka dilaksanakanlah hukum itu kepadanya. Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad saw itu mencuri aku pasti akan memotong tangannya.(HR.Bukhari dan Muslim).

Semoga bermanfaat

Terapi EFT untuk meringankan sakit akibat luka parah

Setiap kita tentunya pernah merasakan luka. Apakah hanya sekedear tersayat pisau atau cutter sampai dengan luka parah yang memerlukan penjahitan karena ada jaringan tubuh yang rusak atau robek. Prosedur penyembuhan luka sangat ditentukan oleh seberapa parah luka itu sendiri. Dalam penyembuhan luka, selain prosedur baku yang memang harus dilakukan ahlinya, ada beberapa terapi tambahan yang bisa dipergunakan untuk meringankan dan mempercepat kesembuhan. Salah satunya adalah EFT (Emotional Freedom Technique)

Prinsip yang pernah dikemukan Gary Craig, pendiri EFT, juga berlaku dalam proses penyembuhan luka. Gary mengatakan bahwa ““The cause of all negative emotions is a disruption in the body’s energy system” atau “penyebab semua emosi negatif adalah gangguan pada sistem energi tubuh.” Bukan berarti EFT dapat langsung dipergunakan untuk menyembuhkan luka yang parah, seperti yang biasa ditemui dalam kasus-kasus kecelakaan. Namun, EFT masih bisa dipergunakan untuk meringankan rasa sakit yang dirasakan dan mempercepat kesembuhan.

Tips untuk menggunakan EFT dalam penyembuhan luka yang parah adalah sebagai berikut:

1. Prosedur standar penyembuhan luka tetap harus dilakukan. Jika luka itu sampai harus dijahit, ya tetap harus dijahit. Jika penderita harus istirahat total, ya tetap harus istirahat dan sebagainya. Prosedur tersebut harus dilakukan oleh tenaga medis berpengalaman.

2. EFT bisa dipergunakan untuk meringankan rasa sakit yang diderita pada bagian-bagian tertentu. Penderita bisa melakukan terapi pada dirinya sendiri atau diterapi orang lain. Pilih bagian yang paling terasa sakit terlebih dahulu. Terapi EFT hanya bisa dilakukan pada satu bagian tertentu pada satu waktu.

3.  Jika dalam kondisi normal kita bisa melakukan Set-up sebagai awalan terapi, maka dalam kasus luka parah set-up tidak selalu perlu dilakukan. Apalagi jika pasien atau penderita sudah “tune in” dengan rasa sakit tersebut. Praktisi bisa langsung melakukan tapping pada titik-titik standar EFT (EFT Tapping Point).  

4. Rasa sakit perlu dirasakan setepat mungkin. Jika perlu dan memungkinkan, penderita dapat melakukan gerakan-gerakan tertentu yang biasanya sakit jika dilakukan. Tentunya, melakukan gerakan-gerakan itu tidak boleh dipaksa dan harus dilakukan semampunya. Saat rasa sakit muncul lakukan terapi EFT pada bagian tersebut. Jika penderita bisa melakukan gerakan tersebut tanpa rasa sakit, terapi bisa dilanjutkan pada gerakan-gerakan lain yang perlu dilakukan. Jika timbul lagi rasa sakit, lakukan terapi EFT pada rasa sakit tersebut. Mirip dengan kasus orang yang tidak mampu melakukan gerakan-gerakan tertentu seperti ruku dalam sholat dan sebagainya.  

5. Biasanya, bagian yang sakit itu akan terasa sangat panas. Namun kita tidak perlu takut karena itu adalah proses penyembuhan. Rasa panas itu adalah tanda mengalirnya lebih banyak pada bagian yang terluka atau sakit sehingga proses penyembuhan lebih cepat terjadi. Perlahan-lahan panas itu akan berkurang dan bagian yang sakit akan terasa lebih nyaman.

6. Jika satu bagian sudah membaik, maka terapi EFT harus dilanjutkan ke bagian lain yang masih sakit. Biasanya, jika satu bagian sudah membaik akan timbul rasa sakit di bagian lain. Rasa sakit yang timbul itu sebenarnya sudah ada namun tertutupi oleh rasa sakit yang lebih terasa di bagian yang sudah membaik. Ada yang mengistilahkan dengan chasing the pain (mengejar rasa sakit).

7. One minute wonder (keajaiban seketika) yang seringkali ditemukan dalam kasus-kasus ringan seperti pusing, masuk angin, pegal-pegal dan sebagainya memang sulit untuk diharapkan terjadi pada luka yang parah akibat kecelakaan. Perlu kesabaran dan konsistensi yang lebih agar penyembuhan yang diharapkan lebih cepat terjadi.

Semoga bermanfaat 

Semoga cepat sembuh nak, doa kami semua bersamamu. Untuk rekan-rekan yang punya kelebihan rezeki semoga sudi membantu

Pray for Nasywa

2012-02-26 07.35.41-12012-02-04 11.39.22-12011-06-04 10.41.322013-01-07 10.02.24

Lihat pos aslinya

Menyembuhkan Diri dengan Mengaktifkan Hati Nurani

Hanya pada Allah hati kan berserah
Hanya pada Allah jiwakan berpasrah
Karna segalanya tergantung pada Nya
Hanya pada Dia semua bermuara

Hanya hamba Allah
Opick featuring Amanda

Perasaan-perasaan negatif yang melanda diri manusia dapat menyebabkan penyakit. Perasan seperti marah, sedih, kecewa,takut dan sebagainya akan membuat tubuh mengeluarkan hormon-hormon yang merugikan kesehatan seperti kortisol. Perasaan-perasana itu sendiri tidak bisa diubah tapi bisa dinetralisir dengan mengubah pola pikir yang mendasarinya. Banyak emosi dan perasan negatif itu timbul karena prasangka kita sendiri. Misalnya, kita menegur seseorang tapi orang itu tidak menghiraukan dan kita pun kecewa. Kita bisa menetralisir perasan negatif itu dengan mengubah sudut pandang kita, misalnya, oh ornag itu mungkin sedang melamun atau kurang sehat. Perubahan sudut pandang itu akan membantu kita menetralisir perasaan negatif yang ada dalam diri kita. Dalam Islam perubahan sudut pandang itu bisa disebut khusnudzon atau prasangka baik dan dalam ilmu NLP (Neuro Linguistic Programming) disebut Reframing. Menetralisir perasaan-perasaan negatif itu juga bisa dilakukan dengan tapping seperti dalam terapi Emotional Freedom Technique.

Namun, untuk perasaan-perasaan negatif dan trauma yang sudah bertumpuk dalam waktu yang lama, teknik seperti itu tidak selalu bisa diterapkan. Teknik-teknik tersebut seringkali menemui jalan buntu saat berhadapan dengan masalah emosi yang sudah menumpuk selama bertahun-tahun. Apabila hal itu yang terjadi, maka manusia mau tidak mau harus kembali kepada Penciptanya dan kembali mengaktifkan hati nuraninya. Hati Nurani itu adalah anugerah dari Allah SWT pada semua manusia ciptaanNya. Namun sungguh disayangkan banyak orang tidak aktif hatinya karena kalah oleh dominasi otak dan ego. Otak adalah pusat dari jasamani manusia sedangkan hati adalah pusat dari ruhaninya. Ego dan otak memang selalu mencari solusi atas setiap permasalahan pada tingkat materi dan logika. Sedangkan hati jika aktif dan bersih akan menyandarkan segala yang dihadapi hanya kepada Allah SWT. Mungkin itulah mengapa para Nabi dan Rasul selalu berhadapan dengan musuh-musuh yang mengancam nyawa mereka. Ancaman musuh-musuh tersebut akan terus menghidupkan hati mereka agar terus ingat pada Allah SWT.  

Memang, semua manusia pasti akan aktif hati nuraninya saat ajal tiba, saat dia menyadari siapa dirinya sesungguhnya. Namun, apakah kita akan menungguh hingga kematian baru kita akan mengaktifkan hati kita? Jika kita memang ingin mengaktifkan hati nurani kita, mau tidka mau kita harus mengurangi dominasi ego dan kecenderungan akan hal-hal materialistik dalam kehidupan kita. Mengingat kematian, memohon ampun atas dosa dan kesalahan, banyak berdzikir dan beristighfar, banyak bersedekah dan beramal sholeh adalah sebagian dari cara-cara yang bisa kita tempuh untuk mengaktifkan hati nurani kita yang mungkin selama ini mati suri. Bukan berarti kita sama sekali tidak membutuhkan materi namun kita hanya mengambil secukupnya saja. Dalam istilah Islam, kita menerapkan pola hidup zuhud, menggenggam dunia tanpa memasukkannya ke dalam hati kita. “(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih” Asy-Syu’ara 26 : 88-89

Semoga bermanfaat

Sumber: Acara Ruang Kesehatan Radio Silaturahim 720 AM dengan beberapa penambahan

Related post

Dzikir Penentram Batin

Menjaga Emosi demi Kesehatan Organ Tubuh

[Renungan] Bencana Dunia dan Bencana Akhirat

Beberapa hari belakangan ini, kita seakan disuguhi tanpa henti berita tentang bencana. Mulai dari banjir yang melanda ibukota Jakarta dan sekitarnya, gempa bumi hingga hujan meteor yang melanda Rusia. Semua itu adalah bencana yang seringkali melanda di dunia ini.

Namun pernahkah kita menyadari bahwa ada bencana-bencana yang seringkali melanda tanpa kita sadari? Sebagai contoh, mungkin untuk sebagian orang, sholat tanpa berjamaah di awal waktu bukan hal yang harus dipermasalahkan. “Daripada enggak sholat kan mendingan sholat sendirian” demikian menurut pendapat mereka. Tidak sepenuhnya salah memang, minimal kewajiban sholat tergugurkan dan tidak lagi harus menanggung dosa besar meninggalkan ibadah tersebut. Namun bagi sebagian yang lain, tertinggal sholat berjamaah jauh lebih merupakan bencana daripada kehilangan segala yang dimiliknya.

Saya pernah membaca sebuah riwayat yang Insya Allah shahih, Umar Bin Khattab ketinggalan sholat Ashar berjamaah karena sedang melihat-lihat kebun kurma miliknya yang sangat rindang dan sejuk. Umar begitu menyesali hilangnya kesempatan emas untuk sholat Ashar berjamaah sehingga beliau tidak segan-segan menyedekahkan kebun itu di jalan Allah sebagai penebus atas kesalahan beliau tersebut. Riwayat itu dimuat dalam buku yang ditulis Syaikh Abdullah Nasih Ulwan yang berjudul Tarbiyah Ruhiyah. Sungguh suatu sikap yang sangat bertolak belakang dengan banyak kaum muslimin sekarang ini yang masih memandang enteng pentingnya sholat berjamaah.

Padahal, bukankah saat kita sholat berjamaah dengan menyempurnakan segala syarat dan rukunnya, kita seakan-akan sholat 27 kali karena balasan pahalanya dilipatgandakan 27 kali lipat. Itu baru sholat berjamaah, bagaimana lagi dengan banyak amalan-amalan sunnah yang seringkali terlalaikan? Semua itu, jika dikerjakan dengan sungguh-sungguh, akan jadi tambahan amal yang akan memberatkan timbangan kebaikan kita di Yaumil Akhir nanti. Namun sayang, kita tidak menganggap meninggalkan semua itu sebagai bencana.

Tulisan ini sudah dimuat di situs Majalah Islam Wasathon

Semoga bermanfaat

Catatan Trauma Healing bagian 2

Sambungan dari posting yang ini

Rabu, 23 Januari 2013

Hari itu lokasi yang dikunjungi tim trauma healing ACT adalah posko pool busway Kedoya yang sudah pernah dikunjungi. Saat itu ada bintang tamu mbak Inneke Koesherawati dan teman-teman dari World Muslimah Beauty. Sesudah acara, kami melakukan terapi pada para korban banjir seperti biasa.

Kamis, 24 Januari 2013

Hari kamis kami mengunjungi Pondok Gede Permai, salah satu daerah yagn paling parah dilanda banjir. Posko yang kami kunjungi terletak dekat tanggul yang membatasi pemukiman dengan sungai yang sangat besar. Saat kami datang ke sana, belum banyak pasien yang minta diterapi karena pada umumnya mereka sedang membersihkan rumah masing-masing. Jadi kami antar sesama terapis bisa punya kesempatan banyak sharing, apalagi ada yang memahami NLP, Hypnotherapy dan sebagainya. Ibu Chairunnisa menceritakan saat bertugas di Aceh ketika tsunami terjadi. Ada orang yang masih hidup namun tertusuk batang bambu dan sedang menunggu kematiannya. Semua merasa ngeri dan sedih mendengar cerita tersebut. Ibu Arun, panggilan akrab ibu Chairunnisa, juga mengisahkan pengalaman beliau di luar negeri, di mana banyak pasien operasi yang trauma pasca operasinya ditangani para praktisi hipnoterapi. Jika perlu obat malah diberi parasetamol sedangkan obat penenang seperti valium dan sejenisnya hanya diberikan jika benar-benar perlu.

Pak Nyoman, praktisi NLP dan pendiri AlphaTheta, mengatakan bahwa dalam hal trauma yang paling berbahaya adalah apabila trauma itu terus menerus diingat oleh yang mengalaminya. Apalagi saat mengingat-ingat pengalaman traumatis itu ditambah lagi dengan bumbu-bumbu emosional untuk mendramatisirnya.  

Saat sesi terapi, ada kejadian menarik. Biasanya, saat diterapi dengan S-EFT afirmasi dan doa yang diucapkan klien adalah “ya Allah saya ikhlas, saya pasrah”. Namun, ternyata afirmasi itu malah mengingatkan si ibu pada anaknya yang meninggal akibat kanker getah bening. Ibu tersebut pernah mengatakan pada anaknya yang saat itu masih hidup namun dalam keadaan sakit “bilang nak, ya Allah saya ikhlas, saya pasrah”.  Ibu Arun, yang saat itu sedang melakukan terapi pada si ibu, lalu melakukan reframing dengan teknik NLP agar si ibu bisa lega kembali dan tidak lagi sedih atas memori kehilangan tersebut. Ada juga ibu yang diajari terapi S-EFT oleh pak Nyoman karena secara tidak sadar si ibu sudah membuat semacam “emotional anchor” terlebih dahulu. Si ibu bilang “kalau di sini sih enak, ntar sampai rumah kan berantakan lagi” dan pak Nyoman menyadari hal tersebut sehingga beliau lebih memilih mengajari si ibu agar pola “emotional anchor” yang sudah terlanjur terbentuk itu bisa berubah.

Jum’at, 25 Januari 2013

Hari Jumat kami melakukan terapi trauma healing di daerah Kedoya, Jakarta Barat. Terapi dilakukan di sebuah mushalla di dekat posko. Salah satu kasus menarik yang saya tangani adalah seorang mantan tukang bajaj yang sudah menjalani profesinya selama 30 tahun. Salah satu tangan bapak itu tidak dapat digerakkan dengan sempurna, hanya bisa menggantung. Saya mencoba membantu dengan terapi EFT dan Quantum Touch namun tidak dapat membantu banyak karena sakitnya sudah sangat lama, puluhan tahun. Namun, setelah diterapi beberapa kali si bapak bilang sudah mendingan, semoga saja bermanfaat untuk beliau.

Pengalaman menarik lainnya dialami sesama terapis yaitu mbak Liza. Saat melakukan terapi, ada ketukan yang tanpa sengaja menyebabkan terbongkarnya lapisan emosional orang yang diterapi. Orang itu, seorang ibu, langsung menangis tersedu-sedu. Mbak Liza lalu meminta si ibu mengeluarkan semua yang dirasakannya. Setelah selesai terapi, si ibu mengatakan bahwa dia merasa sangat lega setelah beban emosionalnya bisa terlepaskan dan berkurang banyak. Memang, saat terapi dengan EFT tidak selalu beban emosional bisa terpancing dan terlepaskan namun jika hal itu terjadi maka bisa dibilang itu suatu anugerah yang luar biasa, baik bagi yang diterapi ataupun terapisnya sendiri.  

Karena saat itu teman-teman mahasiswi UIN tidak ikutan, maka tim yang bertugas di trauma healing anak-anak dibantu para relawan dari Dreamdelion yang sehari-harinya bermarkas di daerah bantaran kali Manggarai.

Jum’at, 8 Februari 2013:

Saat mengecek twitter di BB, saya menemukan info dari mbak Ina Madjidan (@inagibol) dari Gerakanberbagi.com tentang seorang anak yang mebutuhkan golongan darah O di RSCM. Kebetulan saya tinggal tidak terlalu jauh dari RSCM dan golongan darah saya sama dengan anak itu, O. Segera saya menghubungi ayahnya dan langsung meluncur ke RSCM. Ternyata anak itu mengidap leukumia (kanker darah) dan telah menghabiskan beberapa puluh kantong sel darah putih dan beberapa kantong sel darah merah. Saat itu yang dibutuhkan adalah darah merah untuk tranfusi dan saya pun bersedia membantu. Setelah menerima surat pengantar dari dokter, saya pun langsung menuju ke PMI Pusat di Jalan Kramat Raya. Saat di PMI, ternyata yang dibutuhkan adalah darah merah sehingga prosedur yang dilakukan adalah donor darah WH, bukan apheresis. Untunglah saya cukup sehat untuk melakukannya namun tentu saja konsekwensinya baru bisa donor darah lagi 3 bulan kemudian.

Sabtu, 9 Februari 2013

Kembali info kegiatan sosial diperoleh dari Twitter. Saat itu MS Peduli akan mengadakan baksos di Jatiasih yang beberapa hari sebelumnya dilanda banjir besar. Saya pun langsung menuju Tebet, tepatnya di Rumah Ilmu-nya Makelar Sedekah, tempat pemberangkatan para relawan yang mau ikutan. Sesudah semua relawan berkumpul, kami pun langsung ke lokasi di perumahan Pondok Gede Permai. Poskonya terletak di tempat yang sama dengan yang pernah saya datangi saat bersama ACT. Jika beberapa minggu sebelumnya debit air yang menerjang Jatiasih sekitar 300an, maka saat banjir besar kembali melanda daerah itu debit airnya sekitar 650. Kami membagikan paket santunan dan mengadakan pengobatan gratis bagi warga korban banjir di sana. Saya pun sempat melakukan terapi EFT dan QT bagi para warga dan teman-teman yang membutuhkan, termasuk Mas Mono sendiri yang ikut dengan para relawan MS Peduli. Saat menerapi salah satu relawan, terjadi sesuatu yang menarik. Teman relawan yagn diterapi itu mengatakan ada semacam sensasi struman listrik yang mengalir di tubuhnya. Saya mengatakan bahwa itu adalah terbukanya jalur meridian energi yang tersumbat. Arah sensasi struman listrik itu, saat dia tunjukkan, kurang lebih sesuai dengan meridian-meridian tubuh yang dipelajari para praktisi akupuntur.

Acara di Jatiasih tersebut dimeriahkan pula dengan kedatangan teman-teman anggota komunitas Muldok (Musang Lovers Depok) yaitu para pecinta musang lengkap dengan musang-musang mereka. Banyak yang senang dengan kehadiran musang-musang itu termasuk saya namun ada juga yang ketakutan. Yang jelas kehadiran musang-musang itu membuat suasana jadi meriah dan ceria.

Semoga bermanfaat

Related Links: Trauma Healing, apa itu?

Semoga bermanfaat

Kamus NLP

Reframing: membingkai ulang kejadian masa lalu yang negatif dan tidak menyenangkan agar tidak lagi menganggu di masa depan, dalam istilah agama mungkin bisa disamakan dengan “mengambil hikmah”

Emotional Anchor: Suatu gambar, gerakan, bunyi atau sentuhan yang bisa mengingatkan orang pada memori emosional di masa lalu, baik positif ataupun negatif. Emotional anchor bisa terjadi tanpa sengaja atau memang sengaja diciptakan dan dilatih. Dalam bahasa Indonesia seringkali disebut “jangkar emosi”.

Membunuh Penodong di Angkot

Peringatan: Ada adegan kekerasan yang sangat vulgar dalam tulisan ini

Dulu saya pernah mengajukan pertanyaan yang cukup provokatif di media social Facebook dan Twitter. Pertanyaan itu berbunyi “Bagaimana hukumnya apabila seseorang MEMBUNUH seorang penodong di angkot?”. Memang, saya mengajukan pertanyaan itu karena termotivasi oleh berita kematian empat orang penumpang angkot yang dibajak para penodong. Salah satu dari penumpang itu adalah sahabat dari seorang sahabat saya. Sahabat yagn menjadi korban itu baru berusia sekitar 40 tahunan dan sahabat sayalah yang mengimami para pelayat yang mensholatkan jenazahnya. Saking banyaknya orang yang ingin menyolati jenazah sang sahabat, jamaah sampai dibagi dua menjadi dua gelombang. Semoga beliau khusnul khatimah, diampuni segala dosa dan kekhilafannya, diterima ibadah dan amal shaleh-nya dan mendapat tempat terindah di sisiNya, aamiin.

Kembali pada masalah pembunuhan terhadap penodong di angkot. Anggaplah telah terjadi penodongan di sebuah angkot dan salah seorang korban nekat membela diri dan melawan para penodong. Terjadilah perkelahian dan di dalam angkot dan salah satu penodong terhempas keluar dari angkot yagn masih melaju. Naas bagi si penodong, saat dia terhempas keluar kepalanya menghantam tembok dan tewas seketika. Apakah orang yang membela dirinya saat ditodong itu bisa dianggap pembunuh? Tentu saja tidak namun orang itu tetap harus menjalani proses hukum terhadap tindakannya tersebut.

Lain halnya apabila seseorang memang ingin “memburu” dan menghabisi para penodong. Orang itu memang sejak awal ingin menghabisi para penodong yang berkeliaran di angkot. Dia memang sudah mempersiapkan diri menjadi hakim sekaligus eksekutor terhadap para penodong yang beraksi di angkot. Dia bahkan sudah mempersenjatai dirinya dengan senjata tajam seperti pisau lipat atau pisau belati. Dia sengaja naik angkot yang melewati rute-rute yang dianggap rawan penodongan dan pada jam-jam rawan seperti menjelang tengah malam. Suatu ketika, saat dia menaiki angkot, para penodong yang memang dia tunggu berdatangan hendak membajak angkot dan menguras harta para penumpang. Saat seorang penodong masuk ke angkot dan mengancam para penumpang, tiba-tiba dia langsung MENUSUK penodong itu dengan pisau yang dibawanya. Bukan hanya sekali namun dia menusuk penodong itu berulang kali. Belum puas dengan tusukannya, orang itu langsung memutar kepala si penodong 180 derajat sehingga terdengar suara gemertak tulang yang mengerikan. Darah pun berceceran di angkot tersebut.

Para penodong lain langsung kehilangan nyali melihat kejadian mengerikan itu. Mereka langsung berusaha menyelamatkan diri. Namun orang itu berhasil menangkap satu penodong yang lain dan membenturkan kepala si penodong ke sebuah tembok. Bukan hanya dibenturkan sekali namun kepala itu dibenturkan berulang kali tanpa ampun. Si penodong pun terkulai tak berdaya tanpa bisa melawan lagi. Orang itu pun mengambil sebuah batu yang cukup besar yang ada di dekat tembok itu dan menghantamkannya sekuat mungkin ke belakang kepala si penodong. Akhirnya, seperti temannya yang tadi menemui ajalnya di angkot, si penodong kedua itu pun tewas dengan kepala tak berbentuk lagi. Darah si penodong yang malang itu pun berceceran membasahi jalan.

Untuk kasus kedua ini, tentu saja tidak sama pembahasan hukumnya dengan yang pertama. Pada kasus pertama, penodong yang menjadi korban memang tidak ingin dibunuh oleh orang yang melawannya. Kejadian itu bisa dianggap kecelakaan meski tetap saja ada konsekwensi hukumnya.
Namun, pada kasus kedua, orang itu memang sengaja menjadi semacam “Jack The Ripper” bagi para penodong di angkot. Dia memang ingin membasmi kejahatan dengan caranya sendiri. Orang ini mungkin terinspirasi dari tokoh komik The Punisher yang doyan membasmi kejahatan dengan cara para penjahat. Mungkin ada diantara pembaca yang pernah menyaksikan saat The Punisher, dalam versi film yang diperankan Dolph Lundgren, ditanya rekannya saat dia dipenjara. “125  pembunuhan dalam waktu 5 tahun itu apa?” tanya rekannya. The Punisher pun dengan enteng menjawab “Work in Progress (kemajuan)”. Sebuah satir yang secara tidak langsung melontarkan kritikan pedas pada kinerja aparat keamanan di manapun.

Islam mengajarkan bahwa kehidupan adalah amanah sebagaiman tercantum dalam Al Maidah ayat 32 �Oleh karena itu kami tetapkan (suatu hukum) bagi bani Israel, bahwa: barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh seluruhnya. Orang yang dengan sengaja menghilangkan nyawa seseorang tanpa alasan yang haq (dapat dibenarkan secara syariat) akan menanggung dosa yang luar biasa besarnya, sama dengan membunuh semua manusia yang pernah ada di bumi ini. Dosa membunuh satu orang saja sudah sangat besar apalagi harus dikalikan sebanyak jumlah manusia yang pernah hadir di dunia ini. Tokoh kita yang melakukan pembunuhan para penodong di angkot itu mungkin di akhirat nanti termasuk orang yang menanggung dosa besar yang sangat mengerikan itu. Apalagi, bukan tidak mungkin sebenarnya para penodong itu melakukan kejahatan tersebut karena terpaksa akibat desakan ekonomi. Hukum memang harus ditegakkan namun bukan berarti segala cara bisa dihalalkan. Apalagi apabila penegakan itu dilakukan dengan menghabisi tanpa ampun para penjahat yang mungkin suatu saat bisa bertaubat apabila mereka bisa dibina dengan sebaik-baiknya.

Namun demikian, jika orang seperti itu benar-benar ada, maka harus diteliti apa penyebab dia melakukan perbuatan segila itu. Apakah yang membuatnya memiliki dendam kesumat yang hanya bisa dilampiaskan dengan menumpahkan darah meskipun bukan darah baik. Apakah yang membuatnya menikmati petualangan menghabisi orang-orang jahat satu demi satu? Apakah dia kecewa dengan para penegak hukum yang sepertinya hanya tahu menilap uang orang-orang yang terpaksa atau dipaksa damai saat terjadinya tilang namun tidak sigap saat kejahatan terjadi? Atau dia kecewa pada pemerintahan yang hanya mengurusi diri mereka sendiri dan lebih berpihak pada asing daripada rakyat? Atau yang jauh lebih buruk lagi apakah dia kecewa pada Tuhan yang belum juga membersihkan dunia ini dari orang-orang jahat sehingga dia mengambil peran tersebut dariNya tanpa izin? Semua kemungkinan memang bisa saja terjadi. Dan jika itu terjadi .. tentu solusinya tidak sederhana, semua harus dibongkar hingga ke akar-akarnya .. itu pun kalau ada keberanian dan kemauan.

Semoga bermanfaat, mohon maaf buat yang kurang atau tidak berkenan

Klinik Quantum Touch Indonesia

Terapi Pengobatan Alternatif Quantum Touch

Pelita Dzatiyah

IQRA, Membuka Cakrawala Membangun Peradaban

Zen Flash

The journey of a 1000 miles begins with a single step

Love Books A Lot Indonesia

Read A Lot, Share A Lot.

Iyut Syfa

Your Coffeemate

Yanuardi Syukur

Dimanapun Kamu Ditanam, Berkembanglah!

Bimosaurus

I'm My Own Enemy..

Firsty Chrysant

The Blue Chrysant Park ~ 파란 크리산 공원

Rek ayo Rek

Evia Koos

duaBadai

The alter ego of Disgiovery.com

E.L.O.K.46

Cogito Ergo Sum

faziazen

a Journal of MomPreneur

SR For SalmanRafan

cintai takdirmu~

Rumah Mbakje

mengeja kata membaca makna

Fathia's little cave

I sail the world through the words.

misbakhuddinmuhammad

Just another WordPress.com site

lijiun

Smile Always

Inilah Dunia Mita

menikmati detik demi detik hidup nie, karena terlalu indah jika hidup nie terlewatkan begitu saja

Merangkai Inspirasi

Bulu pena akan membawamu terbang, dengan kata-kata yang kau tulis seperti halnya bulu menerbangkan burung menuju langit. (Leonardo Da Vinci)

Sarah's World

Come, sit down here, and please enjoy my treats.

F I T T O Reflexology

100% Pijat Keluarga Sehat TERPERCAYA

Terapi Yumeiho Original Jepang

Dahsyatnya Terapi Yumeiho Untuk Mengatasi Sakit Tulang Pinggul

INSPIRASI DANU

sebuah ruang untuk saling berbagi inspirasi dan motivasi

Nataya Rizani

Memberi itu Menambah Rezeki

santipanon

Flowers are yellow, some are orange, and others are vermillion, serenepeacefulcalm

Blog Tausiyah275

Mari Berlomba-lomba Bermanfaat Bagi Orang Lain :-)

Sofistika Carevy

Another Carevy Karya

Berbagi itu Indah

Kesehatan dan pendidikan untuk kaum dhuafa dan yatim piatu

Keluarga Kecil Zawawi

Luthfi - Cindy - Aisyah

~Cruising through my Life~

journey since 1989...

hujantanpapetir

"Menulis adalah proses mengonversi perjalanan menjadi pengalaman."

Blog Prita

Campuran kenangan, buah pikir, dan hari-hari

mybeautterfly

My metamorphosis in heading back to Allah...

The hary.j.mansur Blog

My Life Documentation

Me and My Life

a dreamer, writer wanna be, and general practitioner

DUST

LEARN IN THE DESERT

Febriyan Lukito

sharing, caring and enriching life

Pray for Nasywa

Blog dukungan untuk kesembuhan Nasywa

Arip Blog

Harimau pergi berburu, burung harus terbang, dan protagonis kita ini terus menggerutu

waiting room

: dari senyap ruang tunggu, tempat aku menemukan-Mu

ANOTHER DAY

THE FICTION STORY

SAVING MY MEMORIES

another home of my mind

fluoresensi

Keinginan itu pasti terwujud, entah 1 tahun, 2 tahun hingga puluhan tahun kemudian. Bersabarlah #cumanmasalahwaktu

re-mark-a-blog

A Remarkable Blog by Justisia Nita

Majelis Ta'lim Basaudan

Tempat belajar Ilmu Agama Islam & Bahasa Arab

dewidyazhary

a silly-couple yarn